Selasa, 23 Februari 2010

Izin Untuk Melayani


Apakah Kita pernah merasakan bahwa kehidupan berutang sesuatu kepada kita karena kita lajang? Bukan seorang pasangan, tetapi setidaknya sebuah tempat? Kadang – kadang saya berpikir saya berhak untuk menemukan seseorang yang cocok dan merasa nyaman. Tetapi apakah saya benar – benar mempunyai hak itu? Saya tidak terlalu yakin lagi bahwa kenyamanan adalah hak saya. Tetapi saya merasa yakin dengan hal ini :
Melayani adalah panggilan saya. Bukan panggilan saya karena saya lajang.

Saya di panggil karena saya adalah miliknya.
Saya dipanggil untuk meneladani Kristus – dan Kristus adalah raja yang menjadi pelayan.



Ia berbicara sangat jelas mengenai tugas-Nya; “Tidaklah demikian diantara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:43-45).



Richard Halverson, mantan pendeta Majelis Tinggi Amerika Serikat berkata : Setiap hari sebelum saya meninggalkan studi saya, saya meminta Allah untuk “memakai saya seperti sebuah pakaian.” Pakaian saya tidak berarti apa – apa mereka adalah benda mati, dan ketika saya membukanya, pakaian tidak bisa berdiri atau berjalan atau bertindak dengan kekuatan mereka sendiri. Mereka roboh. Saya ingin satu – satunya semangat saya adalah Kristus yang hidup di dalam saya, Kristus yang memikirkan pemikiran – pemikiran-Nya, merindukan kehendak-Nya, dan mengasihi orang – orang yang dikasihi-Nya melalui saya.


Saya sebenarnya memiliki keinginan seperti Richard Halverson, tetapi kadang – kadang saya egois. Dari pada keinginan untuk dihibur atau diundang atau dimanja atau disenangkan. Saya ingin diakui terlebih dahulu, dan kemudian sedikit dimanja. Bahkan digereja, saya ingin mempunyai sebuah tempat yang cocok dengan saya – dan saya sering mencari tempat itu lebih dulu sebelum saya melayani orang lain.

Saya tahu terlalu banyak lanjang yang sepertinya “mogok” sampai Allah memberikan apa yang mereka inginkan. Mereka ingin melayani – jika mereka menikah. Tetapi saya ingin tahu apakah kita akan diperlengkapi untuk melayani di luar itu? Seorang perempuan lajang yang sangat sukses sekali waktu bercerita kepada saya, “Saya tidak mempunyai waktu untuk melakukan apapun untuk Allah saat ini, tetapi saya memberi lebih banyak uang dibandingkan orang – orang.” Aduh… keadaan saya tidak seperti ia (secara khusus saya mempunyai lebih waktu dibanding uang, dan tidak dalam jumlah yang berlimpahan juga), walaupun saya memahami bahwa kita paling mudah memberi jika kita hidup berkelimpahan. Tetapi mungkin Allah lebih menginginkan kita untuk belajar memberi dari kekurangan kita – bergantung pada-Nya untuk menggandakan pemberian itu dan menyediakannya untuk sang pemberi.

Jika kita melajang dengan sungguh – sungguh meneladani Yesus – jika kita benar – benar memberi diri kita izin untuk melayani – saya percaya dunia akan berubah. Atau setidaknya sudut kecil kita di dunia.



Apakah ada kebutuhan yang dapat kita sediakan? Apakah ada rasa sakit yang dapat kita rasakan? Apakah ada kata yang dapat kita sampaikan atau tugas yang dapat kita emban? Paulus menantang saudara – saudara dalam Kristus di Filipi untuk melayani satu sama lain :


Dan janganlah tiap – tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:4-7)


Apakah anda mau hidup seperti seorang raja? Raja saya mengambil kain dan membasuh kaki para pengikut-Nya. Saya ingin meneladani-Nya lebih dari keinginan saya untuk disukai. Saya ingin mengikut-Nya lebih dari keinginan saya untuk menemukan seseorang yang cocok. Dan lebih dari apa pun, saya ingin mendengarkan-Nya berkata kepada saya, “Baik sekali perbuatan-Mu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia.”

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucapkan syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12:28-29)


Apakah kita sangat menginginkan sesuatu yang belum menjadi milik kita sehingga kita tidak bisa menghargai semua yang ada?? Rahasianya bukanlah untuk menyangkal atau membuang keinginan dari hidup kita atau untuk mengizinkan keinginan itu untuk menjadi berhala yang menguasai kita - tetapi hanya untuk mengizinkannya berada bersama dengan gairah kita untuk hidup.


(Sumber Melajang itu asyik; Leigh McLeroy)

Sabtu, 20 Februari 2010

Iman Yang Melihat Tahta Di Atas Tahta


Karena iman, Musa meninggalkan Mesir dengan tidak takut kepada Firaun. Kalimat yang sangat pendek ini menyatakan kebesaran tindakan Musa. Siapakah Firaun? Orang yang paling berkuasa di seluruh muka bumi. Mengapa Musa tidak takut kepadanya? Karena Musa melihat adanya kuasa di atas kuasa, tahta di atas tahta, kerajaan di atas kerajaan. Inilah ciri khas para nabi, para hamba Tuhan yang melayani Tuhan. Karena dia menyaksikan adanya tahta di atas tahta, maka dia tahu, tahta dunia adalah tahta yang sementara. Suatu hari nanti, penguasa yang duduk di atas tahta dunia akan turun, karena kuasa yang dia miliki bukanlah kuasa yang kekal. Maka Musa bertekad menjalankan kehendak Tuhan, Raja di atas segala raja, dengan tidak takut.

Sejarah membuktikan bahwa apa yang Musa lakukan itu benar adanya: di manakah Firaun sekarang? Tidak ada lagi. Di manakah pengaruh Musa? Terus berlangsung di dunia. Hal itu mengajarkan kepada kita bahwa di suatu zaman, ada orang yang memiliki iman dan visi yang menerobos semua zaman. Inilah yang kita pelajari dari Alkitab. Musa bukan memandang pada kuasa, kemuliaan, kehormatan, atau kekayaan dunia yang sementara, melainkan melihat apa yang mungkin dia capai, yang dapat memberi pengaruh kekal di dalam sejarah. Musa melihat ada kehendak Allah yang jauh lebih tinggi daripada kehendak Firaun, ada tugas dan mandat yang Allah percayakan kepadanya. Hal-hal seperti inilah yang dari zaman ke zaman membuat adanya orang-orang yang mengaitkan diri mereka dengan rencana Allah yang kekal, yang tidak mungkin digeser oleh pentas politik yang ada di dalam sejarah. Karena siapakah raja-raja yang mewarisi kerajaan-kerajaan besar di dalam sejarah? Tak lain hanyalah keturunan orang berdosa yang secara 'kebetulan' dilahirkan di dalam keluarga kerajaan, sehingga mereka mewarisi kedudukan yang tinggi. Namun hanya orang-orang yang tahu akan kuasa Tuhan yang kekal sajalah yang tidak akan silau terhadap kuasa dunia.
Page 1 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

Kekekalan yang Melampaui Kerjaan dan Tahta Dunia Suatu kali, Beethoven, si musikus, dan Goethe, si sastrawan, yaitu dua tokoh besar di dalam sejarah dan kebudayaan Jerman, berjalan-jalan sambil berdialog di suatu taman di Wina, Austria. Tiba-tiba terdengar suara yang ramai, sehingga mereka berdua berhenti berbicara sambil memncari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ternyata Rudolf, Pangeran Austria masa itu, melintas dengan mengendarai kereta emas dengan rodanya yang begitu indah. Dan semua orang mengelu-elukannya: "Rudolf, Rudolf!" Mengetahui itu, Goethe segera meninggalkan Beethoven, berjalan ke depan untuk menantikan Pangeran lewat, diapun segera memberi hormat kepadanya. Sedangkan Beethoven, tidak seperti orang-orang lain yang begitu mendengar keramaian langsung mencari tahu, karena dia tetap duduk di sana dengan tenang.
Setelah Goethe memberi hormat kepada Pangeran Rudolf, Pangeranpun balas memberi hormat kepadanya, karena sastrawan besar yang berdiri di depannya ini pernah menjadi gurunya. Selesai Sang Pangeran membalas hormat Goethe, dia melihat Beethoven ada di sana. Di luar dugaan semua orang, Sang Pangeran justru turun dari kereta kudanya, menghampiri Beethoven dan memberi hormat kepadanya. Beethoven pun balas memberi hormat kepada Pangeran. Padahal Goethe, penulis Faust, dan Beethoven, penulis Symphony No. 9, sama-sama adalah tokoh yang agung, tetapi mereka berdua sangat berbeda: Goethe memberi hormat kepada Pangeran, Beethoven justru menerima hormat dari Pangeran.
Setelah Pangeran kembali ke kereta dan meninggalkan keduanya, mereka melanjutkan pembicaraan. Goethe bertanya, "Mengapa tadi kamu tidak memberi hormat kepada Pangeran, tapi Pangeranlah yang menghampirimu dan memberi hormat kepadamu?" Jawabnya, "Orang yang seperti Rudolf sering ada, namun orang yang seperti saya jarang ada. Rudolf menjadi Pangeran, orang ternama, karena dia dilahirkan di dalam keluarga kerajaan, dia mewarisi semua itu secara otomatis; sedangkan saya, Beethoven menjadi ternama bukan karena saya mewarisinya dari orangtua. Kesuksesan saya bukan saya peroleh secara otomatis melainkan melalui perjuangan yang berat. Itu sebabnya saya rasa saya tidak perlu menghampiri dan memberi hormat kepadanya. Karena orang yang seperti Rudolf memang banyak, tapi Beethoven hanya satu."
Saya sangat terkesan dengan tulisan itu, karena di sana tersimpan pengertian dan kesadarannya tentang I am myself, I gain my own respect, I achieve my own success, I struggle until today. Siapa itu raja, Pangeran, orang yang berkedudukan tinggi di istana? Mereka hanyalah orang-orang yang mewarisinya dari keluarga mereka. Suatu kali, Beethoven mengajukan dispensasi, dan di akhir surat permohonannya dia membubuhkan tanda tangan "Ludwig von Beethoven". Dalam kebudayaan Jerman terdapat dua jenis nama: van (keturunan bangsawan) yang dihormati dan von (identik dengan istilah from dalam bahasa Inggris), yang tidak terhitung apa-apa, selain sekadar menandakan dia berasal dari kota mana. Surat petisi Beethoven itu ditolak, karena dia menyandang nama von bukan van. Namun sekarang ini, suapa yang peduli penyandang nama van adalah orang yang berasal dari istana atau keluarga bangsawan? Tidak ada. Meski Beethoven tidak memiliki darah bangsawan, juga tidak mewarisi kedudukan dari kerajaan, namun dia telah menjadi orang yang lebih mulia ketimbang raja-raja di Jerman. Adakah yang masih mengingat raja-raja seperti Pangeran William atau Rudolf? Tidak. Namun seluruh dunia, tidak peduli bangsa apapun, mengingat Beethoven, karena semasa hidupnya dia telah
mencapai sesuatu yang melebihi apa yang telah dicapai kerajaan. Yang paling ironis adalah: waktu Jerman berperang dengan Perancis, sebelum orang Perancis maju berperang, mereka memperdengarkan lagu-lagu Beethoven (yang adalah orang Jerman) terlebih dahulu. Meski kedua bangsa itu bermusuhan, tapi waktu mendengar lagu-lagu Beethoven, orang Perancis mendapat semangat untuk berperang. Ini membuktikan adanya unsur yang melampaui zaman, tempat, waktu, kerajaan dan kuasa dunia. Unsur itulah yang ditangkap oleh semua nabi yang memampukan
Page 2 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

Mereka memandang segala sesuatu yang di dunia ini, termasuk tahta raja, sebagai sesuatu yang sementara adanya, tapi yang ada di sorga, sebagai sesuatu yang kekal adanya. Di manakah Suharto, Habibie, Gus Dur? Sudah tak berada di atas tahta. Semua mereka hanya berkuasa untuk sesaat, demikian juga suatu hari nanti Megawati pun akan turun tahta. Namun Tuhan kita tidak pernah turun dari tahta-Nya, amin?
Pada waktu saya berkhotbah kepada dua puluh dua ribu orang di Manila dengan tema "The Delivery of God in the Time of Crisis" (Pertolongan Tuhan di Masa Krisis) saya berkata: the whole country of Philippines, starting from the top, the President, until you, the people: the whole nation should repent. Saat itu, Filipina memang sungguh-sungguh berada di dalam krisis. Enam buah universitas yang paling bergengsi di negara itu sudah dibeli oleh orang-orang dari TM (Transcendental Meditation). Bayangkan, universitas-universitas negara Katholik itu dibeli oleh orang India yang beragama Hindu campur Mistis. Yayasan yang memilikinya berhasil menjual satu-persatu universitas - universitas itu di bawah tangan. Korupsi di negara itu begitu hebat, sementara rakyat hidup menderita. Di saat seperti itulah saya menyampaikan khotbat: seluruh bangsa Filipina, mulai dari Presiden sampai rakyatnya, harus bertobat, karena tanpa bertobat tidak ada pertolongan dari Tuhan.
Di sela-sela khotbah yang berlangsung selama lima puluh menit itu, berulang-kali terdengar tepukan tangan yang meriah, bahkan ada beberapa kali saya harus berhenti berkhotbah. Khotbah itu bahkan diliput oleh FEBC dengan sangat profesional. Di akhir khotbah, saya memanggil orang bertobat dan sungguh-sungguh berdoa bagi Filipina, ada 2.462 orang yang maju ke depan. Itulah salah satu rekor yang saya capai, dimana ada ribuan orang bertobat di dalam satu kebaktian.
Seusai khotbah, panitia yang terdiri dari orang Filipina, orang Amerika dan beberapa negara lainnya itu mendatangi saya dan berkata: "Stephen, we are going to cut off some sentences in your sermon." Saya bertanya, "What part?" Jawab mereka, "When you say the president should repent, that sentence is very dangeraous, karena khotbah Bapak akan disiarkan ke seluruh Filipina melalui Channel 4 (yaitu channel yang sangat terkenal di Filipina)." Saya lalu bertanya lagi "Is that sentence wrong?" Jawab mereka "There is nothing wrong. But you should know that he is a President" Saya menjawab, "I know, why could I not tell the President to repent?" Mereka menjawab "You are going to come here again, right?" Akhirnya saya menjawab "Up to you, you'll be responsible to God" Dan jawab mereka, "Ok, we are responsible to God" Dan jawab mereka, "Ok, we are responsible to God. We are going to cut it off, because next time you will come again, probably he is no longer a President." Aggota panitia itu menjawab, "Ok, he has been there for more than twenty years." Tapi saya membalas, "My God has been there for thousands of years." Akhirnya mereka tetap memotong bagian itu dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Jika hari itu mereka tidak memotong, dan waktu khotbah itu disiarkan, Marcos mendengarnya dan bertobat, mungkin dia tidak mengalami nasib yang begitu tragis.

Cara Tuhan Bekerja, Sangat Berbeda Dari Cara Manusia
Memanggil orang untuk bertobat adalah intisari, semangat, dan prinsip dari semua nabi yang diutus Tuhan. Pada saat nabi-nabi dipanggil, mereka adalah orang-orang kecil, remeh, hina, dan sederhana. Begitu juga saat Raja Daud dipanggil, dia adalah anak yang paling kecil di keluarganya. Samuel berkata kepada ayah Daud, "Panggillah semua anakmu kemari." Isaipun memanggil anaknya yang sulung, yang kedua, yang ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh dan katanya, "Semua anakku sudah ada di sini." Tapi setelah Samuel memandang anak sulungnya, hatinya berkata 'no', begitu juga dengan anaknya yang kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh. Hatinya selalu berkata 'no'. Isai mengira anak yang bakal menjadi raja tentu adalah anaknya yang sudah besar, tetapi cara Tuhan memandang berbeda.
Page 3 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

Tuhan berkata kepada Samuel, tanyakan kepadanya, "Masih adakah anak yang lain?" Jawab Isai, "Ya, masih ada seorang anakku di ladang, tapi dia masih kecil". Kata Samuel, "Coba panggil dia!" Tuhan dapat saja memanggil anak yang paling kecil untuk melakukan perkara yang paling besar, karena itu jangan meremehkan anak kecil. Kadang-kadang kita berpikir, inilah anakku yang paling penting, paling berguna, tapi Tuhan dapat saja berkata, "Tidak, Aku mempunyai rencana lain". Itulah yang terjadi pada Daud ketika dia masih remaja. Kata ayahnya, "Dia adalah anak yang paling muda, untuk apa dipanggil pulang?" Tapi kata Samuel, "Panggil saja dia pulang." Isaipun taat. Begitu Daud pulang, Samuel memandang Daud dan Daud memandang Samuel, dan Tuhan berkata di dalam hati Samuel, "Inilah orang yang Aku pilih untuk menjadi Raja, mengganti Saul yang tidak setia." Samuel pun menuangkan minyak ke atas kepala Daud; mengurapinya. Namun Daud masih harus menunggu puluhan tahun sebelum ia naik tahta.

