Minggu, 14 Februari 2010

Anggaplah Bahagia, Apabila Jatuh dalam Pencobaan

Dibandingkan dengan surat-surat lain dalam Perjanjian Baru, kitab Yakobus bukanlah kitab favorit bagi para teolog ataupun bagi para penulis buku-buku tafsiran sebab isinya terlalu praktis dibandingkan dengan kitab-kitab lain yang mengandung kedalaman doktrin. Sebaliknya, orang Kristen umumnya justru lebih akrab dengan surat Yakobus dibanding dengan surat-surat yang lain. Disaat orang merasa sudah mengerti maka kita justru harus lebih berhati-hati sebab biasanya kualitas pembacaan kita menjadi berbeda. Surat Yakobus tidaklah sesederhana itu, keunikannya justru terletak pada pemilihan kata-katanya, yaitu kata-kata yang dipakai oleh Yakobus sangatlah sederhana namun sangat akurat. Pertanyaannya adalah kalau orang sudah mengerti lalu apakah pengaplikasiannya semudah seperti saat membacanya? Ternyata, orang merasakan ada sebuah gap atau kesenjangan, hal ini disebabkan karena orang merasa “sudah“ tahu padahal sebenarnya ia belum tahu apa-apa maka tidaklah heran kalau kemudian orang gagal mengaplikasikan.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (Yak. 1:2). Ayat ini bukan berarti ketika kita berada dalam tekanan atau kesulitan, kita tidak boleh bersedih, kita harus tetap tersenyum. Tidak! Yakobus telah memilih kata yang tepat, yaitu kata “anggaplah“ bukan “rasakanlah.“ Terjemahan “anggaplah“ disini kurang tepat sebab sepertinya berkonotasi menipu diri, yaitu sebenarnya kita tidak suka tapi demi supaya tidak menyinggung perasaan orang lain maka kita seolah-olah harus menampakkan ekspresi kesukaan. Padahal kata “anggaplah“ dalam bahasa aslinya diterjemahkan “pertimbangkanlah.“ Jadi, bukan berkenaan dengan perasaan seseorang tapi berkenaan dengan bagaimana seseorang menilai suatu pencobaan yang datang atas dirinya. Di satu pihak, kita mungkin merasa gentar dan kuatir ketika kesulitan itu datang lalu bagaimana mempertimbangkan kesulitan itu sebagai suatu kebahagiaan? Tanpa disadari, sebenarnya sebagian orang pernah mengalami bagaimana mempertimbangkan suatu kesulitan itu sebagai suatu kebahagiaan. Sebagai contoh, setiap orang tua pasti merasa kuatir saat menghadapi kelahiran anak pertama, di satu pihak, kita merasa kuatir namun di pihak lain kita mempunyai pengharapan bahwa semua kekuatiran itu akan berubah menjadi suatu sukacita. Begitu juga ketika kita menghadapi ujian akhir. Celakanya, kalau orang justru larut dalam kegelisahan dan kemudian memutuskan tidak mau melahirkan atau tidak mau mengikuti ujian akhir maka ia tidak akan pernah merasakan anugerah Tuhan.

Mengapa dan apa yang akan kita dapatkan sehingga kita harus memandang pencobaan sebagai suatu kebahagiaan? Perhatikan, berbagai-bagai pencobaan itu merupakan ujian terhadap iman dimana ujian iman itu akan menghasilkan ketekunan (Yak. 2:3). Sayangnya, hal ini seringkali terlewatkan, ketika orang jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan, orang tidak lagi berpikir tentang iman atau bagaimana seharusnya berespon terhadap iman sebab rasa gelisah dan kuatir yang begitu kuat yang menyangkut harga diri seperti nama baik, keluarga, dan lain-lain sangat mempengaruhi pikirannya. Apakah kita masih tetap percaya dan bersandar pada Tuhan ataukah kita mulai meragukan-Nya?

Kita seharusnya malu karena kita telah menempatkan iman kita sedemikian rendah bahkan lebih rendah dari penilaian iblis tentang iman. Mengapa iblis tidak suka dengan Ayub, apakah karena Ayub mempunyai harta banyak ataukah karena Ayub mempunyai anak yang banyak? Tidak! Iblis tidak keberatan dengan semua itu yang iblis benci adalah imannya. Iblis tidak suka melihat iman anak Tuhan bertumbuh. Dengan segala cara, iblis berusaha menjatuhkan iman kita bahkan ia berani membayar mahal asal kita mau menjual iman kita. C. S. Lewis dalam bukunya Screwtape Letters, dikisahkan ada seorang setan senior bernama Screwtape menulis surat kepada keponakannya, Wormwood, yang isinya tentang tips menjatuhkan iman orang Kristen. Ingat, konteksnya adalah iblis yang berbicara maka musuh yang dimaksud disini yaitu anak Tuhan. Screwtape berkata,“ketika anak dari musuh kita, berada dalam lembah yang paling dalam maka justru disanalah ia akan bertumbuh dengan pesat dibandingkan kalau ia berada di puncak tertinggi dan Bapanya akan bersukacita kalau ada anak-Nya yang mempunyai keinginan untuk berjalan meski tertatih-tatih maka jangan senang dulu sebab kita justru berada dalam bahaya besar kalau seorang anak manusia yang tidak ingin berjalan namun masih mempunyai keinginan untuk berjalan atau ketika ia tidak menemukan satu jejakpun dari Bapanya dan bertanya-tanya apa kesalahannya sehingga ia ditinggalkan namun ia tetap taat.“ Perhatikan, setan lebih menghargai iman bahkan jauh daripada seorang manusia menghargai imannya; saat manusia berada dalam kesulitan, orang tidak lagi berpikir tentang iman. Adalah mustahil kalau orang berkata, “Aku mengasihi Engkau dan aku ingin memuliakan-Mu, Tuhan di sepanjang hidupku tapi sekali waktu aku boleh tidak taat, bukan?“ Pertanyaannya adalah benarkah sikap demikian itu dapat dikatakan sebagai mengasihi? Ingat, hal yang paling menyakitkan hati Tuhan adalah ketika Ia melihat anak-anak-Nya bersungut-sungut dan mulai meragukan kasih-Nya, kedaulatan-Nya dan keadilan-Nya.

Iman kita sangatlah berharga karena itu ujian terhadap iman itu sangatlah diperlukan sebab ujian terhadap iman itu akan menghasilkan ketekunan dan dari ketekunan itu akan diperoleh buah yang matang (Yak. 1:3-4). Iman, ketekunan dan buah yang matang merupakan satu kesatuan. Sama seperti bayi yang berada dalam kandungan, dilahirkan dan kemudian bertumbuh menjadi besar menunjuk pada satu orang yang sama. Douglas menggambarkan ketekunan itu seperti orang yang berhasil mengangkat beban berat untuk waktu yang lama. Sesungguhnya, kita ingin hidup sesuai dengan kehendak-Nya namun iman kita lemah sehingga kita sering terjatuh. Janganlah berkecil hati, itulah ujian iman. Di satu aspek mungkin kita berhasil bertekun, kita telah lulus dalam ujian iman namun jangan berpuas diri, ketekunan itu harus terus diproses dengan demikian akan diperoleh buah yang matang. Namun kalau kita mau jujur, apakah kita akan tetap bertekun kalau seandainya anak atau istri kita yang diuji ataukah iman kita akan menjadi goncang? Yakobus sangat akurat dan cermat menggunakan kalimat “berbagai-bagai pencobaan“ karena aspek iman kita juga lebih dari satu. Iman bukan menjadi bagian yang terisolasi di dalam diri sebab iman sangat berpengaruh dan terimplikasi dalam hidup kita sehari-hari.

Pencobaan merupakan ujian terhadap iman dimana ujian iman itu akan menghasilkan ketekunan dan ketekunan menghasilkan buah yang matang dengan demikian kita akan menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Sempurna disini bukan berarti kita menjadi malaikat dan kita tidak akan pernah terjatuh lagi. Tidak! Ketika iman kita diuji maka semua karakter dan seluruh keberadaan diri kita juga turut dibentuk dan disempurnakan sampai akhirnya menghasilkan buah yang matang. Tuhan Yesus ingin supaya kita menjadi sempurna seperti Dia lalu sudah seberapa jauhkah kita melihat pentingnya kedewasaan rohani? Sungguh sangatlah disayangkan, banyak anak Tuhan yang tidak dapat melihat pentingnya kematangan rohani sebab yang terpenting adalah justru mencari cara bagaimana supaya dapat keluar dan lepas dari masalah. Maka tidaklah heran kalau kemudian ada orang yang berpendapat bahwa Yak. 1:2-4 ini tidak relevan lagi.