Cara Tuhan bekerja memang sangat berbeda dengan cara manusia.
Pada saat Tuhan memanggil Daud yang paling kecil, yang paling muda dan yang paling lemah di antara saudaranya, Daud sadar bahwa dirinya tidak layak. Sikap inilah yang membuat dia dilayakkan. Barangsiapa merasa dirinya layak, Tuhan tidak melayakkan dia, sebaliknya, barangsiapa merasa dirinya tidak layak, Tuhan akan melayakkan dia. Daud berkata, akulah yang paling kecil di antara kaum keluargaku, aku tidak layak menjadi raja. Dia menuliskan di dalam Mazmur: "Tuhan, aku tidak layak, mengapa Kau memanggil aku?" Lalu Tuhan berfirman kepadanya dan selesai Tuhan berfirman, Daud mulai menyadari bahwa ini adalah anugerah Tuhan, "Aku tidak boleh melupakan, membuang atau mengabaikannya begitu saja".
Maka katanya, "Tuhan, biarlah keturunanku turun-temurun menjadi raja, tak seorang pun yang tidak naik tahta." Dengan lain kata, keturunannya akan terus menjadi raja. Bukankah tadinya dia merasa tidak layak, mengapa sekarang malah meminta Tuhan membuat keturunannya terus duduk di atas tahta? Karena dia sudah menangkap apa yang Tuhan kehendaki. Apakah unsur iman yang membawanya datang kepada Tuhan? Tuhan selalu mengangkat orang yang remeh, yang hina, yang merasa dirinya tidak layak untuk melakukan pekerjaan-Nya.
Musa adalah seorang bayi yang dibuang ke sungai, tapi Tuhan memakainya untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa. Waktu Musa dipakai oleh Tuhan, sama halnya seperti nabi-nabi lain, dia tahu bahwa dia sedang menjalankan pekerjaan Tuhan. Karena itu dikatakan di Ibrani 11, bahwa dia tidak takut pada kemarahan Firaun.

Cara Tuhan Mendidik Musa, Sebelum Memakainya
Perhatikan: Musa dua kali meninggalkan Mesir. Kali pertama, saat dia berumur empat puluh tahun, setelah dia membunuh seorang Mesir, sehingga ia merasa ketakutan dan meninggalkan Mesir. Kali kedua, Tuhan mengutus dia kembali ke Mesir untuk menghadap Firaun dan memintanya membebaskan seluruh bangsa Israel keluar dari Mesir. Kali itu, usianya sudah delapan puluh tahun. Riwayat hidup Musa dapat dibagi menjadi tiga kali empat puluh tahun: empat puluh tahun yang pertama dia hidup di istana, empat puluh tahun yang kedua dia hidup di padang belantara, dan empat puluh tahun terakhir dia hidup bersama orang Israel di padang belantara. Empat puluh tahun ditambah empat puluh tahun ditambah empat puluh tahun sama dengan seratus dua puluh tahun - itulah umur Musa. Empat puluh tahun yang pertama dia belajar di istana, menikmati kekayaan, kemuliaan, kehormatan, dan mempelajari semua ilmu pengetahuan di Mesir. Ini bukan kalimat bualan atau omong kosong melainkan kalimat yang tertulis di Kitab Suci, yaitu wahyu yang Roh Kudus berikan kepada penulis Kisah Para Rasul. Musa telah mempelajari semua ilmu orang Mesir di kerajaan terbesar dengan
Page 4 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

kuasa yang terbesar. Dia mempelajari astronomi, aristektur, fisika, dan ilmu-ilmu tertinggi di zamannya. Musa dibesarkan di negara yang paling penting, yang memiliki peninggalan Piramida. Bahkan sampai hari ini kita mengakui kebudayaan Mesir tak tersaingi oleh kebudayaan manapun. Di sanalah dia mendapatkan semua pengetahuannya. Di masa itu, dia merasa "I am something, saya hebat, saya penting".
Tapi Tuhan memukul dia, dan membiarkan dia berada di padang belantara selama empat puluh tahun. Saat itulah dia sadar: "Actually I am nothing". Setelah dia mempelajari pelajaran "I am nothing" selama empat puluh tahun, barulah panggilan Tuhan tiba atas dirinya: "Aku akan memakaimu. When you say you are nothing, that is the time when I want to use you. When you say I am something, I am going to train you, to discipline you and to cast you out". Di masa empat puluh tahun yang terakhir, dia memimpin orang Israel. Barulah dia sadar bahwa pengetahuan yang dia miliki tak terpakai, bahwa semua ilmu yang dia pelajari berbeda dengan hal rohani.
Kadang kita kira kita sudah pandai berbisnis, maka kita melayani pekerjaan Tuhan dengan cara bisnis. Namun saya ingatkan itu: itu berbahaya! Kadang kita masuk ke jalur pelayanan rohani dengan bekal sistem organisasi dunia, memimpin hal rohani dengan administrasi dunia. Namun saya ingatkan: itu berbahaya! Jendral Simatupang berkata kepada saya: "Untuk membereskan TNI, saya hanya membutuhkan tiga tahun, tapi untuk membereskan PGI, sudah tiga puluh tahun masih belum beres."
Ternyata, soal rohani tidak terlalu mudah untuk diurus. Gereja berbeda dengan masyarakat, memimpin orang Kristen berbeda dengan mempimpin tentara yang sudah memiliki peraturan, di mana hanya dengan disiplin semuanya akan berjalan dengan baik. Tetapi mengurus hal rohani begitu sulit.
Maka selama empat puluh tahun Musa memimpin orang Israel, berapa banyak air mata, keluh kesah, kesusahan yang dia alami, tak seorangpun yang tahu. Dia hanya dapat datang kepada Tuhan dengan berkata, "Inilah umat-Mu, umat-Mu berbuat ini, berbuat itu terhadapku." Jawab Tuhan, "Kau mendapat kesulitan dari umat-Ku? Oke Aku binasakan mereka dan jadikan keturunanmu kerajaan yang lebih besar dari mereka." Bagaimana reaksi Musa? Adakah dia berkata, "Kerajaanku? Kau akan membinasakan mereka dan menjadikan keturunanku sebagai the kingdom of Moses? Inilah kesempatan bagus bagiku untuk menjadi besar. Ini ide yang bagus Tuhan, bunuhlah mereka agar anak cucuku dapat membangun kerajaan"? Tidak! Mungkinkah keturunan Musa tak serusak orang-orang sezamannya? Mungkin. Tapi apa kata Musa? "Jangan Tuhan, jangan binasakan mereka. Kalau Kau tidak mendengar permintaanku, coretlah namaku dari kitab hayat-Mu; bunuh saja aku."
Musa tidak pernah menghendaki keluarganya jaya dan orang lain binasa. Itu sebabnya Alkitab mengajarkan dengan jelas, Musa adalah orang yang setia di seluruh keluarga Israel. Kalimat yang tercatat di surat Ibrani itu sudah kita bahas dua tahun yang lalu. Waktu Tuhan melihat hati Musa begitu mencintai umat-Nya, maka Dia tidak jadi membinasakan Israel. Tetapi Musa belajar satu perkara: I am not able, I am not capable, I am not good enough, I am not powerfull enough to guide this people. Umat Tuhan sangat sulit dipimpin, karenanya selama empat puluh tahun dia belajar tentang "I am nothing, only God is everything". Siang malam dia bersandar kepada Tuhan, meski dia begitu sering menerima sungutan dan caci-maki. Dia dilawan, diejek, dan ditolak oleh bawahannya, tapi bagaimana akhirnya? Waktu Musa mati, orang Israel menangisi dia selama puluhan hari untuk mengingat pimpinannya. Inilah pemimpin rohani: waktu dia hidup, dia ditolak, diejek, dilawan, dan dia menderita, tapi setelah dia mati barulah orang mengingat kebaikannya.
Para penafsir mempunyai pendapat yang berbeda mengenai pertanyaan apakah Ibrani 11 ayat 27 di atas mengacu pada kali pertama atau kali kedua Musa meninggalkan Mesir. Awalnya Musa tinggal di istana, tapi kemudian, karena dia membunuh orang Mesir, dia meninggalkan istana. Itulah kali pertama dia meninggalkan Mesir. Kali kedua dia meninggalkan Mesir dengan memimpin bangsa Israel, dan saat itu dia harus berhadapan dengan Firaun. Firaun mendapat sepuluh tulah dari Tuhan. Maka ayat: 'Karena
Page 5 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

iman, Musa meninggalkan Mesir dengan tidak takut pada kemarahan Firaun' ini mengacu pada kali pertama atau kali kedua dia meninggalkan Mesir? Secara logika, ayat ini tidak mengacu pada kali pertama dia meninggalkan Mesir, karena kali itu dia pergi sebab takut dibunuh orang Mesir. Ayat itu sepertinya mengacu pada kali kedua dia meninggalkan Mesir, karena kali itu dia membawa serta seluruh bangsa Israel. Jumlah pria, tak termasuk wanita dan anak-anak, adalah enam ratus orang. Ini adalah migrasi terbesar di sejarah. Long march yang dipimpin Mao Tse-Tung hanya menempuh jarak seratus ribu kilometer dalam waktu sepuluh tahun, dan jumlah pengikutnya pun sedikit, tak dapat dibandingkan dengan Musa. Di manakah kita dapat menemukan pemimpin yang sebesar Musa? Adakah orang yang memimpin seluruh bangsanya keluar dari tempat perbudakan seperti Musa? Tak pernah ada di sejarah. Seperti disebut di atas, ada penafsir yang berpendapat bahwa ayat 27 bukan berbicara tentang kali kedua, melainkan kali pertama Musa meninggalkan Mesir. Mengapa? Bukankah kali pertama dia meninggalkan Mesir karena dia baru saja membunuh orang Mesir dan takut ditangkap? Tapi tertulis di sini, dia meninggalkan Mesir, karena dia tidak takut pada Firaun. Mengapa dia tidak takut kepada Firaun? Karena dia tahu, Mesir bukan rumahnya, agama orang Mesir bukan agamanya, Mesir bukan tempat yang kekal, di mana dia boleh melayani Tuhan. Maka dia berkata: aku mau meninggalkan tempat ini. Lalu mengapa dia berani membunuh orang Mesir? Justru karena dia tidak takut pada Firaun. Karena dia tahu, Tuhan lebih tinggi daripada orang Mesir. Sayangnya, dia melayani Tuhan dengan cara nafsu, cara kedagingan, cara duniawi. Dia menyaksikan orang Mesir berani menyiksa bangsanya, maka dia membunuh orang Mesir itu. Kalau saja Musa setiap hari membunuh satu orang Mesir, berapa banyak orang yang dapat dia bunuh dalam satu tahun? Tiga ratus enam puluh lima orang. Berapa banyak orang Mesir yang dapat dia bunuh dalam sepuluh tahun? Tiga ribu enam ratus lima puluh orang. Berapa banyak orang yang dapat dia bunuh dalam waktu empat puluh tahun? Belasan ribu orang saja. Kalau kita melayani Tuhan dengan cara kedagingan, cara nafsu, cara manusia, kita hanya mendapatkan sedikit, tapi kalau kita menggunakan cara Tuhan, Tuhan akan menyatakan kebesaran-Nya. Kalau Musa memakai cara kedagingan: setiap hari membunuh satu orang, tak sampai sepuluh hari dia tentu sudah ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Tapi ketika waktu Tuhan bekerja, kita menyaksikan Musa berhasil memimpin orang Israel merayakan hari Paskah yang pertama di Mesir dan kemudian keluar dari tanah perbudakan itu. Jadi, ayat 27 bukan mengacu pada kali kedua melainkan kali pertama dia keluar dari Mesir. Kali itu, sesudah dia keluar dari Mesir, Tuhan menggeletakkan dia; tidak memakai dia selama empat puluh tahun. Semua pengetahuan yang pernah dia pelajari sepertinya tidak berguna sama sekali: dia pandai berpidato, fasih lidahnya hebat; tapi yang mendengar pidatonya hanyalah kawanan kambing, apapun yang dia katakan hanya dijawab dengan 'mbek, mbek'. Baru setelah empat puluh tahun, Tuhan menyatakan diri kepada Musa - di mana Allah sendiri yang berinisiatif mmengadakan encounter dengannya. Itulah wahyu, yaitu Firman Tuhan yang pertama kali datang kepada seorang yang kemudian diberi mandat untuk menuliskan asal-usul dunia. Di dalam hal ini, Musa jauh lebih penting dari Abraham, Henokh, Nuh dan orang-orang yang hidup sebelum dia. Apa sebabnya? Dialah orang yang pertama Tuhan percayakan untuk menulis Kitab Suci, sehingga dunia tahu bagaimana alam semesta ini diciptakan, bagaimana manusia pertama berdosa, dan janji Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Semua ini tertulis di lima kitab yang paling awal di Alkitab, yang ditulis oleh satu orang yang bernama Musa.

Cara Tuhan Memakai Musa
Memang di dalam hal beriman, Abrahamlah bapa iman kita, tapi dalam hal mengerti Firman Tuhan, Musalah yang terpenting, karena dia adalah orang pertama yang Tuhan percayakan untuk
Page 6 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

menuliskan kebenaran yang Tuhan wahyukan untuk diketahui oleh manusia. Maka saat Musa pertama kali menerima wahyu, Tuhan berkata, "Musa, Musa, tanggalkanlah kasutmu. Karena tempat di mana kau berdiri adalah tempat yang 'suci'." Istilah 'suci' itu dalam bahasa asli Ibraninya muncul pertama kali di Keluaran 3. Selanjutnya, istilah 'suci' memenuhi seluruh Kitab Suci. Kitab ini disebut Kitab Suci karena di dalamnya penuh dengan istilah 'suci'. Istilah 'suci' yang pertama muncul di sejarah manusia keluar dari mulut Tuhan Allah sendiri dalam panggilan-Nya kepada Musa, orang yang pertama menerima wahyu.
Waktu Musa mendengar panggilan itu, dia merasa kaget sekali, karena selama empat puluh terakhir dia hanya mendengar suara 'mbek, mbek' dari kawanan domba dan tiba-tiba pada saat itu dia mendengar suara yang berbicara kepadanya. Siapa yang berbicara? Dihadapannya terdapat api yang membakar semak duri. Waktu dia perhatikan, dia merasa heran, apinya besar, tapi semak duri itu tidak terbakar. Inilah inspirasi yang begitu besar, begitu penting, yang mengajarkan kepadanya: meski anak-anak Allah berada dalam penganiayaan, mereka tidak akan kehilangan iman. Betapa besarpun api membara, Tuhan tetap dapat memelihara semak duri itu. Apa itu semak duri? Sampah, sesuatu yang tidak berguna. Ketika orang Israel berada di tanah Mesir, mereka bagaikan sampah yang tak berguna. Ketika orang Israel berada di tanah Mesir, mereka bagaikan sampah yang tak berguna. Mereka diejek, diolok, dianiaya, dijadikan budak. Tetapi Tuhan berjanji I am with you, you will be preserved forever. Musa melihat semak duri, tapi dia tak melihat Allah, hanya melihat suatu sign, tanda bahwa Allah ada di dalam panggilan itu. Perintah-Nya: "Kembalilah ke Mesir!" Tanya Musa, "Tuhan, justru karena aku tak mau hidup di Mesir, maka aku tinggalkan tempat itu, mengapa Kau malah menyuruhku kembali ke Mesir?" Jawab Tuhan "Stand before the rulers!" Nabi-nabi diberi kekuatan dan mandat untuk berani berdiri di hadapan pemimpin-pemimpin dunia.
Kadang-kadang Tuhan memberi kekuatan, kesempatan kepadamu yang melayani-Nya di hadapan semua pemimpin dunia, menyuruh mereka mendengar kata-katamu. Tuhan menyuruh Musa untuk mengatakan kepada Firaun, "Biarkan umat-Ku keluar dari Mesir untuk menyembah Allah yang sejati, bukan berbakti kepadamu, bukan menyembah patung-patung yang kau sembah atau menyembah ilah-ilah yang ada di Mesir." Inilah jawaban bagi Musa, jawaban yang membuatnya tahu Allah itu Esa, Allah itu Mahatinggi, bahwa semua dewa di Mesir palsu adanya, dan bahwa semua ilah menghujat Allah. Allah yang Esa itu memberi perintah kepadanya untuk: go, stand before Pharaoh, stand before the rulers of Egypt and tell him, let My people go so they can worship their God in the wilderness. Itu sebabnya Musa kembali ke Mesir.
Musa kembali ke Mesir dalam status dan tanpa kartu penduduk. Berarti dia sudah tidak berhak tinggal di Mesir, tak berhak menempati kamar di istana, bahkan dia berstatus sebagai orang buangan. Empat puluh tahun dia meninggalkan Mesir, sehingga usianya sudah tua, tapi dia tak minder, tak takut, karena dia kembali dengan mandat sorga, dengan kuasa Allah, dengan berita yang Allah berikan kepadanya, maka dia berdiri dan berkata-kata kepada Firaun. Saat itu, statusnya secara manusia berada di bawah tahta, tapi bila ditinjau dari wibawa dan rencana Allah dia berada di atas tahta. "Firaun, demikian firman Tuhan, let My people go! Tak seorang pun berani mengucapkan kalimat seperti itu kepada Firaun atau kepada raja. Maka tanya Firaun, "Apa katamu?" Jawab Musa, "Demikianlah Firman Tuhan Yehovah, biarkan umat-Ku pergi. Mereka mau menyembah Allah bukan menyembah patung dari dewa-dewa yang kau sembah."
Kalau kita menelusuri dan membongkar kekayaan orang Mesir, kita akan menjadi begitu kagum. Khususnya pada saat kuburan Tutankhamen ditemukan, para arkeolog pun tercengang-cengang, karena emas dan perhiasan yang terdapat di sana begitu sempurna. Kemegahan kuburan itu memang tak pernah terbayangkan. Karena sebelumnya memang ada penemuan-penemuan kuburan yang lebih besar, tapi barang-barangnya sudah habis dicuri. Pada saat kuburan raja yang masih muda itu ditemukan, barulah para arkeolog sadar, betapa megahnya kebudayaan Mesir. Pada saat Musa menghadap Firaun, tentu dia
Page 7 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

harus berbekal kuasa yang lebih besar dari Firaun, kuasa yang berasal dari Raja di atas raja - Tuhan Allah sendiri. Makna Keluarnya Bangsa Israel dari Mesir
Di Keluaran 12 tertulis, "Musa, sekarang Aku memerintahkan kau menjadikan bulan ini sebagai bulan pertama. Karena di bulan inilah kamu akan keluar dari Mesir. Di bulan ini, kamu harus makan roti tak beragi, membersihkan hatimu, mempersiapkan diri selama tujuh hari untuk merayakan hari raya Paskah." (Ibr. 11:28). Untuk mengerti Ibrani 11:28, kita perlu kembali ke Keluaran 12. Di Kejadian 12 terjadi peristiwa 'keluaran' dan di Keluaran 12 juga terjadi peristiwa 'keluaran'. Apa maksudnya? Di Kejadian 12, ada kisah Abraham keluar dari Mesopotamia, tapi di Keluaran 12 ada kisah orang Israel keluar dari Mesir. Mengapa mereka keluar dari Mesir? Sebab ada panggilan. Mengapa ada panggilan?
Sebab ada rencana Allah. Allah memanggil Abraham keluar dari Mesopotamia, dan Allah juga memanggil orang Israel keluar dari Mesir, karena Allah mau menyelamatkan mereka. Keselamatan dari Allah datang melalui panggilan-Nya kepada Musa: "Beritahukan kepada orang Israel, jadikan bulan ini sebagai bulan pertama." Padahal menurut penanggalan Mesir, bulan itu bukan bulan pertama, tapi Tuhan berkata, inilah bulan pertama yang Kutetapkan. Karena bulan ini adalah bulan keselamatan, bulan keselamatan harus dijadikan bulan pertama, bulan di mana kamu keluar dari dosa, kamu tidak lagi dibelenggu oleh dosa.
Di Surabaya, ada seorang yang setiap tahun merayakan dua kali ulang tahun. Orang bertanya kepadanya, mengapa kau merayakan ulang tahun dua kali? Jawabnya, satu kali adalah ulang tahun dimana aku dilahirkan oleh ibuku, satu lagi adalah ulang tahunku dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Setiap ulang tahun kelahirannya, dia tak pernah mengundang siapapun, tapi setiap ulang tahun kelahiran barunya, keselamatannya, dia mengundang banyak orang datang ke rumahnya, karena menurutnya, inilah ulang tahun yang sesungguhnya.
Saya kira, orang Kristen harus mengerti bahwa kita dilahirkan dua kali, tapi hanya mati satu kali. Sedangkan orang-orang yang tidak mengenal Kristus, mereka dilahirkan satu kali, tapi mati dua kali. Apa maksudnya? Waktu aku dilahirkan oleh ibuku, itulah kelahiran yang pertama. Kelahiran yang kedua terjadi saat Roh Kudus melahirbarukan aku. Kelak, aku hanya mengalami sati kali kematian. Setelah itu, adakah kematian yang kedua? Tidak ada, karena aku akan berjumpa dan tinggal beserta
Tuhan sampai selama-lamanya. Itulah yang dimaksud lahir dua kali, tapi hanya mati satu kali. Siapakah orang yang mengalami hal tersebut? Orang Kristen. Tapi orang yang tidak menerima Kristus sebagai Tuhannya hanya lahir satu kali, tapi mati dua kali. Mengapa? Karena setelah mereka mati secara jasmani, mareka akan dimasukkan ke neraka, mengalami kematian yang kedua untuk selama-lamanya. Jadi, mana yang lebih bagus: orang yang lahir dua kali, tapi hanya mati satu kali; atau orang yang lahir satu kali, tapi mati dua kali? Tentunya yang lahir duakali. Dan kelahiran yang kedua itulah yang penting. Karena pada waktu kita dilahirkan kembali, itulah hari pertama kita hidup di hadapan hadirat Tuhan. Sebelum itu, kita hanya hidup di dunia, hidup di hadapan manusia. Karena itu Tuhan berfirman: beritahukan kepada orang Israel, inilah bulan pertama, karena di bulan inilah Aku akan mengeluarkan kamu dari Mesir untuk memulai hidup baru. Keluar dari Mesir mengibaratkan orang Kristen yang keluar dari belenggu setan, menerima hidup yang baru, dan tidak lagi menjadi budak di bawah kuasa Firaun. Firaun mewakili setan dan perbudakkannya mewakili ikatan dosa yang membelenggu hidup kita. Tuhan berfirman: "This is the first month, because this month I deliver you from Egypt. Sediakan
Page 8 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

domba atau kambing." Jadi, syarat-syaratnya: sediakan domba atau kambing, harus yang jantan, yang sulung, yang berusia satu tahun, yang sehat, sama sekali tak sakit atau bercacat-cela. Itulah tuntutan Allah. Apa artinya? Domba yang menggantikan kelemahan kita haruslah yang tidak berkelemahan. Doma yang menggantikan kita yang tidak sempurna, tidaklah boleh yang bercacat cela atau tidak sempurna. Mengapa harus menggunakan domba yang berumur satu tahun? Ketika seseorang mencapai dua puluh sampai tiga puluh persen hidupnya itulah masa dimana kesehatannya paling prima. Jadi, kalau umurmu dapat mencapai seratus tahun, maka usia dua puluh sampai tiga puluh tahun adalah masa dimana kau paling sehat. Ditemukan juga bahwa pada saat domba berumur satu tahun, dia berada dalam keadaan palung sehat, pertumbuhannya sudah lengkap, sudah sempurna. Demikian juga Yesus Kristus, Dia dipaku di atas kayu salib saat berusia tiga puluh tiga tahun; usia paling sehat bagi seorang manusia, dimana dia dapat menyesuaikan diri dengan semua lingkungan, sudah mempunyai kekuatan untuk melawan segala macam penyakit. Yesus disalibkan pada saat Dia paling sehat, sama seperti perintah Tuhan: haruslah kau menyembelih domba yang berusia satu tahun, yang tidak bercacat cela, yang tidak berpenyakit, yang jantan, yang sulung, karena semua domba itu adalah lambang Kristus - Domba Allah yang disembelih. Di dalam peristiwa bersejarah ini kita menemukan perintah Paskah yang pertama, yang harus Musa sampaikan kepada semua orang Israel.

Perintah Allah dan Iman
Bayangkan, betapa sulit Musa mempublikasikan perintah itu, karena pada waktu itu belum ada surat kabar Kompas, siaran radio Sonora atau siaran TV yang dapat dipakai untuk memberitahukan perintah itu kepada semua orang Israel. Di abad ke-21, orang dapat mengeluarkan milyaran rupiah untuk membuat advertensi, iklan, tapi tiga ribu tahun yang lalu, meski punya uang juga tidak dapat melakukan hal itu, apalagi mereka yang tidak punya uang. Yang Musa pimpin adalah budak-budak miskin yang begitu banyak jumlahnya. Mereka dicambuk, dianiaya, dipukul, dan dipaksa bekerja dengan tidak diberi imbalan apa-apa, kecuali makanan. Sebenarnya, apa gunanya mereka makan? Makan untuk hidup. Hidup untuk apa? Untuk bekerja. Bekerja Karena jika memakai istilah dari Karl Marx, dapat dikatakan bahwa Kerajaan Mesir telah merampas seratus persen surplus value yang dihasilkan bangsa Israel. Mereka diberi makan hanya supaya mereka dapat bekerja. Bukan makan untuk menikmati hidup yang mewah atau yang lebih bagus, melainkan hanya untuk survive, menyambung hidup hanya sekedar untuk dapat diperas lagi. Ini seperti para usahawan di masa ini yang hanya tahu memeras tenaga wanita, lalu membayarnya dengan upah yang rendah, kemudian juga memeras tenaga anak-anak yang tak dibayar penuh, sehingga surplus value yang dihasilkan oleh kerja mereka, diambil sepenuhnya oleh para usahawan itu. Menurut Karl Marx, surplus value diambil oleh kaum Kapitalis dengan menginjak-injak hak azasi manusia. Itulah sebabnya orang Komunis berkata bahwa surplus value harus dikembalikan, sebelum keadilan dapat terwujud.
Tuhan di sorga melihat keluhan orang Israel, Dia mengingat janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, maka Dia turun ke tengah-tengah mereka, melihat kesusahan mereka dari perbudakan Firaun. Maka kata-Nya kepada Musa, jika satu keluarga tak sanggup menghabiskan seekor kambing, maka beberapa keluarga boleh bergabung menyembelih seekor domba. Inilah belas kasihan Tuhan.
Seandainya Dia berkata: "Tak perduli, setiap keluarga harus menyembelih seekor domba atau kambing", tentu sangat kasihan, karena mereka adalah budak, mereka tak punya uang. Kalau saja mereka memelihara domba, itu hanya untuk diperah susunya guna memenuhi kebutuhan anak mereka secara hemat, karena domba memberikan susu tanpa memungut bayaran. Mereka memang
Page 9 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

memiliki domba, tapi sekarang, seekor dari domba mereka harus disembelih, bahkan harus yang jantan. Bagi mereka, ini adalah pengorbanan yang besar, tapi domba yang disembelih itu dipakai untuk melambangkan Kristus yang begitu sempurna rela menjadi Juruselamat kita dengan cara disembelih.Mereka mulai menghitung-hitung: domba yang berumur satu tahun ini berapa kilo beratnya, kalau disembelih dapat dimakan oleh berapa keluarga, jangan sampai ada yang tersisa. Tuhan memerintahkan semua itu dengan jelas sekali: inilah Paskah yang kelak harus diingat oleh semua keturunanmu sampai selama-lamanya. Apa maksudnya? Tuhan akan menjadikan peristiwa itu sebagai pemisah sejarah (the devide of history): sebelumnya kamu adalah budak, tapi sesudahnya kamu adalah orang yang bebas; sebelumnya kamu berada di Mesir, tapi sesudahnya kamu merdeka; sebelumnya kamu dihina, tapi sesudahnya kamu adalah anak Allah; sebelumnya kamu ditindas, semua surplus value-mu diperas, tapi sesudahnya kamu boleh mempunyai hidupmu sendiri. Bagaimana caranya Musa mempublikasikan hal ini? Saya tidak tahu. Pertama, saya sungguh tidak mengerti cara Musa mempublikasikan perintah Tuhan kepada dua juga orang yang tersebar di kota-kota dan desa-desa yang ada di Kerajaan Mesir. Bahkan berita itu harus sampai dalam waktu beberapa hari, waktu yang begitu singkat. Kedua, saya tidak mengerti mengapa semua orang Israel mau mematuhi perintah Musa. Seandainya kau berikan perintah, pada tanggal 17 April setiap keluarga Jakarta harus memberikan sepuluh ribu rupiah untuk pembangunan kota Jakarta. Adakah orang yang mau mematuhi perintahmu itu? Tidak mudah. Sungguh merupakan satu hal yang berbeda dengan semua kebudayaan yang ada, karena jika bukan karena kerja Tuhan, semua hal yang dicatat di Alkitab hampir tak mungkin terlaksana. Apalagi Musa bukan berbicara dengan kuasa seorang raja, polisi, jenderal atau orang yang berpangkat tinggi. Dia hanyalah seorang yang bersandar kepada Tuhan dan berkata: Tuhan berfirman, sembelihlah seekor domba, bubuhkan darahnya di kedua tiang dan ambang pintumu, karena malam ini, pembunuh anak sulung akan tiba. Barangsiapa tidak membubuhkan darah di pintunya, anak sulungnya akan mati.
Kalimat itu disampaikan dari satu keluarga ke keluarga yang lain, sampai semua orang Israel yang berada di Mesir mendengar perintah itu. Alkitab mencatat, malam itu juga di tengah orang Mesir, tak ada satu keluarga yang anak sulungnya tak mati, artinya pada zaman itu, generasi itu, malam hari itu, semua keluarga orang Mesir kehilangan anak sulungnya. Itu berarti tak satu keluarga orang Mesir yang menyapukan darah pada pintu rumahnya, karena mereka tidak percaya. Inilah bedanya antara orang percaya dan orang yang tidak percaya. Mungkin kau berkata, kepada mereka tidak diberitakan hal itu. Tapi sesungguhnya, waktu orang Israel menyampaikan berita itu, pasti ada orang Mesir yang bertanya, "Apa yang kalian bicarakan?" Dan mungkin ada yang menjawab, "Tuhan memerintahkan kami berbuat ini dan itu, karena malam ini anak-anak sulung akan dibunuh, tapi bila pintu rumahmu dibubuhi darah, anak sulungmu akan aman." Tak seorang Mesir pun mempercayai mereka. Yang beriman ya beriman, yang tidak beriman ya tidak beriman. Iman selalu timbul sebelum malapetaka menimpa, iman selalu dinyatakan sebelum suatu hukuman dijatuhkan, tetapi banyak orang menunggu dan menunggu tak pernah menyadarinya, sampai hukuman tiba barulah menyesal. Tapi Tuhan berkata: the time is up, your opportunity is over. Tapi orang Israel percaya, mereka segera menyediakan roti tak beragi, menyembelih domba yang tak bercatat cela, lalu darahnya disapukan di ambang pintu.

Penghakiman dan Pembebasan Tuhan
Saya percaya, orang-orang Mesir setempat merasa aneh, mengapa hari itu di perkampungan Israel berbau darah, semua pintu dibubuhi warna merah, bukan cat merah melainkan darah. Demikianlah yang
Page 10 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

tertulis di Ulangan 11: di dalam darah terdapat hidup, artinya Tuhan menginginkan yang hidup menggantikan yang hidup, dan kematian diganti dengan kematian, kematian domba mewakili kita, hidup dompa diambil agar kita dapat hidup. Begitulah kematian Kristus, bagai domba yang tersembelih, yang mengganti kematian kita. Kematian Kristus sama seperti domba Paskah yang meluputkan kita dari kebinasaan akhir yang dari Tuhan.
Malam itu, semua orang Israel tak boleh keluar rumah, mereka harus makan dengan berpakaian rapi, mengikat pinggang, mengenakan kasut. Mengapa Tuhan memberikan perintah seperti itu? Malam itu, waktu kau makan daging domba yang telah disembelih, kau harus mengenakan pakaian lengkap dan rapi, harus mengenakan ikatan pinggang, harus mengenakan kasut; semua itu mengindikasikan bahwa setelah makan mereka akan segera berangkat, memulai perjalanan. Itulah perintah yang jelas. Orang Israel yakin sekali akan apa yang Tuhan katakan melalui Musa, karena mereka sudah jenih dengan kehidupan mereka sebagai budak di Mesir. Hari itu, genap sudah masa mereka menjadi budak selama empat ratus tiga puluh tahun di Mesir, dan itulah cara Tuhan bekerja.
Mungkin kau bertanya, "Tuhan, mengapa harus menunggu begitu lama, lebih dari empat abad baru diberi kemerdekaan?" Indonesia merdeka setelah dijajah Belanda selama tiga ratus lima puluh tahun. Orang Israel menjadi budak orang Mesir selama empat ratus tiga puluh tahun, barulah tiba waktu Tuhan. Sabda-Nya: malam ini juga kenakanlah pakaian lengkap, ikat pinggang, kasut, makan daging domba sampai habis, jangan disisakan. Pagi harinya, kamu akan menyaksikan bagaimana tangan Tuhan bekerja. Keselamatan sudah Tuhan berikan kepada kita, kita harus segera menempuh perjalanan hidup yang baru, jangan tunggu lagi. Ada orang yang berkata, "Tunggulah sampai saya sudah menjadi orang yang lebih baik, baru saya mau percaya Tuhan." Atau "Tunggulah sampai saya sudah tidak berdosa, tidak berzinah, barulah saya mau menjadi orang Kristen." Tidak mungkin! Kapan hidupmu menjadi lebih baik? Orang yang suka berzinah, atau melacur, baru menjadi lebih baik waktu terbaring di rumah sakit. Jadi, ketika kau jatuh sakit, moralmu pasti lebih baik dibandingkan saat kau sehat. Kapankah kau menjadi paling baik? Saat kau mati. Karena saat itu, kau tidak dapat lagi minum minuman keras, tidak dapat menggunakan narkotika, tidak dapat berzinah, tidak dapat berdosa lagi. Tapi dengan lain perkataan, no way to be better, maka jangan kau katakan: tunggu aku menjadi lebih baik, baru aku mau percaya Yesus. Yesus sudah mati bagimu. Sekarang, ikat pinggangmu, kenakanlah pakaian lengkap, kenakanlah kasut, dan setelah kamu menikmati keselamatan; change your life immediately after you receive the grace and the salvation of Jesus Christ!
Malam itu, semua orang Israel tak diperbolehkan keluar rumah. Mereka harus berdiam di rumah yang tertutup pintunya. Sama seperti orang-orang yang masuk ke bahtera Nuh, mereka diam di dalam bahtera, menanti pemeliharaan Tuhan, tak seorangpun boleh keluar dari bahtera. Inilah cara Tuhan. Close your door, and live within the protection. Malam itu, di saat yang sudah Tuhan tetapkan, apa yang terjadi? Malaikat turun dari tahta Allah, "yang melaksanakan perintah Allah adalah malaikat-malaikat yang berkuasa" (Mazmur 103). Malaikat yang pertama dicatat di Kitab Suci adalah kerubim, yang dengan pedangnya menjaga pintu taman Firdaus, tidak mengizinkan Adam dan Hawa untuk kembali ke sana. Kerubim selalu mewakili keadilan Allah dan hukuman-Nya yang tak dapat ditawar-tawar. Berapa besar kuasa malaikat? Pikiran kita selalu dipengaruhi oleh gambar malaikat di kartu Natal: malaikat yang seperti perempuan, yang baik-baik, berdiri di sana dengan tersenyum-senyum, malaikat yang putih bersih. Tapi Alkitab mencatat, satu malaikat di dalam satu malam, dapat membutuh seratus delapan puluh lima ribu tentara musuh yang dikirim untuk mengepung kota Yerusalem di zaman Raja Hizkia. Malaikat Tuhan mempunyai kuasa yang luar biasa.
Page 11 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