Orang pasti sangat setuju dan memandang relevan andai ayat tersebut berbunyi demikian: “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu keluar dari berbagai-bagai pencobaan.“ Pertanyaannya adalah sampai kapan kita dapat keluar dari segala masalah hidup? Kita dapat keluar dari semua masalah kalau kita sudah berada di Sorga bersama dengan Bapa. Jangan pernah berpikir bahwa hidup kita akan menjadi lebih bahagia kalau satu masalah yang membebani hidup kita disingkirkan. Benarkah hanya ada satu masalah? Tidak! Hari ini mungkin satu masalah itu dapat kita selesaikan namun bukan berarti tidak timbul masalah lain. Tidak! Selama kita masih hidup di dunia maka kesulitan dan tantangan itu akan selalu ada dan itu menjadi ujian iman supaya semakin bertumbuh dan berakar kuat. Ketika Tuhan Yesus berkata pada perempuan Samaria yang berada di tepi sumur dan bangsa Israel bahwa minum air itu akan haus lagi dan makan manna, roti dari Sorga pun mereka akan mati namun bukan berarti Tuhan Yesus tidak menghargai air dan roti. Tidak! Bahkan pada waktu itu, Tuhan Yesus pun minta air dan Ia makan roti tapi satu hal yang Tuhan ajarkan yaitu bagaimana seharusnya kita menilai hal-hal yang baik di dunia. Tuhan Yesus memberikan air hidup yang akan terus memancar dan Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya“ (Yoh. 6:51). Banyak orang yang berpendapat bahwa Firman Tuhan ini sangatlah indah namun sulit dijalankan. Kalau memang benar, kita sudah menjadi anak Tuhan maka menjalankan Firman tidaklah sulit sebab Air Hidup itu sebenarnya sudah ada di dalam diri kita. Lalu dimana dan apa masalahnya sehingga air hidup itu tidak dapat memancar dalam diri kita? Masalahnya adalah karena kita belum mempunyai kedewasaan iman. Kalau kita menganggap bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus sangatlah berharga maka seharusnya kita patut bersyukur sebab Firman Tuhan telah memberikan kekuatan bahwa semua kesulitan dan tantangan yang kita hadapi itu justru untuk menjadikan kita sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Seorang penafsir mengaitkan ayat ini dan menunjuk pada tokoh-tokoh Perjanjian Lama khususnya seorang bernama Nuh.

Hari ini, kalau kita membaca kisah iman Abraham, ketaatan Nuh, kepemimpinan Musa dan beberapa tokoh iman yang lain, tentu kita akan merasa takjub dan kagum namun ingat, kesempurnaan itu mereka peroleh karena sebelumnya mereka telah melalui berbagai-bagai pencobaan dan pengujian iman sehingga menghasilkan ketekunan dan buah yang matang. Puji Tuhan, Dia telah membukakan pada kita dan memberikan teladan indah bahwa untuk menjadi serupa Kristus harulah melewati proses. Ironisnya, hari ini banyak orang yang ingin sukses tapi tidak mau melalui proses, orang tidak mau mengalami kesulitan. Sebuah tulisan mengatakan kalau anda ingin kaya maka jangan meniru orang kaya setelah ia menjadi kaya tetapi tirulah perjuangan dan kegigihannya sebelum ia kaya. Sebuah buku berjudul Saving the Blue mengisahkan kesuksesan Loe Gaetsner yang telah berhasil menyelamatkan perusahaan komputer IBM dari pailit namun sayang, buku tersebut tidak menuliskan tentang perjuangannya maka tidaklah heran kalau kemudian orang yang membaca buku tersebut juga ingin sukses tanpa melalui proses terlebih dahulu.