Pada waktu Yesus berada di Getsemani, Petrus berkata: di sini ada dua bilah pedang. Yesus berkata: "Cukup, apakah kau kira Aku tak dapat memerintahkan dua belas legion malaikat untuk menolong-Ku?" Saya percaya, sewaktu Yesus disalib, ratusan ribu malaikat mengelilingi Golgota, masing-masing menghunus pedang siap menghabisi semua orang yang melawan Yesus. Mereka hanya menunggu Yesus memberi komando: turun dan habisilah mereka. Tapi karena Yesus tidak membuka mulut, mereka tidak berani bergerak. Ketika akhirnya Yesus membuka mult, mereka mendengar Dia berkata: Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Semua malaikatpun menyarungkan kembali pedang mereka dan bubar; Yesus tidak menginginkan kami membalas dendam, malah meminta Bapa mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. Kalau Anak Tunggal Allah saja meminta Bapa-Nya mengampuni mereka, mengapa kami masih mengacungacungkan pedang?
Perhatikan statement berikut: waktu malaikat dikirim untuk membasmi anak sulung, tak ada pengampunan bagi orang Mesir; itulah tulah kesepuluh yang Tuhan timpakan kepada Firaun yang mengeraskan hati. Meski sudah diberi tulah yang keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, ia tetap tidak mau bertobat, maka tulah yang kesepuluh ditimpakan: smeua anak sulung dihabisi. Malam itu menjadi malam ratapan massal yang mengerikan di dalam sejarah. Tak ada satu keluarga orang Mesir yang anak sulungnya tidak mati. Dari putera mahkota Firaun di istana, sampai putera sulung menteri dan putera sulung rakyat jelata; Semua keluarga kehilangan anak sulung mereka. Kita tidak dapat membayangkan, betapa memilukan tangisan pada malam itu; Para ibu yang begitu mengharapkan anaknya bertumbuh besar, harus menangis karena anak mereka mati. Itulah saatnya Tuhan berkata: Musa, inilah saatnya kau membawa keluar orang Israel yang berjumlah enam ratus ribu orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak itu. Sebelum mereka meninggalkan Mesir, mereka mendatangi orang-orang Mesir untuk meminta bekal dari mereka. Mengapa orang Israel masih meminta bekal kepada orang Mesir yang sedang berduka karena kematian anak mereka? Israel sudah diperas selama empat ratus tiga puluh tahun. Orang-orang Mesir cepat-cepat memberi apa yang mereka minta, asal mereka mau cepat-cepat meninggalkan Mesir. Bila tidak, mereka kuatir, jangan-jangan anak-anak mereka akan mati semuanya. Alkitab mencatat, mereka meminta kepada orang Mesir, dan orang Mesir pun segera memberikan emas dan perak kepada mereka.
Tapi Alkitab juga mencatat, bahwa orang Israel telah merampas harta dari orang Mesir. Mengapa di awal ayat tertulis mereka meminta kepada orang Mesir, tapi di akhir ayat tertulis bahwa mereka merampas harta orang Mesir? Tuhan mengizinkan mereka minta dari orang Mesir dan orang Mesirpun memberi, tetapi mengapa dikatakan mereka merampas? Perhatikanlah kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Singapura atau Malaysia. Saya sangat kagum terhadap statement yang diucapkan oleh Sukarno: kemerdekaan India adalah kemerdekaan yang diberi, kemerdekaan Pakistan, Malaysia dan banyak negara-negara bekas jajahan adalah kemerdekaan yang diberi, tetapi kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan yang diberi, melainkan kemerdekaan yang kita rampas dari tangan penjajah. Inilah bedanya: bangsa Indonesia tak perlu diberi, melainkan membutuhkan kekuatan untuk merampas kembali hak yang seharusnya dia miliki. Diberi dan merampas adalah berbeda sekali: merampas berarti sebenarnya aku berhak atasnya, maka kau harus mengembalikannya kepadaku.
Tetapi secara tata krama, secara manusia, bangsa Israel meminta dan harus diberi. Mengapa? Dengan terpaksa orang Mesir melepaskan orang Israel pergi. Mengapa? Bila mereka tidak direlakan pergi, malapetaka-malapetaka akan terus-menerus menimpa mereka. Inilah statement Alkitab: pergilah dari sini, bila tidak, kami akan mati semuanya, maka pergilah dari kami, Israel, pergilah dengan mulia. Waktu mereka hidup di Mesir, mereka menjadi budak, tapi waktu mereka pergi, mereka pergi dengan
Page 12 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

kemenangan yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka meminta dan orang Mesir memberi dengan rela hati, tapi Alkitab mencatat mereka merampas, itu berarti mereka telah memperoleh kembali apa yang patut mereka terima.
Sesudah itu, kedua juta orang Israelpun keluar dari Mesir menuju pada hari depan yang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Tapi tidak apa-apa, karena yang memerintah dan yang memimpin mereka adalah Raja di atas segala raja. Pada waktu kau menjalankan kehendak Tuhan, meski kau harus menghadapi pergumulan hidup yang paling sulit sekalipun, jangan kau lupa menyerahkan hidupmu kepada Dia yang memegang hari depanmu dan sekaligus memegang sejarah dunia. Dia, Tuhan yang memimpin anak-anak-Nya Israel untuk keluar dari Mesir.
Dengan iman, Musa mengadakan Paskah. Dengan iman, dia menghadapi Firaun. Dengan iman, dia mengeluarkan bangsanya dari tempat perbudakan. Puji Tuhan! Kiranya Tuhan memberkati kita, memberikan iman yang sama dengan iman Musa: melihat Tahta di atas tahta, Kemuliaan di atas kemuliaan, Kerajaan di atas kerajaan.
Page 13 of 13 Iman Yang Melihat Tahta di Atas Tahta - Pdt. Dr. Stephen Tong

* Artikel ini merupakan ringkasan kotbah dari Kebaktian Minggu GRII Pusat - Pdt. Dr. Stephen Tong *

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 51 - 2003
http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/imanmusa.html
http://www.geocities.com/reformed_movement



Minggu, 14 Februari 2010

Doa Nehemia


Sebagian orang yang membaca bagian ini berpendapat bahwa inti doa Nehemia adalah supaya Tuhan membawa bangsa Israel yang tercerai berai kembali ke tanah perjanjian dan ada juga orang yang berpendapat bahwa doa Nehemia tidak lebih dari pengakuan dosa yang sifatnya pribadi. Untuk memahami doa Nehemia ini maka terlebih dahulu kita memahami konteks dari kitab Perjanjian Lama, yakni:

Pertama, Doa Nehemia ini berangkat dari kenyataan sejarah, yaitu Allah Yahweh (TUHAN, huruf besar) adalah Allah yang melakukan perjanjian dengan umat-Nya. Sejak awal penciptaan, TUHAN mengadakan perjanjian dengan Adam dan perjanjian ini disebut perjanjian kerja (Kej. 2) dan setelah manusia jatuh ke dalam dosa, TUHAN tetap mengadakan perjanjian dengan manusia, mulai dari perjanjian dengan Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud, dan masih banyak lagi. Dalam kitab Yesaya, TUHAN kembali mengadakan perjanjian yang baru – Kristus sebagai mediator dengan umat. Perjanjian ini dilakukan secara dua pihak dan mempunyai ikatan hukum yang saling mengikat dengan darah sebagai segelnya. Perjanjian semacam ini pernah dilakukan antara TUHAN dengan Abraham; Allah berjalan bersama dengan Abraham melewati potongan tubuh binatang yang telah terbelah, hal ini berarti jikalau ada salah satu yang mengingkari perjanjian biarlah ia akan bernasib sama seperti binatang yang terbelah tersebut (Kej. 15). Inilah natur dari Perjanjian Allah dimana pelanggaran berakibat kematian. Hal inilah yang menjadi latar belakang doa Nehemia; ia mengacu pada Perjanjian Allah tersebut.

Kedua, Nehemia hidup di negara asing, yakni Persia, negara yang sudah menawan bangsanya. Dalam kitab Ulangan pasal 28 – 30 dicatat tentang berkat, kutuk dan sumpah setia yang diucapkan bangsa Israel berkenaan dengan perjanjian yang dibuat antara Allah dengan Musa. Stuktur kitab Ulangan ini sangatlah unik sebab kitab ini tak ubahnya seperti sebuah pakta perjanjian. Kitab Ulangan ini ditulis oleh Musa pada saat menjelang dia melepas bangsa Israel untuk masuk ke dalam tanah perjanjian sedang dirinya sendiri tidak diijinkan Tuhan untuk masuk tanah perjanjian tersebut maka dalam tulisannya kita menjumpai tentang kasih setia Allah yang memimpin dan menyertai bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan bagaimana Allah mengikat perjanjian dengan umat-Nya dan ternyata bangsa Israel berkali-kali mengingkari Tuhan dengan menyembah allah lain hingga Tuhan memecah kerajaan Israel menjadi dua, yakni kerajaan utara dan selatan namun mereka tetap menyeleweng hingga Allah menyerakkan mereka di antara bangsa-bangsa kafir dan kejadian ini terus berlangsung hingga di jaman Nehemia. Sepintas kalau kita membaca Alkitab maka kita akan melihat Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang kejam sedang Allah Perjanjian Baru adalah Allah yang asih dan pengampun. Salah! Kalau kita baca kitab Perjanjian Lama secara keseluruhan dan teliti maka kita akan melihat Allah adalah Allah yang panjang sabar, berulang kali bangsa Israel menyakiti hati Allah, Allah menghukum tetapi Allah juga memulihkan. Jangan lupa, dalam kitab Perjanjian Baru katanya Allah yang penuh belas kasih itu disana Anak Allah harus mati karena dosa. Jelaslah, sejak jaman PL sampai PB, Allah tidak pernah berubah. Sesungguhnya, pelanggaran yang dilakukan bangsa Israel sangatlah banyak namun sedikit sekali yang dicatat dalam Alkitab.

Nama Nehemia berarti Allah Penghiburku namun doa Nehemia ini menjadi turning point bahwa hidupnya tidak lagi penuh dengan penghiburan sebab ia harus menghadapi berbagai macam kesulitan di negeri asing. Kalau kita membaca kitab Nehemia ini secara keseluruhan maka Nehemia “Allah Penghibur“ ternyata juga menjadi penghiburan bagi seluruh bangsa Israel. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kalau kita disebut “Kristen“ yang artinya “Kristus kecil“, sudahkah orang lain melihat ada Kristus dalam diri kita dengan demikian orang mengenal Kristus? Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk menjadi saksi karena itu Tuhan menempatkan kita di dunia untuk menjadi garam dan terang dunia.

Sikap Doa Nehemia

Mendengar berita orang Israel dinista, kota Yerusalem porak poranda, Nehemia langsung duduk, menangis dan berkabung selama beberapa hari, ia pun berpuasa dan berdoa. Reaksi yang ditunjukkan oleh Nehemia ini bukanlah tanpa sebab atau alasan. Pada jaman itu, konsep tentang Allah dan kota sangat berkaitan erat; sebuah kota kalau dapat dikalahkan berarti “allah“-nya juga turut dikalahkan, ini berarti Allah Yahweh telah kalah oleh allah bangsa lain. Tidak hanya sampai disana, Nehemia melihat ada hal lain yang lebih esensi, yakni kerohanian orang Israel pun telah menjadi puing. Tuhan sudah ijinkan mereka untuk kembali ke kota Yerusalem tetapi tidak ada seorang pun yang tergerak untuk membangun kembali kota Yerusalem. Orang Israel hanya peduli dengan dirinya sendiri yang sudah cukup kesulitan di tengah kota Yerusalem yang sudah menjadi puing.

Reaksi Nehemia bukan sekedar tindakan. Menurut terjemahan aslinya, duduk berasal dari bahasa Ibrani, shabat; kata shabat ini juga yang dipakai ketika Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh. Nehemia mengkhususkan hari itu khusus untuk Tuhan, shabat, ia bergumul sesungguhnya apa yang menjadi kehendak dan isi hati Tuhan, kalau Tuhan sudah mengijinkan bangsa Israel kembali, lalu kenapa Tuhan tetap membiarkan kota Yerusalem runtuh? Ketika kita diberikan suatu tugas oleh Tuhan bagaimanakah sikap kita? Hal apa yang pertama-tama terpikir dalam benak kita? Sayangnya, hari ini orang tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh Nehemia, yakni berdoa dan bergumul di hadapan Tuhan, orang cenderung melakukan segala sesuatu menurut logikanya sendiri, tidak bertanya apakah Tuhan berkenan atas pekerjaan kita. Kita terlalu sibuk sehingga tidak mendengar Tuhan berbicara, hal inilah yang seringkali terjadi, kita melewatkan momen-momen dengan Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri, di saat kita semakin sibuk apakah kita semakin rohani ataukah justru semakin sekuler?

Isi Doa Nehemia
Nehemia sadar, Tuhan seperti apa yang kepada-Nya mengajukan seluruh doa permohonan, “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya.“ Berbeda dengan doa-doa kita, ucapan syukur yang kita ucapkan tidak lebih hanya sekedar ucapan basa basi belaka bahkan ketika kita dalam ketakutan karena persoalan hidup yang berat menimpa kita maka ucapan syukur tidak lebih sebagai salam pembuka belaka. Pengenalan yang benar akan Tuhan menentukan seluruh isi doa kita sekaligus siapa kita. Calvin menegaskan mengenal Allah dan mengenal diri saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan karena kalau kita gagal mengenal Allah maka kita tidak mengenal diri begitu juga sebaliknya. Orang seringkali melupakan Tuhan, orang hanya fokus pada permasalahan kita; orang kuatir kalau-kalau Tuhan tidak peduli akan semua masalahnya. Bukankah sikap dan perbuatan kita tersebut tidak ubahnya seperti anak kecil ketika sedang menghadapi masalah? Biarlah kita menjadi seorang yang bijak ketika masalah dan tantangan menimpa, kita berdiam diri sejenak dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi dan bagaimana cara penyelesaiannya. Pertanyaannya kerohanian kita seperti anak-anak ataukah seperti orang dewasa? Kalau kita mau jujur, sesungguhnya kita lebih mirip anak-anak, kita banyak dikuatirkan oleh berbagai macam masalah dan mengabaikan Tuhan. Hal ini tidak menyelesaikan masalah tetapi justru menambah masalah baru.

Nehemia menyadari keberadaan dirinya sebagai orang berdosa, orang yang pernah mengkhianati perjanjiannya dengan Tuhan, yakni perjanjian yang sifatnya mengikat dan berakibat kematian. Karena itu, ia mohon ampunan pada Tuhan, ia berdoa mewakili dirinya, keluarganya, yaitu keluarga Daud dan bangsa Israel seluruhnya. Doa inilah yang Nehemia panjatkan. Bagaimana dengan sikap doa kita? Kita seringkali memperlakukan Tuhan seperti kita bersikap pada orang lain, kita bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa padahal sebelumnya kita sudah menyakiti hatinya. Hukuman yang paling berat adalah hukuman ketika kita tidak menyadari kesalahan yang kita lakukan. Hukuman yang paling ringan justru ketika kesalahan kita diketahui dan kita mendapatkan hukuman karena kesalahan tersebut. Hukuman yang sedikit lebih berat adalah orang lain tahu tetapi diam, orang hanya mengasihani diri kita. Hukuman yang lebih berat lagi yaitu ketika orang lain tidak tahu dan kita berpikir ini sebagai the another way untuk mencapai gol yang kita inginkan. Dan hukuman yang paling kronis adalah justru ketika tidak seorang pun yang tahu apa yang kita perbuat, kita merasa aman dan melihat sebagai the best way untuk mencapai sasaran. Nehemia menunjukkan suatu sikap pertobatan yang sejati. Nehemia sadar bagaimana seharusnya bersikap ketika datang menghadap Tuhan, bagaimana memposisikan diri di hadapan Tuhan dan berelasi dengan Tuhan sang pemilik alam semesta, Allah yang berpegang pada perjanjian-Nya dan Allah yang penuh dengan kasih setia. Kata “kasih setia“ berasal dari bahasa Ibrani, hezed artinya Allah pernah berjanji maka Allah akan setia dan berpegang pada janji-Nya dan Allah akan menghukum orang yang melawan perjanjian akan tetapi Allah akan mengampuni orang yang mau kembali dan memohon ampun pada-Nya. Dalam doa Nehemia dicatat, bila kamu berbalik kepada-Ku...(ay. 9), kata berbalik disini berasal dari bahasa Ibrani, shuv, artinya turn around, orang yang tadinya melawan Tuhan kini berbalik untuk bertobat. Nehemia mengenal TUHAN adalah Allah yang setia dan berpegang pada janji, Dia akan mengampuni orang-orang yang mau bertobat dan berbalik untuk kembali pada-Nya. Doa yang Nehemia ucapkan (Neh. 1:9,10) sesungguhnya mengacu pada janji Tuhan yang ditulis dalam kitab Ulangan dan ayat ini mempunyai struktur yang unik dan disebut sebagai struktur kiastik. Struktur kiastik ini tidak beda ubahnya seperti sebuah sandwich, yakni bagian tengah justru yang menjadi inti dan esensi. Kita melihat ada suatu tindakan Allah untuk mengumpulkan bangsa Israel, di masa lalu juga ada tindakan Allah yang menuntun bangsa Israel keluar dari suatu tempat, yakni tanah perbudakan maka dari dua tindakan Allah ini ada hal yang lebih penting dan yang menjadi inti yang mendasari tindakan Allah tersebut, yakni Tuhan membawa bangsa Israel ke suatu tempat, tanah perjanjian dan di sanalah nama Tuhan ditinggikan nama Allah dipermuliakan sebab pada jaman itu, orang mempunyai konsep bahwa suatu negara yang dapat dikalahkan berarti “allah“-nya juga ikut dikalahkan. Nehemia memohon supaya orang Israel mengalami kebangunan rohani dan nama Tuhan dipermuliakan kembali. Hal inilah yang menjadi inti dari doa Nehemia, yakni terjadinya restorasi rohani bagi bagsa Israel dan untuk hal ini Nehemia siap diutus Tuhan. Hari inipun di negara kita banyak infra struktur yang telah rusak namun yang menjadi inti kehancuran itu adalah rusaknya moralitas dan spiritualitas. Tugas kita sebagai anak Tuhan untuk menjadi saksi bagi-Nya, mengabarkan Injil supaya orang kembali kepada Tuhan.

Perhatikan di akhir doanya Nehemia menulis suatu pernyataan: “ketika itu aku juru minuman raja“ sepertinya kalimat ini hanya sekedar ditulis sebab kalau sebelumnya kita membaca hal yang sangat rohani tetapi justru ditutup dengan kalimat yang bagi kita mungkin tidaklah berarti. Pada umumnya, orang hidup di dunia sangat menyukai hal-hal yang sifatnya aman, orang suka akan nuansa yang rohani dan orang tidak mau cepat-cepat berlalu namun Tuhan ingin kalau kita sudah menerima satu kebenaran rohani maka kita menyatakan itu pada dunia. Orang Kristen dipanggil bukan untuk tinggal di dalam menara gading yang indah, tidak, Tuhan memanggil kita untuk diutus masuk ke dalam dunia dan menjadi saksi Tuhan. Seluruh pergumulan doa Nehemia dipanjatkan justru ketika ia akan menghadap raja dengan muka muram sebab dalam doanya dicatat: “biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.“ Yang dimaksud “orang ini“ adalah raja Artahsasta yang sedang berkuasa pada jaman itu. Sebab hari itu, seorang yang akan melayani raja haruslah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin; menghadap raja dengan muka muram dan jika raja tidak berkenan maka nyawa menjadi taruhannya. Dalam doanya, Nehemia memohon kiranya raja ini bermurah hati padanya dan akhirnya ia berhasil. Sesungguhnya, ketika Nehemia mengharapkan kemurahan dari raja Artahsasta Nehemia juga mengharapkan kemurahan hati dari Raja di atas segala raja.

Biarlah kita meneladani Nehemia dimana antara iman dan kerohanian itu teraplikasi dengan riil dalam kehidupannya. Ingat, tanpa pimpinan Tuhan, kita akan jatuh dan tersesat sebagai contoh ketika kita hendak menuju ke suatu kota jikalau sepanjang jalan menuju kota itu gelap gulita pastilah kita akan tersesat dan terjatuh. Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri sebab Tuhan selalu memimpin tiap langkah hidup kita namun kitalah yang terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri sehingga kita tidak peka akan pimpinan Tuhan dan ironisnya, kita justru menyalahkan Tuhan. Biarlah kita peka akan panggilan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita dengan demikian kita boleh dipakai menjadi saksi-Nya dan biarlah nama Tuhan semakin dipermuliakan di muka bumi ini. Amin.

(sumber http://sumberkristen.com/Kotbah/doa_nehemia.htm)

Dinamika Iman Ayub: Let God be God


Francis Schaefer menyatakan bahwa secara inti, berita Injil dalam Perjanjian Lama bukanlah seperti yang kita pahami saat ini, yaitu Yesus mati bagi dosa-dosa kita tetapi inti berita Injil dalam Perjanjian Lama adalah God is there, Tuhan ada di sana – Dia mengontrol dan menguasai seluruh kehidupan manusia dan setiap bagian di dalamnya. Untuk memahami konsep God is there ini tidaklah mudah, dibutuhkan pergumulan iman yang cukup berani untuk melihat fakta tersebut dalam hidup kita. Kalau kita menelusuri kitab Ayub maka kita menemukan suatu kebenaran yang mengagetkan dan membuat kita tercengang bahkan mungkin dapat membuat iman kita tergoncang: Allah mengijinkan setan untuk mencobai anak-anak-Nya. Kita mengenal Allah sebagai Allah yang Maha Baik dan sekarang kita mendapati fakta bahwa Allah yang baik dan penuh dengan kemurahan itu adalah Allah yang juga mencobai anak-anak-Nya? Justru sangatlah mengherankan kalau kita tidak menjadi tergoncang ketika kita mengetahui kebenaran ini sebab kemungkinan dalam kasus seperti itu kita mencoba mencari-cari jawaban yang sifatnya superfisial, yaitu jawaban yang dapat menentramkan hati dan emosi kita.

Manusia mencoba menentramkan hati yang galau dengan bahasa-bahasa iman, yaitu apa yang terjadi dalam kehidupan kita merupakan bagian dari rencana Allah yang sempurna (Rm. 8:28). Pertanyaannya sekarang adalah apakah semua upaya yang kita lakukan tersebut dapat menentramkan hati dan menyelesaikan semua permasalahan kita? Kalau kita mau jujur, sesungguhnya semua upaya yang kita lakukan seperti praktek keagamaan itu hanyalah usaha untuk menyembunyikan kegalauan akan pergumulan iman kita. Puji Tuhan, hari ini kalau kitab Ayub ini ada maka itu dimaksudkan untuk menjadi berkat bagi setiap kita akan realita pergumulan iman dari seorang anak Tuhan.


Tuhan pun memberikan label bahwa Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ayub selalu memberikan korban tiap kali anaknya selesai mengadakan pesta sejumlah anaknya sebab Ayub takut kalau-kalau anaknya itu berbuat dosa dan mengutuki Allah dalam hatinya. Kata “kutuk“ inilah yang dipakai iblis untuk mencobai Ayub (Ayb. 1:11) dan kata “kutuk“ ini juga dikutip oleh istri Ayub (Ayb. 2:11). Ketika Tuhan memberikan ijin pada iblis untuk mencobai Ayub maka tanpa membuang waktu lagi iblis langsung bekerja:
1) hanya dalam waktu satu hari Ayub kehilangan sepuluh anaknya dan seluruh hartanya habis lenyap,
2) seluruh tubuh Ayub dari telapak kaki sampai kepalanya ditimpa dengan sakit barah. Di satu sisi, Ayub adalahorang saleh dan takut akan Tuhan namun di sisi lain, Ayub juga mengalami kesulitan memahami: kenapa hanya dalam waktu singkat ia mengalami hal yang buruk?


Setiap orang pasti mengaminkan bahwa Allah adalah Allah yang pemurah dan baik, Allah yang memelihara tetapi orang mulai bereaksi ketika kita bertemu bahwa Allah yang sama itu pun menciptakan peluang orang-orang percaya untuk dicobai. Mengapa orang Kristen mengalami penderitaan? C. S. Lewis memberikan jawab atas pertanyaan yang diajukan tersebut dengan bertanya balik, so what? Adalah tidak adil kalau kita menyalahkan Ayub atas segala tindakannya ketika menghadapi pencobaan itu sebab pada saat itu Ayub tidak tahu kalau ada perjanjian antara Allah dengan iblis di dunia sana. Kita akan mencoba memikirkan dua hal yang menjadi problema dalam kitab Ayub, yaitu:

I. Natur Iman

Kalau kita mencoba menelusuri kehidupan Ayub, siapakah Ayub? Alkitab memberikan beberapa label: Ayub adalah orang kaya tetapi tidak materialis, orang yang saleh, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ayub taat melakukan segala sesuatu yang menjadi keinginan Tuhan. Setan pun mengakui kesalehan Ayub ini meski cara ia menyatakannya dengan cara negasi. Dengan kata lain, setan mau mengatakan bahwa iman Ayub hanyalah sejauh ia melihat kenyataan: Allah memberkati. Setiap orang Kristen pasti mengaminkan bahwa Allah adalah Allah yang hidup, Allah yang Maha baik dan Allah yang penolong. Namun perhatikan, semua pernyataan iman tersebut merupakan pernyataan iman di dalam tingkatan yang paling rendah dan lemah. Konflik iman Ayub ini dimulai pada saat Tuhan mengijinkan iblis untuk mencobainya namun letak permasalahannya adalah Ayub tidak tahu apa yang terjadi di dunia sana. Kita mungkin pernah mendengar bahkan mungkin kita alami sendiri, yakni seorang yang dulunya rajin melayani tapi keadaan menjadi berbalik, dia tidak lagi melayani bahkan mulai meninggalkan Tuhan. Apakah yang menjadi penyebab orang sampai pada kondisi yang terpuruk dan terhilang seperti itu?

Pertama, orang sudah masuk dalam jebakan filosofi setan yang berpusat pada diri, self center philosophy, yakni hidup Kristen yang patut dihidupi adalah hidup yang diberkati, hidup nyaman dan sukses. Maka tidaklah heran kalau Tuhan ambil maka dia akan langsung mengutuki Tuhan dan meninggalkan Tuhan. Orang mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam dirinya: bukankah Tuhan adalah Tuhan yang memberkati dan bukankah kita telah berbakti dan melayani Tuhan dengan giat lalu kenapa Tuhan tidak menolong dan malahan sepertinya Dia mengalihkan wajah-Nya? Bukankah konsep pemikiran yang sedemikian ini sama dengan iman daripada orang-orang yang percaya bahwa kalau gunung merapi meletus itu karena penunggu dari gunung merapi tersebut sedang batuk? sehingga mereka perlu mempersembahkan sesaji untuk menghentikannya. Kalau mereka mempersembahkan sesaji maka yang menjadi sesaji bagi orang Kristen adalah pelayanan kita maka ketika keadaan berbalik maka yang tinggal hanya kekecewaan dan 1001 pertanyaan mengapa yang muncul dalam pikiran kita. Hati-hati jangan terjebak akal licik setan yang sangat halus dan kelihatan rohani. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Ayub menjadi pelengkap penderita ajang peperangan antara setan dengan Allah? Sesungguhnya dimanakah letak permasalahannya, apakah antara Tuhan dengan Ayub ataukah Tuhan dengan setan ataukah Ayub dengan setan? Letak permasalahannya adalah antara Tuhan dengan setan. Ingat, Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa atas semesta maka Dia yang memegang kendali atas semesta tak terkecuali juga atas setan. Itulah sebabnya setan datang meminta ijin kepada Tuhan untuk mencobai Ayub. Hal ini membuktikan bahwa setan tidak mempunyai kuasa apapun atas hidup manusia. Hari ini kalau kita merasakan kekecewaan dan terpuruk maka percayalah semua itu ada dalam kontrol Tuhan, percayalah Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu.

Kedua, orang memakai pola relasi antara dirinya dengan orang lain dan dikenakan pada relasi antara Tuhan dengan dirinya. Seperti halnya, seorang anak ketika menginginkan sesuatu maka dengan segala cara ia akan berusaha bahkan merengek atau merayu pun dilakukannya demi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dari ayahnya akan tetapi suatu hari ketika si ayah tidak lagi mengabulkan keinginannya maka si anak akan mencari orang terdekat lainnya, seperti ibunya. Hal ini menimbulkan kesan sepertinya si ayah kurang mengasihi dan pola ini pun juga dipakai untuk menggambarkan relasi kita dengan Tuhan. Kalau kita minta dan Tuhan memberikannya maka itu berarti Tuhan mengasihi dan dalam konteks itu nothing problem with my faith. Permasalahan mulai muncul ketika Tuhan tidak lagi mengabulkan lagi semua keinginan kita dan kita menganggap Tuhan kejam. Ide negatif tentang Tuhan yang muncul ini karena kita mengenakan pola hubungan relasi kita dengan sesama pada Tuhan maka tidaklah heran kalau orang yang dulunya aktif melayani kini mulai meninggalkan Tuhan. Ingat, relasi manusia dengan Tuhan berbeda dengan relasi manusia dengan sesama.

Ketiga, ketika manusia mendapati fakta bahwa Allah tidak lagi mengabulkan keinginannya maka orang mulai mereduksi konsep Allah sedemikian rupa. Orang ingin mendapatkan penjelasan dari Allah atas kejadian yang menimpa dirinya dan penjelasan tersebut haruslah dapat diterima dengan logika manusia sedemikian rupa sehingga dapat membuat dirinya tetap beriman. Allah ditaruh pada tempat dimana Allah yang harus memberikan pertanggungan jawab dan penjelasan atas segala hal yang terjadi di dalam hidup kita. Manusia telah mereduksi konsep Allah dimana posisi Allah menjadi sedemikian kecil bahkan dibanding dengan manusia. Ingat, Allah berhak untuk tidak memberikan jawaban atas semua pertanyaan manusia. Maka tidaklah heran ketika manusia tidak memperoleh jawaban dari Allah maka manusia menjadi kecewa dan mulai meninggalkan-Nya.

Beberapa orang menafsirkan Ayub ini hidup sejaman dengan Abraham, jadi sebelum Musa mendapatkan hukum Taurat, Ayub sudah mengerti tentang konsep ketaatan dan ia sudah menjalankannya dan Tuhan memuji ketaatan Ayub ini. Akan tetapi Ayub belum pernah masuk dalam pengalaman iman dimana Tuhan mengijinkan sisi lain itu terjadi. Ayub mencoba mencari jawaban: mengapa semua ini terjadi? Ayub tidak pernah menemukan jawabnya bahkan sampai akhir sebab jawaban itu milik Tuhan. Jelaslah bahwa posisi Ayub bukan posisi yang berada di medan pertempuran antara Tuhan dengan setan. Tidak! Tetapi Tuhan meletakkan Ayub pada suatu posisi ujian dan Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuan Ayub, Tuhan tahu pasti, Ayub pasti tidak akan pernah menyangkali-Nya. Ray C. Steadman mencetuskan: iman Ayub adalah iman yang mau membaktikan diri pada Allah walaupun saat itu sulit untuk dilakukan. Tuhan Yesus telah memberikan teladan pada kita tentang iman yang seperti ini, yaitu ketika Dia berada di taman Getsemani dan pergumulan ini ditutup dengan suatu kalimat: bukan kehendak-Ku tetapi kehendak-Mu yang jadi. Inilah great faith, yakni ketika iman dalam kondisi terpuruk justru saat itulah kita tahu Tuhan menolong. Natur iman Ayub tidak berhenti hanya sampai pada suatu tingkatan iman yang hanya sekedar mengerjakan tuntutan dari Tuhan. Tidak! Iman Ayub masuk dalam suatu tingkatan yang lebih dalam.

II. Natur Allah

Dalam kitab Ayub, kita melihat Allah yang Maha Baik tetapi di sisi lain, kita mendapati Allah sebagai sosok pribadi yang inpersonal, pribadi yang dingin dan kejam. Sosok Allah seperti inilah yang disembah oleh Ayub dan kepada-Nya ia taat. Perhatikan, mengenal kehendak Allah dan mengenal Allah adalah dua hal yang berbeda. Sebab ada kemungkinan orang melakukan kehendak Allah tanpa mengenal Dia. Sebagai contoh, Musa sebelumnya hanya melakukan kehendak Allah tanpa ia mengenal Allah dan Musa bertindak sebelum waktu Tuhan akibatnya Musa ditolak oleh bangsanya sendiri. Pengenalan Musa dimulai ketika ia bertemu Tuhan di semak terbakar tetapi tidak hangus. Ketika Tuhan memerintahkan Musa untuk kembali ke Mesir dan menjadi pemimpin atas bangsa Israel, ia menolak karena ia takut mengalami sakit hati akibat penolakan untuk kedua kalinya. Musa melakukan kehendak Allah tanpa ia mengenal Allah. Paulus kepada jemaat Roma mengatakan kalau sesungguhnya mereka tidak mengenal Allah, mereka hanya melakukan kehendak-Nya. Orang yang demikian ini mempunyai tingkatan iman yang rendah. Seharusnya melakukan kehendak Allah merupakan ekspresi orang yang mengenal Allah. Dalam catatan akhir kitab Ayub kita menjumpai hal yang sangat mengejutkan (Ayb. 42:5-6). Dengan kata lain, Ayub mengakui bahwa tindakan ibadah yang dilakukannya selama ini adalah karena “kata orang“ sampai akhirnya melalui pergumulan iman yang panjang itu barulah Ayub mengenal Allah yang sejati. Inilah tujuan Allah mengijinkan iblis mencobai Ayub, yakni supaya iman Ayub mencapai satu tingkatan yang lebih tinggi. Kitab Ayub mau menyatakan bahwa Allah bukanlah seorang pribadi yang dengan kuasa-Nya bertindak semena-mena. Tidak! Allah adalah Allah yang peduli, Allah yang mengontrol segala sesuatu. Allah tidak akan pernah memberikan ijin pada setan untuk mencobai orang Kristen yang membawanya pada suatu posisi: semakin teguh imannya ataukah justru menjadi hancur. Tidak! Kalau Allah ijinkan iblis mencobai itu karena Allah tahu batas kemampuan kita.