Alkisah ada seekor anak elang yang hidup di tengah-tengah sekawanan ayam. Tidak diceritakan bagaimana prosesnya sehingga elang ini dapat hidup di tengah-tengah sekawanan ayam. Sampai besar, anak elang ini masih menyangka bahwa dirinya adalah seekor ayam hingga suatu ketika ia melihat seekor burung elang melintas di atasnya, ia sangat kagum dan ia pun ingin menjadi elang. Sangatlah mengenaskan, sampai ia mati pun ia tidak menyadari bahwa ia sebenarnya adalah burung elang yang selama ini sangat ia kagumi. Akhirnya burung elang ini mati sebagai ayam. Bukankah kita seringkali juga demikian ketika kita melihat orang-orang yang sukses, kita menjadi takjub dan kita ingin menjadi seperti mereka tapi kemudian kita menjadi berkecil hati? Ingat, mereka tidak otomatis menjadi seperti itu, ada jalan panjang dan berliku yang harus dilalui. Dengan demikian kita dapat mengaminkan Firman Tuhan: anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan karena yang diuji adalah iman dan iman itu menghasilkan ketekunan dan ketekunan itu akan menghasilkan buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan suatu apapun.

Setelah kita memahami bahwa ujian iman itu adalah demi untuk kebaikan kita maka bukan berarti doa Bapa kami yang Tuhan ajarkan tidak relevan, yaitu ... jauhkanlah kami dari pencobaan.... Tidak! Di satu pihak, ketika kita jatuh dalam pencobaan kita menganggap itu sebagai kebahagiaan namun ketika kita belum jatuh dalam pencobaan maka tidak perlu kita menjatuhkan diri supaya jatuh dalam pencobaan. Injil Matius mencatat, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis (Mat. 4:1). Kata “dibawa oleh Roh“ yang dipakai sangatlah unik, yaitu kata yang dipakai ini biasa dipakai oleh Yesus untuk menengking setan, jadi, bukan Yesus sendiri yang berjalan masuk ke padang gurun. Yesus dihempaskan oleh Roh untuk masuk ke padang gurun untuk dicobai iblis. Jadi, bukan berarti kita boleh mencari-cari pencobaan atau setelah kita memahami Firman Tuhan, bukan berarti pula rasa kegentaran dan kekuatiran kita akan menjadi hilang. Tidak! Kegentaran dan kekuatiran itu mungkin masih tetap ada tapi bagaimana kita menganggap kesulitan itu sebagai suatu kebahagiaan maka itu menjadi tekad setiap anak Tuhan yang mau taat menjalankan Firman-Nya. Ingat, iman kita sangatlah berharga sehingga layak untuk diuji dan kalau kita mempunyai kerinduan bukan hanya sekedar ingin lepas dari masalah namun kita ingin mencapai pertumbuhan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu menjadi sempurna dan tidak kekurangan suatu apapun maka Firman Tuhan ini seharusnya menguatkan kita dengan demikian kita dapat dipakai Tuhan menjadi alat-Nya dan menjadi berkat bagi orang lain. Amin.

(sumber : kawanjaja.blogspot.com/ 2006/01/kotbah-di-atas-bukit.html - 32k -)


Allah turut bekerja dalam segala sesuatu

Renungan ini ditranskrip dan disusun kembali dari seri khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di Mimbar Gereja Reformed Injili Indonesia di Jakarta

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah, (Roma 8:28). Ayat ini tidak pernah kau temukan di dalam buku-buku klasik dari Gerika kuno. Juga penginterpretasian yang begitu tepat dan akurat, begitu baik dan total seperti ayat ini tidak akan dapat kau temukan dalam buku-buku Aristotle, Plato, Socrates, Heraclitos, Lucresius, Empedocles, Homer.

Kau tidak mungkin dapat menemukan ayat yang seindah ayat ini di dalam filsafat Descrates,Kiekegaard, ataupun Kant. Satu-satunya sumber bijaksana yang begitu besar di dalam alam semesta,yaitu Roh Kudus, mewahyukan kebenaran kepada manusia melalui Rasul-Nya, Paulus, sehingga dia mengatakan kalimat yang mengandung makna yang amat dalam ini. Paulus menemukan kunci untuk mengerti segala sesuatu berdasarkan wahyu Tuhan kepada manusia. Kita melihat ayat ini menonjol sendiri di dalam seluruh Alkitab. Ayat ini sangat unik, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, peristiwa yang besar atau yang kecil, yang menyenangkan atau yang menyusahkan, pengalaman yang pahit atau manis, yang mematikan atau menghidupkan, yang menguntungkan atau merugikan, mempunyai hubungan satu dengan yang lain, dan Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, atau Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan faedah bagi orang yang mengasihi-Nya.