Ayub mencoba mencari jawab atas kejadian yang menimpa dirinya dan ketiga teman Ayub tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatinya dan sampailah ia pada Allah. Tuhan pun menjawab seluruh pertanyaan Ayub dan jawaban itu berupa pertanyaan balik yang tajam kepada Ayub dan Tuhan menuntut jawaban dari Ayub (Ayb. 38 – 42). Menghadapi tantangan yang bertubi-tubi itu ia tidak dapat berkata-kata. Ayub pun mencabut perkataannya dan menyesalkan diri. Ayub adalah seorang yang jujur dan Tuhan memberikan jawaban yang jujur. Ayub bertemu dengan Tuhan yang berdaulat dan dia mengenal Tuhan yang sejati. Hati-hati, setan tidak berhasil membuat Ayub berdosa tetapi bukan berarti setan akan berhenti Tidak! Setan akan terus mencari orang yang dapat ditelannya (1Pet. 5:8). Hari ini, mungkin kita mengalami pergumulan iman yang berat dimana kita sulit mengenali Allah, namun ketahuilah Tuhan ada di sana, Dia mengendalikan seluruh aspek hidup kita, Dia akan menjagai kita. Sesungguhnya, tidak perlu bagi kita mendapatkan jawaban dari Tuhan. Asal sudah bertemu dengan Tuhan maka semua itu sudah cukup menghentikan seluruh pergumulan kita tentang Allah. Berarti iman kita tidak salah. Kitab Yak. 5:11 memberikan suatu kesimpulan tentang pergumulan Ayub, yakni Ayub disebut sebagai orang yang berbahagia karena ketekunannya atau yang diterjemahkan sebagai ketahanan (endurance, bhs Inggris). Allah telah memberikan peluang bagi Ayub untuk masuk dalam satu tingkatan iman yang lebih dalam dan lebih dalam lagi adalah juga Allah yang sama yang akan memberikan peluang bagi kita untuk masuk dalam tingkatan iman yang lebih tinggi lagi. Maukah saudara? Amin.

(sumber : Thomy J. Matakupan, http://sumberkristen.com/Kotbah/dinamika%20iman.htm)

Anggaplah Bahagia, Apabila Jatuh dalam Pencobaan

Dibandingkan dengan surat-surat lain dalam Perjanjian Baru, kitab Yakobus bukanlah kitab favorit bagi para teolog ataupun bagi para penulis buku-buku tafsiran sebab isinya terlalu praktis dibandingkan dengan kitab-kitab lain yang mengandung kedalaman doktrin. Sebaliknya, orang Kristen umumnya justru lebih akrab dengan surat Yakobus dibanding dengan surat-surat yang lain. Disaat orang merasa sudah mengerti maka kita justru harus lebih berhati-hati sebab biasanya kualitas pembacaan kita menjadi berbeda. Surat Yakobus tidaklah sesederhana itu, keunikannya justru terletak pada pemilihan kata-katanya, yaitu kata-kata yang dipakai oleh Yakobus sangatlah sederhana namun sangat akurat. Pertanyaannya adalah kalau orang sudah mengerti lalu apakah pengaplikasiannya semudah seperti saat membacanya? Ternyata, orang merasakan ada sebuah gap atau kesenjangan, hal ini disebabkan karena orang merasa “sudah“ tahu padahal sebenarnya ia belum tahu apa-apa maka tidaklah heran kalau kemudian orang gagal mengaplikasikan.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (Yak. 1:2). Ayat ini bukan berarti ketika kita berada dalam tekanan atau kesulitan, kita tidak boleh bersedih, kita harus tetap tersenyum. Tidak! Yakobus telah memilih kata yang tepat, yaitu kata “anggaplah“ bukan “rasakanlah.“ Terjemahan “anggaplah“ disini kurang tepat sebab sepertinya berkonotasi menipu diri, yaitu sebenarnya kita tidak suka tapi demi supaya tidak menyinggung perasaan orang lain maka kita seolah-olah harus menampakkan ekspresi kesukaan. Padahal kata “anggaplah“ dalam bahasa aslinya diterjemahkan “pertimbangkanlah.“ Jadi, bukan berkenaan dengan perasaan seseorang tapi berkenaan dengan bagaimana seseorang menilai suatu pencobaan yang datang atas dirinya. Di satu pihak, kita mungkin merasa gentar dan kuatir ketika kesulitan itu datang lalu bagaimana mempertimbangkan kesulitan itu sebagai suatu kebahagiaan? Tanpa disadari, sebenarnya sebagian orang pernah mengalami bagaimana mempertimbangkan suatu kesulitan itu sebagai suatu kebahagiaan. Sebagai contoh, setiap orang tua pasti merasa kuatir saat menghadapi kelahiran anak pertama, di satu pihak, kita merasa kuatir namun di pihak lain kita mempunyai pengharapan bahwa semua kekuatiran itu akan berubah menjadi suatu sukacita. Begitu juga ketika kita menghadapi ujian akhir. Celakanya, kalau orang justru larut dalam kegelisahan dan kemudian memutuskan tidak mau melahirkan atau tidak mau mengikuti ujian akhir maka ia tidak akan pernah merasakan anugerah Tuhan.

Mengapa dan apa yang akan kita dapatkan sehingga kita harus memandang pencobaan sebagai suatu kebahagiaan? Perhatikan, berbagai-bagai pencobaan itu merupakan ujian terhadap iman dimana ujian iman itu akan menghasilkan ketekunan (Yak. 2:3). Sayangnya, hal ini seringkali terlewatkan, ketika orang jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan, orang tidak lagi berpikir tentang iman atau bagaimana seharusnya berespon terhadap iman sebab rasa gelisah dan kuatir yang begitu kuat yang menyangkut harga diri seperti nama baik, keluarga, dan lain-lain sangat mempengaruhi pikirannya. Apakah kita masih tetap percaya dan bersandar pada Tuhan ataukah kita mulai meragukan-Nya?

Kita seharusnya malu karena kita telah menempatkan iman kita sedemikian rendah bahkan lebih rendah dari penilaian iblis tentang iman. Mengapa iblis tidak suka dengan Ayub, apakah karena Ayub mempunyai harta banyak ataukah karena Ayub mempunyai anak yang banyak? Tidak! Iblis tidak keberatan dengan semua itu yang iblis benci adalah imannya. Iblis tidak suka melihat iman anak Tuhan bertumbuh. Dengan segala cara, iblis berusaha menjatuhkan iman kita bahkan ia berani membayar mahal asal kita mau menjual iman kita. C. S. Lewis dalam bukunya Screwtape Letters, dikisahkan ada seorang setan senior bernama Screwtape menulis surat kepada keponakannya, Wormwood, yang isinya tentang tips menjatuhkan iman orang Kristen. Ingat, konteksnya adalah iblis yang berbicara maka musuh yang dimaksud disini yaitu anak Tuhan. Screwtape berkata,“ketika anak dari musuh kita, berada dalam lembah yang paling dalam maka justru disanalah ia akan bertumbuh dengan pesat dibandingkan kalau ia berada di puncak tertinggi dan Bapanya akan bersukacita kalau ada anak-Nya yang mempunyai keinginan untuk berjalan meski tertatih-tatih maka jangan senang dulu sebab kita justru berada dalam bahaya besar kalau seorang anak manusia yang tidak ingin berjalan namun masih mempunyai keinginan untuk berjalan atau ketika ia tidak menemukan satu jejakpun dari Bapanya dan bertanya-tanya apa kesalahannya sehingga ia ditinggalkan namun ia tetap taat.“ Perhatikan, setan lebih menghargai iman bahkan jauh daripada seorang manusia menghargai imannya; saat manusia berada dalam kesulitan, orang tidak lagi berpikir tentang iman. Adalah mustahil kalau orang berkata, “Aku mengasihi Engkau dan aku ingin memuliakan-Mu, Tuhan di sepanjang hidupku tapi sekali waktu aku boleh tidak taat, bukan?“ Pertanyaannya adalah benarkah sikap demikian itu dapat dikatakan sebagai mengasihi? Ingat, hal yang paling menyakitkan hati Tuhan adalah ketika Ia melihat anak-anak-Nya bersungut-sungut dan mulai meragukan kasih-Nya, kedaulatan-Nya dan keadilan-Nya.

Iman kita sangatlah berharga karena itu ujian terhadap iman itu sangatlah diperlukan sebab ujian terhadap iman itu akan menghasilkan ketekunan dan dari ketekunan itu akan diperoleh buah yang matang (Yak. 1:3-4). Iman, ketekunan dan buah yang matang merupakan satu kesatuan. Sama seperti bayi yang berada dalam kandungan, dilahirkan dan kemudian bertumbuh menjadi besar menunjuk pada satu orang yang sama. Douglas menggambarkan ketekunan itu seperti orang yang berhasil mengangkat beban berat untuk waktu yang lama. Sesungguhnya, kita ingin hidup sesuai dengan kehendak-Nya namun iman kita lemah sehingga kita sering terjatuh. Janganlah berkecil hati, itulah ujian iman. Di satu aspek mungkin kita berhasil bertekun, kita telah lulus dalam ujian iman namun jangan berpuas diri, ketekunan itu harus terus diproses dengan demikian akan diperoleh buah yang matang. Namun kalau kita mau jujur, apakah kita akan tetap bertekun kalau seandainya anak atau istri kita yang diuji ataukah iman kita akan menjadi goncang? Yakobus sangat akurat dan cermat menggunakan kalimat “berbagai-bagai pencobaan“ karena aspek iman kita juga lebih dari satu. Iman bukan menjadi bagian yang terisolasi di dalam diri sebab iman sangat berpengaruh dan terimplikasi dalam hidup kita sehari-hari.

Pencobaan merupakan ujian terhadap iman dimana ujian iman itu akan menghasilkan ketekunan dan ketekunan menghasilkan buah yang matang dengan demikian kita akan menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Sempurna disini bukan berarti kita menjadi malaikat dan kita tidak akan pernah terjatuh lagi. Tidak! Ketika iman kita diuji maka semua karakter dan seluruh keberadaan diri kita juga turut dibentuk dan disempurnakan sampai akhirnya menghasilkan buah yang matang. Tuhan Yesus ingin supaya kita menjadi sempurna seperti Dia lalu sudah seberapa jauhkah kita melihat pentingnya kedewasaan rohani? Sungguh sangatlah disayangkan, banyak anak Tuhan yang tidak dapat melihat pentingnya kematangan rohani sebab yang terpenting adalah justru mencari cara bagaimana supaya dapat keluar dan lepas dari masalah. Maka tidaklah heran kalau kemudian ada orang yang berpendapat bahwa Yak. 1:2-4 ini tidak relevan lagi.

Orang pasti sangat setuju dan memandang relevan andai ayat tersebut berbunyi demikian: “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu keluar dari berbagai-bagai pencobaan.“ Pertanyaannya adalah sampai kapan kita dapat keluar dari segala masalah hidup? Kita dapat keluar dari semua masalah kalau kita sudah berada di Sorga bersama dengan Bapa. Jangan pernah berpikir bahwa hidup kita akan menjadi lebih bahagia kalau satu masalah yang membebani hidup kita disingkirkan. Benarkah hanya ada satu masalah? Tidak! Hari ini mungkin satu masalah itu dapat kita selesaikan namun bukan berarti tidak timbul masalah lain. Tidak! Selama kita masih hidup di dunia maka kesulitan dan tantangan itu akan selalu ada dan itu menjadi ujian iman supaya semakin bertumbuh dan berakar kuat. Ketika Tuhan Yesus berkata pada perempuan Samaria yang berada di tepi sumur dan bangsa Israel bahwa minum air itu akan haus lagi dan makan manna, roti dari Sorga pun mereka akan mati namun bukan berarti Tuhan Yesus tidak menghargai air dan roti. Tidak! Bahkan pada waktu itu, Tuhan Yesus pun minta air dan Ia makan roti tapi satu hal yang Tuhan ajarkan yaitu bagaimana seharusnya kita menilai hal-hal yang baik di dunia. Tuhan Yesus memberikan air hidup yang akan terus memancar dan Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya“ (Yoh. 6:51). Banyak orang yang berpendapat bahwa Firman Tuhan ini sangatlah indah namun sulit dijalankan. Kalau memang benar, kita sudah menjadi anak Tuhan maka menjalankan Firman tidaklah sulit sebab Air Hidup itu sebenarnya sudah ada di dalam diri kita. Lalu dimana dan apa masalahnya sehingga air hidup itu tidak dapat memancar dalam diri kita? Masalahnya adalah karena kita belum mempunyai kedewasaan iman. Kalau kita menganggap bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus sangatlah berharga maka seharusnya kita patut bersyukur sebab Firman Tuhan telah memberikan kekuatan bahwa semua kesulitan dan tantangan yang kita hadapi itu justru untuk menjadikan kita sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Seorang penafsir mengaitkan ayat ini dan menunjuk pada tokoh-tokoh Perjanjian Lama khususnya seorang bernama Nuh.

Hari ini, kalau kita membaca kisah iman Abraham, ketaatan Nuh, kepemimpinan Musa dan beberapa tokoh iman yang lain, tentu kita akan merasa takjub dan kagum namun ingat, kesempurnaan itu mereka peroleh karena sebelumnya mereka telah melalui berbagai-bagai pencobaan dan pengujian iman sehingga menghasilkan ketekunan dan buah yang matang. Puji Tuhan, Dia telah membukakan pada kita dan memberikan teladan indah bahwa untuk menjadi serupa Kristus harulah melewati proses. Ironisnya, hari ini banyak orang yang ingin sukses tapi tidak mau melalui proses, orang tidak mau mengalami kesulitan. Sebuah tulisan mengatakan kalau anda ingin kaya maka jangan meniru orang kaya setelah ia menjadi kaya tetapi tirulah perjuangan dan kegigihannya sebelum ia kaya. Sebuah buku berjudul Saving the Blue mengisahkan kesuksesan Loe Gaetsner yang telah berhasil menyelamatkan perusahaan komputer IBM dari pailit namun sayang, buku tersebut tidak menuliskan tentang perjuangannya maka tidaklah heran kalau kemudian orang yang membaca buku tersebut juga ingin sukses tanpa melalui proses terlebih dahulu.


Alkisah ada seekor anak elang yang hidup di tengah-tengah sekawanan ayam. Tidak diceritakan bagaimana prosesnya sehingga elang ini dapat hidup di tengah-tengah sekawanan ayam. Sampai besar, anak elang ini masih menyangka bahwa dirinya adalah seekor ayam hingga suatu ketika ia melihat seekor burung elang melintas di atasnya, ia sangat kagum dan ia pun ingin menjadi elang. Sangatlah mengenaskan, sampai ia mati pun ia tidak menyadari bahwa ia sebenarnya adalah burung elang yang selama ini sangat ia kagumi. Akhirnya burung elang ini mati sebagai ayam. Bukankah kita seringkali juga demikian ketika kita melihat orang-orang yang sukses, kita menjadi takjub dan kita ingin menjadi seperti mereka tapi kemudian kita menjadi berkecil hati? Ingat, mereka tidak otomatis menjadi seperti itu, ada jalan panjang dan berliku yang harus dilalui. Dengan demikian kita dapat mengaminkan Firman Tuhan: anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan karena yang diuji adalah iman dan iman itu menghasilkan ketekunan dan ketekunan itu akan menghasilkan buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan suatu apapun.

Setelah kita memahami bahwa ujian iman itu adalah demi untuk kebaikan kita maka bukan berarti doa Bapa kami yang Tuhan ajarkan tidak relevan, yaitu ... jauhkanlah kami dari pencobaan.... Tidak! Di satu pihak, ketika kita jatuh dalam pencobaan kita menganggap itu sebagai kebahagiaan namun ketika kita belum jatuh dalam pencobaan maka tidak perlu kita menjatuhkan diri supaya jatuh dalam pencobaan. Injil Matius mencatat, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis (Mat. 4:1). Kata “dibawa oleh Roh“ yang dipakai sangatlah unik, yaitu kata yang dipakai ini biasa dipakai oleh Yesus untuk menengking setan, jadi, bukan Yesus sendiri yang berjalan masuk ke padang gurun. Yesus dihempaskan oleh Roh untuk masuk ke padang gurun untuk dicobai iblis. Jadi, bukan berarti kita boleh mencari-cari pencobaan atau setelah kita memahami Firman Tuhan, bukan berarti pula rasa kegentaran dan kekuatiran kita akan menjadi hilang. Tidak! Kegentaran dan kekuatiran itu mungkin masih tetap ada tapi bagaimana kita menganggap kesulitan itu sebagai suatu kebahagiaan maka itu menjadi tekad setiap anak Tuhan yang mau taat menjalankan Firman-Nya. Ingat, iman kita sangatlah berharga sehingga layak untuk diuji dan kalau kita mempunyai kerinduan bukan hanya sekedar ingin lepas dari masalah namun kita ingin mencapai pertumbuhan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu menjadi sempurna dan tidak kekurangan suatu apapun maka Firman Tuhan ini seharusnya menguatkan kita dengan demikian kita dapat dipakai Tuhan menjadi alat-Nya dan menjadi berkat bagi orang lain. Amin.

(sumber : kawanjaja.blogspot.com/ 2006/01/kotbah-di-atas-bukit.html - 32k -)


Allah turut bekerja dalam segala sesuatu

Renungan ini ditranskrip dan disusun kembali dari seri khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di Mimbar Gereja Reformed Injili Indonesia di Jakarta

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah, (Roma 8:28). Ayat ini tidak pernah kau temukan di dalam buku-buku klasik dari Gerika kuno. Juga penginterpretasian yang begitu tepat dan akurat, begitu baik dan total seperti ayat ini tidak akan dapat kau temukan dalam buku-buku Aristotle, Plato, Socrates, Heraclitos, Lucresius, Empedocles, Homer.

Kau tidak mungkin dapat menemukan ayat yang seindah ayat ini di dalam filsafat Descrates,Kiekegaard, ataupun Kant. Satu-satunya sumber bijaksana yang begitu besar di dalam alam semesta,yaitu Roh Kudus, mewahyukan kebenaran kepada manusia melalui Rasul-Nya, Paulus, sehingga dia mengatakan kalimat yang mengandung makna yang amat dalam ini. Paulus menemukan kunci untuk mengerti segala sesuatu berdasarkan wahyu Tuhan kepada manusia. Kita melihat ayat ini menonjol sendiri di dalam seluruh Alkitab. Ayat ini sangat unik, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, peristiwa yang besar atau yang kecil, yang menyenangkan atau yang menyusahkan, pengalaman yang pahit atau manis, yang mematikan atau menghidupkan, yang menguntungkan atau merugikan, mempunyai hubungan satu dengan yang lain, dan Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, atau Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan faedah bagi orang yang mengasihi-Nya.

Untuk menterjemahkan ayat ini saja terdapat begitu banyak versi, sebab begitu banyak
kemungkinan menurut bentuk dari bahasa aslinya. Dikatakan di sini kita tahu bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu; God is working with all things, in everything He works; Allah bekerja di dalam segala sesuatu atau yang diterjemahkan di sini menjadi 'Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu'. Terjemahan bahasa Mandarin: di dalam segala sesuatu ada kekuatan yang bekerja bersama untuk mendatangkan faedah bagi mereka yang mencintai Tuhan. Terjemahan NSV, ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelumnya, bahwa Roh Kuduslah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu yang terjadi, sehingga barangsiapa yang mencintai Tuhan mendapatkan profit dan kebaikan. Terjemahan bahasa Indonesia cukup indah, tetapi istilah turut bekerja kurang mencerminkan Allah sebagai inisiator. Allah Sebagai Inisiator

Because all things work together for good to those who love God. And God is working within all things; Allah ikut bekerja dalam segala sesuatu. Allah bekerja untuk mengatur segala sesuatu. Dia bukan hanya ikut-ikutan bekerja sebagai oknum yang pasif. Dia adalah inisiator yang mengontrol, memonitor dan menguasai sejarah. Allah kita adalah Allah yang memimpin sejarah, Tuhan dari sejarah. Allah kita tidak mungkin membiarkan segala sesuatu terjadi tanpa campur tangan atau izin-Nya. Yang
direncanakan berada dalam kehendak-Nya, yang diizinkan berada dalam kehendak-Nya, yang dibiarkan sekalipun tetap berada dalam kehendak-Nya. Allah memberikan kemungkinan dengan segala kebebasan yang liar, berbuat apapun, tapi akhirnya tetap dikuasai oleh-Nya. Jangan mengira kalau kita mau berbuat apa-apa, maka Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa. Allah membiarkan kita berdosa, membiarkan kita memakai kebebasan kita yang liar, tapi akhirnya kebebasan seperti itupun tidak bisa terlepas dari penghakiman-Nya. Dengan demikian orang Kristen mengetahui bahwa kedaulatan Tuhan berada dan melanda di dalam segala bidang, segala katagori, segala peristiwa dan segala sesuatu. Pemahaman ini akan membuat iman kita menjadi kuat.


Segala Sesuatu Bekerja Sama
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling dalam untuk mengerti segala sesuatu yang terjadi di dalam kosmos mempunyai makna dan telos (Yun: tujuan terakhir, Red) yang sesungguhnya. Allah memberikan segala sesuatu kepada manusia, Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi, dan Dia juga ikut memonitor segala sesuatu di dalam sejarah. Tetapi apakah maksud segala sesuatu? Apakah sebagai peristiwa yang berkeping-keping ataukah sebagai totalitas? Jawabannya, bukan berkeping-keping dan terpecah belah, tetapi merupakan ketotalan. Ada kaitan antar satu peristiwa dan peristiwa lain, sehingga orang Kristen mempunyai pandangan total tentang hidup. Kita menangkap dan mengerti segala sesuatu bukan sebagai peristiwa yang terpisah-pisah oleh waktu, oleh periode sejarah, oleh peristiwa-peristiwa yang bersifat fragmental, melainkan sebagai peristiwa yang total.

Seorang ayah memberikan mainan puzzle yang terdiri dari ribuan keping kepada anaknya. Anak itu bertanya, "Kalau saya sudah menyusunnya, akan menjadi gambar apa?" "Kau akan mendapatkan gambar peta dunia," jawab ayahnya. Si anak mulai menyusun, tetapi alangkah sulitnya menggabungkan potongan-potongan kecil dari peta dunia, karena setiap potongan itu hampir sama: garis, warna sungai,
kota, tempat, hanya itu saja. Anak itu menggabungkan potongan-potongan itu dengan susah payah. Akhirnya sang ayah berkata, "Kalau kaubalikkan semua potongan-potongan kecil itu, kau akan dapat mengerjakannya dengan mudah." Maka si anakpun berusaha membalikkan semua potongan kecil. Akhirnya dia mulai menemukan bahwa apa yang dikerjakan memang gampang. Karena di balik potongan itu terdapat warna yang gampang untuk dicocokkan. Setelah dia menggabungkan semuanya itu, dia menemukan bahwa gambaran yang jadi adalah Yesus kristus. Lalu diberikan lem dan dibalikkan,
ternyata peta dunia sudah jadi. Mengertikah Anda akan maksud saya?

Orang Kristen berbeda dengan orang yang bukan Kristen. Orang Kristen dididik dan diajar dengan kalimat yang agung ini, all things work together for good to those who love God. Ini merupakan pekerjaan Tuhan di belakang layar. Kalau kau memang adalah anak Tuhan yang mengasihi-Nya, tetapi dalam hidupmu terjadi hal-hal yang berlawanan dengan kesejahteraan, kesehatan, dan keinginanmu, jangan kecewa, menangis, dan mengeluh dengan tidak henti-hentinya. Karena kalau kau merasa sulit untuk menyusun semua kepingan-kepingan yang bisa menjadi gambaran total, pasti ada maksud Tuhan yang baik untukmu, pasti semua itu membawa akibat yang baik buatmu. Sampai kapankah iman kita baru bisa menyanyi seperti ini, "Biarlah segala sesuatu terjadi pada diriku, karena semua itu menjadi kebaikan bagiku yang mencintai Tuhan." Sampai kapankah kita bisa mempunyai iman yang teguh, sehingga kita berteriak seperti ini, "Biarlah semua kepahitan, penganiayaan, kesulitan, dan semua yang tidak aku inginkan menimpa diriku, aku tetap memuji Tuhan. Karena di belakang segala kepahitan,penderitaan, kesengsaraan, kerugian ada topangan dari tangan Tuhan, untuk memberikan faedah bagi diriku." Bila kerohanian seseorang sudah mencapai tahap ini, dia akan menjadi stabil luar biasa: biar diancam, diiri, dihantam, difitnah, diumpat, dia tetap tenang dan tersenyum.

Segala sesuatu bekerja bersama? Memang. Allah tidak mencetak peta dunia yang kelebihan satu atau kekurangan satu, sehingga akhirnya menjadi ompong-ompong. Tidak! Karena jikalau kau mengenal kehendak Kristus dan rencana Tuhan yang kekal secara total, maka hidup yang berada di dalam hidupmu dan pengalaman yang terjadi dalam hidupmu tidak ada satupun yang bisa dihapus. Banyak orang Kristen tidak mau digarap oleh Tuhan. Hanya mau sebagian, tidak mau all things. Hanya mau something, not all things. Only something and make you nothing. All things will make you something. Kalau kau tidak rela diatur oleh Tuhan dalam semuanya, kau always become nothing. Tapi bila kau menerima segala sesuatu dengan pengertian, ketaatan yang penuh, dan bijaksana yang dari Tuhan, kau akan dibentuk oleh Tuhan menjadi sesuatu.

Dua ribu dua ratus lima puluh tahun yang lalu Mensius berkata, tian jiang da ren yu shi ren ye, pi xian lao qi jing gu, jo qi fu; jikalau langit memberikan tugas yang berat kepada orang yang tertentu, maka orang itu pasti diberikan kesengsaraan besar, dilatih sampai semua ototnya lelah, dan hatinya penuh kepedihan, barulah dia akan menunaikan tugasnya. Sekali lagi saya menegaskan, tanpa salib tidak ada kebangkitan; tanpa kematian, tidak ada mahkota; tanpa Getsemani, tidak ada kemuliaan. Inilah cara
Tuhan. Pada waktu kita berada di dalam kesulitan, kita berusaha melarikan diri, tetapi Allah menghendaki kita mengalami segala sesuatu yang diizinkan datang melanda kita sebagai kesempatan untuk mendapatkan kemenangan.



Mendatangkan Faedah
Di sini kita melihat ada campur tangan Tuhan Allah di dalam segala sesuatu, dan semua campur tangan Allah mempunyai makna yang khusus: mendatangkan faedah, dan faedah ini khusus diberikan kepada mereka yang mencintai Dia. Mengapa Tuhan memperbolehkan kesengsaraan berada di dalam dunia? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan-kegagalan pribadi terjadi? Mengapa Tuhan tidak menolong pada saat kita sedang dicobai setan, bahkan kadang-kadang memperbolehkan kita berada di
dalam cengkeramannya? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang sulit ini sudah diberikan oleh orang-orang di dunia, baik para filsuf, moralis atau agamawan. Tetapi kecuali kita kembali kepada Kitab Suci, kita tidak mungkin mendapatkan jawaban yang paling tepat untuk hal ini. Mengapa Tuhan memperbolehkan sengsara itu ada? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan itu berada? Jika saya adalah seorang yang mengajar anak saya menyetir mobil, lalu pada waktu kesulitan tiba -- kalau memang dalam jangkauan saya--, saya akan berusaha mengerem, sehingga tidak akan terjadi tabrakan.
Mengapa Tuhan tidak mengerem? Mengapa Dia tidak memberikan interverensi darurat pada waktu kesulitan-kesulitan terjadi? Mengapa Tuhan memperbolehkan segala marabahaya terjadi? Mengapa, mengapa, mengapa? Kita bertanya dan bertanya terus. Sepanjang hidup, manusia adalah satu-satunya makhluk yang tidak habis-habisnya bertanya tentang peristiwa-peristiwa seperti ini.

Mengapa Allah memungkinkan dan membiarkan segala sesuatu terjadi? Martin Luther berkata, "There are no why in the heart of the true believer" ; tidak ada kata "mengapa" di dalam hati orang-orang yang sungguh beriman kepada Tuhan. Karena iman yang sejati sudah mencakup penerimaan dan pengertian bahwa Allah tidak mungkin berbuat salah. Kalau Allah tidak mungkin berbuat salah, maka segala sesuatu yang Ia izinkan terjadi pada diri kita adalah hal yang mempunyai faedah yang luar biasa
meskipun di luar kesanggupan kita untuk mengerti. Pada waktu kepicikan, menderita penyakit, mengalami kesulitan atau disalahmengerti, diserang oleh orang lain; pada waktu kau harus mengalami segala kesusahan yang jauh lebih berat dari kemungkinan yang dapat kau tanggung, jawablah because Thy will is like this, I except all of them
karena kehendak-Mu memang begitu indah. Kehendak Tuhan bukan saja indah di hari di mana kau mengalami kesuksesan, diberi berkat dan hadiah, kehendak Tuhan yang indah termasuk saat-saat kau diizinkan untuk menerima penderitaan dan kesulitan yang besar. Saya bukan pendeta yang berkata kepadamu, "Percaya kepada Tuhan, beri pesembahan sebanyak mungkin, supaya kau mendapatkan curahan berkat dari surga, sehingga menjadi kaya raya." Saya berkata kepadamu, di antaramu ada yang akan diberi kelancaran, kesehatan dan kekayaan, tapi sebagian mungkin akan diberi kecacatan,
kesulitan, dan segala penderitaan. Saya tidak tahu siapa. Tapi iman bukan hanya menyanyi di siang hari, iman juga bisa menyanyi pada waktu malam yang gelap. Iman bukan hanya memuji pada waktu lancar, iman selalu bersyukur di dalam penderitaan.

Mereka yang lancar, yang sukses, yang kaya, stop membanggakan diri, merebut kemuliaan Tuhan Allah dan menghina orang lain. Sedangkan mereka yang menangis, yang menderita dan yang berada di dalam kesengsaraan, yang sedang memikul salib berat, stop hujat Tuhan, stop mencela nama-Nya dan berhenti berbuat dosa dalam usaha untuk menyelesaikan kesulitan itu. Segala sesuatu yang diizinkan Tuhan terjadi di dalam hidup kita ada maksud tertentu yang sekarang terselubung dengan fenomena-fenomena
kesulitan, tetapi ada suatu pencerahan, pada waktu kau masuk ke dalam dirimu yang terdalam untuk menemukan jawaban dari Tuhan.

Pada waktu gereja berada di dalam kesulitan, pada waktu orang Kristen mencucurkan air mata, pada waktu kita mengalami segala kepicikan, jangan lupa bahwa Tuhan sedang menyatakan kemungkinan yang lain di luar dalil dan rumus-rumus umum darimu. Mari kita semua melepaskan diri dari segala kemungkinan yang mengakibatkan kita tercerai berai dari rumus dan pimpinan Tuhan yang dinamis dan begitu indah. Biarlah kita tetap peka dan betul-betul rendah hati dan taat kepada Tuhan setiap saat. Katakanlah, "Tuhan, segala sesuatu yang terjadi telah membawa aku lebih dekat kepada-Mu. Untuk yang baik, saya bersyukur kepada-Mu, bukan karena jasaku yang tidak baik, yang tidak menguntungkan, juga bukan satu hal yang khusus Tuhan pakai untuk menghantam saya, melainkan Tuhan memakainya untuk melatih diriku menjadi lebih baik."

Calvin dan komentator lain seperti F.F. Bruce melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya sebagai latihan buat orang Kristen saja. Namun saya melihat hal lebih luas dari itu, melampaui sekadar pengalaman pahit bagi orang Kristen saja. Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi? Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang seharusnya tidak terjadi? Saya tidak tahu. Tapi saya tahu satu hal, untuk menyempurnakan yang di dalam, perlu memotong bagian bagian
yang di luar; untuk menyempurnakan yang lebih kekal, perlu ajaran yang diberikan pada bagian luar. Kadang-kadang Tuhan harus memotong sesuatu, harus memukul sesuatu, sehingga kerugian yang sementara mengakibatkan kesempurnaan yang kekal. Penderitaan kedagingan mengakibatkan suatu kenikmatan rohani, sehingga kerusakan dan kekurangan secara fenomena dan hal yang terjadi di dunia mengakibatkan kita memikirkan hal yang kekal. Sebuah buku apologetika komunisme untuk melawan kekristenan yang saya baca mengatakan, "Jika orang Kristen mengatakan bahwa orang komunis bersalah banyak membunuh rakyatnya, kita akan membantah dengan berkata, 'Allahmu bersalah membunuh manusia lebih banyak daripada orang-orang komunis.' Satu kali bencana alam, seperti gunung meletus atau badai laut besar, ratusan ribu orang yang tidak bersalah harus dibunuh." Di dalam Kitab Suci kita melihat hal yang paling tidak masuk akal, atau
yang paling tidak bisa kita mengerti adalah peristiwa yang terjadi dalam hidup Ayub. Kesepuluh anaknya mati dalam satu hari, harta benda dirampas dan semua yang dia miliki lenyap dari tangannya. Bukan saja demikian, istrinyapun mulai meninggalkan dia. Hampir tidak ada contoh yang lebih mengerikan, tidak ada malapetaka yang lebih besar, yang bisa kita bayangkan daripada peristiwa yang terjadi pada diri Ayub. Hal tersebut perlu dicatat di dalam Alkitab, sehingga dari zaman ke zaman, waktu manusia bertanya, 'mengapa?' (sebenarnya kita tidak berhak bertanya) dia boleh mencatat
peristiwa Ayub. Alkitab mencatat akhirnya Tuhan mengembalikan semua milik Ayub yang hilang dua kali lipat dari sebelumnya. Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Di dalam iman, kita tidak perlu bertanya, "mengapa?" Jawabannya bukan dari spekulasi kepintaran kita, melainkan dari Kitab Suci: Allah belum pernah berbuat salah. Dan di dalam segala penderitaan, kesulitan dan bahkan kematian yang terjadi pada diri orang-orang yang mencintai Dia, ada rencana dan pemeliharaan yang kekal, yang jauh lebih tinggi daripada fasih lidah kita untuk berdebat, daripada pikiran kita berlogika, dan spekulasi kita dengan jawaban yang tidak sempurna.