Untuk menterjemahkan ayat ini saja terdapat begitu banyak versi, sebab begitu banyak
kemungkinan menurut bentuk dari bahasa aslinya. Dikatakan di sini kita tahu bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu; God is working with all things, in everything He works; Allah bekerja di dalam segala sesuatu atau yang diterjemahkan di sini menjadi 'Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu'. Terjemahan bahasa Mandarin: di dalam segala sesuatu ada kekuatan yang bekerja bersama untuk mendatangkan faedah bagi mereka yang mencintai Tuhan. Terjemahan NSV, ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelumnya, bahwa Roh Kuduslah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu yang terjadi, sehingga barangsiapa yang mencintai Tuhan mendapatkan profit dan kebaikan. Terjemahan bahasa Indonesia cukup indah, tetapi istilah turut bekerja kurang mencerminkan Allah sebagai inisiator. Allah Sebagai Inisiator

Because all things work together for good to those who love God. And God is working within all things; Allah ikut bekerja dalam segala sesuatu. Allah bekerja untuk mengatur segala sesuatu. Dia bukan hanya ikut-ikutan bekerja sebagai oknum yang pasif. Dia adalah inisiator yang mengontrol, memonitor dan menguasai sejarah. Allah kita adalah Allah yang memimpin sejarah, Tuhan dari sejarah. Allah kita tidak mungkin membiarkan segala sesuatu terjadi tanpa campur tangan atau izin-Nya. Yang
direncanakan berada dalam kehendak-Nya, yang diizinkan berada dalam kehendak-Nya, yang dibiarkan sekalipun tetap berada dalam kehendak-Nya. Allah memberikan kemungkinan dengan segala kebebasan yang liar, berbuat apapun, tapi akhirnya tetap dikuasai oleh-Nya. Jangan mengira kalau kita mau berbuat apa-apa, maka Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa. Allah membiarkan kita berdosa, membiarkan kita memakai kebebasan kita yang liar, tapi akhirnya kebebasan seperti itupun tidak bisa terlepas dari penghakiman-Nya. Dengan demikian orang Kristen mengetahui bahwa kedaulatan Tuhan berada dan melanda di dalam segala bidang, segala katagori, segala peristiwa dan segala sesuatu. Pemahaman ini akan membuat iman kita menjadi kuat.


Segala Sesuatu Bekerja Sama
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling dalam untuk mengerti segala sesuatu yang terjadi di dalam kosmos mempunyai makna dan telos (Yun: tujuan terakhir, Red) yang sesungguhnya. Allah memberikan segala sesuatu kepada manusia, Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi, dan Dia juga ikut memonitor segala sesuatu di dalam sejarah. Tetapi apakah maksud segala sesuatu? Apakah sebagai peristiwa yang berkeping-keping ataukah sebagai totalitas? Jawabannya, bukan berkeping-keping dan terpecah belah, tetapi merupakan ketotalan. Ada kaitan antar satu peristiwa dan peristiwa lain, sehingga orang Kristen mempunyai pandangan total tentang hidup. Kita menangkap dan mengerti segala sesuatu bukan sebagai peristiwa yang terpisah-pisah oleh waktu, oleh periode sejarah, oleh peristiwa-peristiwa yang bersifat fragmental, melainkan sebagai peristiwa yang total.