Puji Tuhan! Jikalau hidupmu penuh dengan gelombang, pengoyakan, penyaringan, penggeseran, ujian, cobaan, namun akhirnya kau menang. Waktu kau bersaksi, kau tenang. Kalau orang lain sedang mengalami sesuatu, langsung kau bisa mengucapkan kata-kata yang indah yang bisa menenangkan dia. Bila orang lain menceritakan kesulitannya, kau langsung mengeluarkan kata-kata mutiara untuk menghibur dia. Bila ada yang tawar hati, kau langsung mengucapkan kata-kata perjuangan untuk mendorong dia.



Karena Kita Tahu
Jika pada ayat-ayat sebelumnya kita mendapati bahwa kita sebagai buah-buah sulung Roh
Kuduspun turut mengeluh, kita berada di dalam keadaan sengsara, penderitaan dan kesulitan yang tidak berbeda dengan mereka yang belum diselamatkan, yang bukan anak Tuhan. Kita adalah orang-orang yang sama-sama berada di dalam penderitaan tetapi status kita berbeda, karena kita adalah anak-anak Allah. Jika perbedaan status tidak membawa perbedaan kenikmatan, apa pula artinya? Memang hampir tidak ada perbedaan antara orang Kristen dan orang yang bukan Kristen dalam menghadapi kenikmatan
dan kesengsaraan di dalam dunia. Tetapi ada kenikmatan tertentu di dalam pengertian rohani orang percaya yang memberikan kesadaran dan kekuatan untuk melampaui segala sengsara sebagai fenomena yang sementara ini. Pada saat Paulus mengatakan kita tahu, dia sedang mengadakan perbedaan antara orang Kristen dan orang bukan Kristen, yaitu kita orang Kristen --mengetahui bahwa kita mempunyai pengertian yang berbeda dengan orang lain. Meskipun sama-sama berada dalam penderitaan, dalam kesulitan-kesulitan duniawi ini, orang Kristen mempunyai semacam kesadaran dan pengetahuan yang tidak mungkin dimiliki oleh mereka yang belum mengerti akan wahyu dari Tuhan Allah.Orang Kristen yang beriman, yang bervisi dan mempunyai pengertian melalui iman yang mendatangkan visi yang benar itu berani berkata seperti ini, "Karena kita tahu; because we know."Sejarah mencatat bagaimana orang Kristen di abad pertama mengalami pencemooon, penganiayaan, penderitaan dan perlakuan yang tidak adil dari pemerintah dunia yang melawan Yesus Kristus, seperti Herodes dan para kaisar Romawi. Mereka memperlakukan orang Kristen bagaikan sampah dunia, tetapi mereka merasa heran sekali, karena orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan dan penderitaan dapat berdiri dengan tegak, tegar, dan menyanyi di dalam penderitaan.Seorang sejarahwan Yahudi yang bernama Josephus berkata, "Saya tidak bisa mengerti, pada waktu singa menerkam mereka, orang Kristen tetap mempunyai wajah yang tenang, hati yang begitu stabil dan mereka memuji Yesus Kristus. Sebelum mati, suara pujian tidak henti-hentinya keluar dari mulut para martir-martir itu." Jawabannya terdapat di sini: sebab kita tahu; because we know. Iman yang sesungguhnya bukan iman yang tahayul, yang membius otak, yang menginjak-injak logika, melainkan iman yang menggugah pengertian yang sesungguhnya, yang sesuai dengan kebenaran Tuhan. Allah yang mewahyukan kebenaran, adalah juga Dia yang menciptakan otak manusia. Ketika kita menggabungkan kedua hal ini, kita tahu bahwa keduanya hanya mempunyai satu tujuan, yakni supaya kebenaran yang Tuhan wahyukan boleh memimpin pikiran yang dicipta oleh Tuhan yang sama. Begitu banyak kaum cendikiawan, kaum intelektual ketika mengembangkan intelek mereka, mereka tidak memiliki penguasa intelek. Sebab itu, mereka bersandar pada pikiran, otak dan logika mereka sendiri. Maka semakin seseorang memiliki kepintaran, semakin mungkin dia berada di dalam hati yang gelap. Semakin mereka bertumbuh secara pengetahuan, mereka semakin jauh dari kerelaan untuk mematahui kebenaran Tuhan Allah. Sebab itu, iman kepercayaan bukan membunuh logika atau otak melainkan memimpin otak yang Tuhan ciptakan itu untuk kembali kepada firman yang Dia wahyukan. Inilah yang membuat Paulus mencetuskan because we know.

Apakah bedanya penderitaan bagi orang yang beriman dan bagi orang yang tidak beriman? Bagi orang yang beriman, penderitaan akan membuat imannya menghasilkan pengharapan. Namun bagi mereka yang tidak beriman, penderitaan justru membunuh pengharapan mereka. Inilah perbedaan antara orang yang memiliki dinamika iman dan mereka yang tidak memilikinya. Saya mengambil contoh dari dua orang terpidana mati. Mereka menerima vonis yang sama, tinggal di dalam kamar yang sama kondisinya, dan di dalam penjara yang sama. Namun akhirnya salah seorang di antara mereka mendapatkan pengampunan, dan yang seorang lagi tetap dipidana mati. Penjaga penjara datang
memberitahukan kepada A, "Sepuluh hari lagi kau akan dibebaskan." Lalu kepada si B ia mengatakan, "Sepuluh hari lagi kepalamu akan dipenggal." Permisi tanya, apakah bedanya sepuluh hari itu untuk mereka berdua? Mereka tetap berada di dalam keadaan yang sama, hidup di bawah atap yang sama, penjara yang sama, dalam penderitaan yang sama tetapi yang seorang berpikir, "Sepuluh hari lagi aku akan pulang, bertemu dengan istri dan anak yang merindukanku." Sedangkan yang satu lagi berpikir,
"Sepuluh hari lagi saya akan mati, kepala saya akan dipenggal dan dikuburkan." Sepuluh hari lagi memang sama jumlahnya bagi si A dan bagi si B, namun perasaan mereka berbeda. Karena yang seorang sudah memperoleh keyakinan, jaminan, dan pengharapan untuk bebas. Sementara yang lain menantikan eksekusi vonisnya, kepalanya akan dipenggal dan dia akan menuju kepada kematian yang belum dia ketahui. Maka ketika si A menghitung hari-harinya, "Sisa 9 hari, 8 hari, 7 hari, 6 hari, 3 hari,
2 hari dan besok, saya akan keluar dari sini. Istri saya sedang menunggu," pengharapan itu memberikan gairah dan kekuatan yang luar biasa bagi jiwanya. Tetapi bagi yang seorang lagi, setiap matahari terbit merupakan kutukan baginya, dan ketika matahari terbenam merupakan ancaman baginya. "9 hari, 8 hari, 7 hari, 3 hari, 2 hari lagi saya harus mati." Ini melukiskan perbedaan antara orang Kristen dan mereka
yang tidak beriman kepada Tuhan.

Because we know, karena kita tahu. Kalimat ini merupakan proklamasi bagi orang yang beriman kepada Tuhan. Kalimat ini juga diucapkan oleh seorang yang hidup sebelum Musa lahir, yaitu Ayub. Ayub 19:25 menyatakan, "Because I know my redeemer lives; karena aku tahu Penebusku hidup dan satu hari nanti Dia akan berdiri di atas bumi ini untuk menghakimi segala sesuatu, dan di dalam tubuhku aku akan berjumpa dengan-Nya." Pengetahuan yang diutarakan oleh Ayub ini melukiskan pengharapan
yang mempersatukan kekekalan dengan kesementaraan. "Aku mengetahui Tuhanku, Penebusku hidup."Inilah kalimat pertama dalam Alkitab yang mencetuskan iman kepercayaan orang Kristen yang melampaui semua agama. "Karena Penebusku adalah Penebus yang mengalahkan kematian dan bangkit,
sehingga Dia hidup. Aku tahu bahwa Penebusku hidup dan pada hari terakhir, ketika dunia kiamat, Dia akan berdiri di atas bumi ini. Dia akan datang kembali." Pada waktu Ayub menulis ayat yang begitu penting, Kristus belum inkarnasi, belum datang ke dalam dunia, belum mengalahkan pencobaan, belum dipakukan di atas kayu salib, belum dikuburkan, belum dibangkitkan pula dari antara orang mati. Tetapi
Ayub melihat dengan iman akan wahyu yang Tuhan berikan dalam hatinya. Dia mengetahui sedalam-dalamnya bahwa Penebusnya hidup, dan pada hari kiamat nanti Dia akan berdiri di dunia ini untuk mengatasi dan menghakimi seluruh umat manusia.

All things work together, begitu banyak hal yang Tuhan perbolehkan terjadi, pada waktu kita tidak mengerti, jangan kita bersungut-sungut, atau melawan Dia, atau marah kepada-Nya, biarlah orang Kristen belajar bersabar untuk menunggu, serta berkata di dalam hati, Tuhan, apa yang Kau kerjakan lebih besar daripada kemungkinan aku mengerti, biarlah aku bersabar dan hanya taat kepada-Mu saja. Sebab itu saya menghimbau orang kaya jangan menghina orang miskin, orang miskin juga jangan iri
terhadap orang kaya, orang pandai jangan membiarkan diri congkak, dan orang yang kurang pandai juga jangan menghina dirinya sendiri. Karena segala sesuatu yang berada di bawah pengaturan Tuhan akan menjadi baik dan indah jika motivasi kita adalah cinta kepada-Nya. Allah memperbolehkan penderitaan, kesengsaraan, kesulitan menimpa seseorang untuk membuktikan bahwa orang yang mencintai-Nya tidak akan dihancurkan oleh penderitaan. Jika seseorang tetap bersih, tetap setia, tetap mempunyai watak yang anggun dalam penderitaan dan kesengsaraan, maka Tuhan akan berkata kepada setan, "Coba lihat anak-Ku yang satu ini, meskipun diberi penderitaan dan kesengsaraan, ia tetap teguh, tetap jujur, tetap berdiri dengan teguh dan setia kepada-Ku." Penderitaan-penderitaan yang diizinkan oleh Tuhan untuk menimpa diri orang Kristen adalah alat yang paling baik untuk membuat setan undur. Penderitaan-penderitaan besar yang Tuhan berikan adalah yang paling baik bagi kita untuk menyumbat mulut Iblis yang selalu menuduh kita.

Ada 3 pekerjaan setan yang besar, yang dicatat oleh Alkitab:
1. Setan adalah pencoba manusia, yang menggoda manusia berbuat dosa.
2. Setan adalah perintang Allah dalam menghambat terlaksananya rencana-rencana Allah.
3. Setan adalah penuduh orang suci akan dosanya di hadapan Tuhan Allah siang dan malam.

Ketiga hal ini adalah pekerjaan setan yang tidak habis-habisnya. Tuhan memperbolehkan semua ini terjadi, tapi bagi mereka yang mencintai Tuhan, ada jalan keluarnya. Setan menuduh, mencobai dan merintangi, karena itulah pekerjaannya. Mengapa Allah membiarkan setan ini berada? Untuk membuktikan sekalipun setan ada, tetap tidak mungkin menjatuhkan gereja. Sepanjang sejarah, gereja telah diombang-ambingkan, dikacaukan oleh setan. Banyak pemimpin-pemimpin gereja yang tidak
waspada, malah lebih suka bekerja dengan setan, untuk menjadi alat setan, sehingga tubuh dan gereja Yesus Kristus kehilangan kemuliaan yang sesungguhnya.

Dalam Mzm 119, Mazmur yang terpanjang, terdapat beberapa kalimat mengenai sengsara. Dan ada dua ayat yang sangat penting, yaitu ayat 67 dan 71, yang di dalamnya terdapat dua istilah mengenai penderitaan. Pemazmur berkata, "sebelum menderita, aku pernah jalan sesat." (terj. LAI: 'tertindas',Red). Kedua, "penderitaan itu berfaedah bagi diriku." Saya minta engkau memikirkan kedua kalimat itu. Sebelum penderitaan, saya selalu berjalan pada jalan yang sesat, dan di dalam penderitaan, saya mengalami faedah dari Tuhan Allah. Tidak pernah ada sebuah cincin emas yang tidak melewati api.
Tidak pernah ada sebuah berlian yang tidak mengalami asahan dan dibentuk dengan indah. Tidak ada pakaian yang indah yang tidak mengalami digunting dan dijahit dengan jarum yang tajam. Jika emas memerlukan api, sehingga warnanya nyata, berarti pembakaran adalah hal yang sangat diperlukan oleh setiap orang. Jika berlian perlu diasah sampai bisa berbentuk indah, berarti orang Kristen juga memerlukan penderitaan. Demikian juga ketika kain yang indah dipotong oleh gunting yang tajam dan jarum yang menusuk, semua itu membuktikan ketika kita berada di tangan Tuhan, Tuhan memperbolehkan segala penderitaan menimpa diri kita merupakan rencana yang agung untuk kebaikan kita. Puji Tuhan! Mengapa Allah membiarkan setan ada? Jawabannya tetap dari kitab Ayub, di mana Tuhan memegahkan, memuliakan Ayub dan berbantah dengan setan, "Bukankah kau minta kepada-Ku agar hidup Ayub disiksa olehmu? Agar tubuh Ayub diberi sebanyak mungkin penyakit?" Jangan kita
memutlakkan semua penderitaan dan penyakit berasal dari setan. Itu adalah ajaran yang tidak benar. Semua penyakit dan semua penderitaan kalau bukan diizinkan oleh Tuhan, setanpun tidak mungkin memberikannya pada tubuh orang Kristen. Jika Tuhan mengizinkan, meskipun penyakit-penyakit itu menyerang diri kita, orang yang mencintai Tuhan pada akhirnya akan mengalahkan semua itu. "Sekarang lihatlah," kata Tuhan, "bahwa imannya terhadap-Ku tetap teguh." Iman kepercayaan orang Kristen tidak boleh hanya dibangun di atas bahagia dan keuntungan yang Tuhan berikan kepada
kita. Saya percaya hari ini di antara Anda ada yang lancar luar biasa, ada yang sama sekali tidak lancar, ada yang berdagang mati-matian, kerja dengan sesetia mungkin tapi terus tidak mendapat keuntungan, ada yang sepertinya tidak usah bekerja apa-apa, hanya dengan mengangkat telpon saja sudah dapat uang milyaran uang.

Saya tidak mengerti mengapa. Namun saya berkata kepadamu, pada saat ujian, pencobaan,
kesulitan, dan penderitaan menimpa dirimu, janganlah kau cepat-cepat bersungut-sungut kepada Tuhan, karena itulah waktu setan memakai dirimu untuk mencela Tuhan. Saat itu biarlah kau kembali kepada Alkitab, "Sebab aku tahu, segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan faedah bagi mereka yang cinta Tuhan." Dalam kesulitan yang bagaimanapun, peliharalah hatimu yang cinta kepada-Nya, peliharalah pikiranmu yang bersih, peliharalah hatimu yang tidak mau ditinggalkan oleh cinta Tuhan. Peliharalah dirimu di dalam kasih Allah senantiasa. Tegakkan dirimu di atas firman Tuhan yang suci dan yang benar itu, dan berdoalah di dalam Roh Kudus. Sekali lagi saya menjelaskan istilah ini, berdoa di dalam Roh Kudus tidak berarti berdoa di dalam
bahasa Roh, sebagaimana berjalan di dalam Roh tidak berarti berjalan dengan bahasa Roh, melainkan berarti mengikuti pimpinan dan jejak Roh Kudus, sehingga perjalanan hidup sehari-hari kita dipimpin oleh oknum ketiga dari Allah Tritunggal. Dan berdoa dalam Roh berarti seluruh hidup doa kita adalah doa yang dipimpin dalam naungan Roh Kudus. Karena Roh dengan keluh kesah yang tidak terkatakan telah membantu mengoreksi doa kita menjadi doa yang suci dan murni, yang boleh berkenan kepada Tuhan Allah.

Allah Bapa dengan kasih-Nya melindungi kita, Allah Anak dengan firman-Nya mendidik kita, Allah Roh Kudus dengan kebijaksanaan yang melampaui manusia memimpin kita, dan dengan keluh kesah-Nya menolong kita berdoa. Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita, dan kitapun jangan meninggalkan Dia. Jangan kita berusaha keluar daripada tangan Tuhan lalu kita minta dipelihara, itu tidak mungkin. Biarlah kita tetap berada di dalam cinta Tuhan, dan barangsiapa yang mencintai Tuhan mendapatkan faedah. All things work together for good to those who love Him. Siapakah di antara kita yang berkata, "Tuhan, di hari -hari aku lancar aku cinta Kau, di hari-hari aku sehat aku cinta Kau, di hari-hari aku beruntung aku cinta Kau, di hari -hari aku merasa picik dan tidak lancar, di hari-hari aku mengalami penderitaan, kerugian, Tuhan aku mau tetap cinta Kau." Tuhan akan menghapus air matamu untuk melihat bahwa hari depanmu tetap ada penyertaan-Nya, Dia tidak
akan meninggalkanmu. Karena segala sesuatu bekerja sama mendatangkan faedah bagi mereka yang mengasihi Dia.


Sumber: Majalah MOMENTUM No. 26 - April 1995
http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/allahbkr.html