Seorang ayah memberikan mainan puzzle yang terdiri dari ribuan keping kepada anaknya. Anak itu bertanya, "Kalau saya sudah menyusunnya, akan menjadi gambar apa?" "Kau akan mendapatkan gambar peta dunia," jawab ayahnya. Si anak mulai menyusun, tetapi alangkah sulitnya menggabungkan potongan-potongan kecil dari peta dunia, karena setiap potongan itu hampir sama: garis, warna sungai,
kota, tempat, hanya itu saja. Anak itu menggabungkan potongan-potongan itu dengan susah payah. Akhirnya sang ayah berkata, "Kalau kaubalikkan semua potongan-potongan kecil itu, kau akan dapat mengerjakannya dengan mudah." Maka si anakpun berusaha membalikkan semua potongan kecil. Akhirnya dia mulai menemukan bahwa apa yang dikerjakan memang gampang. Karena di balik potongan itu terdapat warna yang gampang untuk dicocokkan. Setelah dia menggabungkan semuanya itu, dia menemukan bahwa gambaran yang jadi adalah Yesus kristus. Lalu diberikan lem dan dibalikkan,
ternyata peta dunia sudah jadi. Mengertikah Anda akan maksud saya?

Orang Kristen berbeda dengan orang yang bukan Kristen. Orang Kristen dididik dan diajar dengan kalimat yang agung ini, all things work together for good to those who love God. Ini merupakan pekerjaan Tuhan di belakang layar. Kalau kau memang adalah anak Tuhan yang mengasihi-Nya, tetapi dalam hidupmu terjadi hal-hal yang berlawanan dengan kesejahteraan, kesehatan, dan keinginanmu, jangan kecewa, menangis, dan mengeluh dengan tidak henti-hentinya. Karena kalau kau merasa sulit untuk menyusun semua kepingan-kepingan yang bisa menjadi gambaran total, pasti ada maksud Tuhan yang baik untukmu, pasti semua itu membawa akibat yang baik buatmu. Sampai kapankah iman kita baru bisa menyanyi seperti ini, "Biarlah segala sesuatu terjadi pada diriku, karena semua itu menjadi kebaikan bagiku yang mencintai Tuhan." Sampai kapankah kita bisa mempunyai iman yang teguh, sehingga kita berteriak seperti ini, "Biarlah semua kepahitan, penganiayaan, kesulitan, dan semua yang tidak aku inginkan menimpa diriku, aku tetap memuji Tuhan. Karena di belakang segala kepahitan,penderitaan, kesengsaraan, kerugian ada topangan dari tangan Tuhan, untuk memberikan faedah bagi diriku." Bila kerohanian seseorang sudah mencapai tahap ini, dia akan menjadi stabil luar biasa: biar diancam, diiri, dihantam, difitnah, diumpat, dia tetap tenang dan tersenyum.

Segala sesuatu bekerja bersama? Memang. Allah tidak mencetak peta dunia yang kelebihan satu atau kekurangan satu, sehingga akhirnya menjadi ompong-ompong. Tidak! Karena jikalau kau mengenal kehendak Kristus dan rencana Tuhan yang kekal secara total, maka hidup yang berada di dalam hidupmu dan pengalaman yang terjadi dalam hidupmu tidak ada satupun yang bisa dihapus. Banyak orang Kristen tidak mau digarap oleh Tuhan. Hanya mau sebagian, tidak mau all things. Hanya mau something, not all things. Only something and make you nothing. All things will make you something. Kalau kau tidak rela diatur oleh Tuhan dalam semuanya, kau always become nothing. Tapi bila kau menerima segala sesuatu dengan pengertian, ketaatan yang penuh, dan bijaksana yang dari Tuhan, kau akan dibentuk oleh Tuhan menjadi sesuatu.

Dua ribu dua ratus lima puluh tahun yang lalu Mensius berkata, tian jiang da ren yu shi ren ye, pi xian lao qi jing gu, jo qi fu; jikalau langit memberikan tugas yang berat kepada orang yang tertentu, maka orang itu pasti diberikan kesengsaraan besar, dilatih sampai semua ototnya lelah, dan hatinya penuh kepedihan, barulah dia akan menunaikan tugasnya. Sekali lagi saya menegaskan, tanpa salib tidak ada kebangkitan; tanpa kematian, tidak ada mahkota; tanpa Getsemani, tidak ada kemuliaan. Inilah cara
Tuhan. Pada waktu kita berada di dalam kesulitan, kita berusaha melarikan diri, tetapi Allah menghendaki kita mengalami segala sesuatu yang diizinkan datang melanda kita sebagai kesempatan untuk mendapatkan kemenangan.



Mendatangkan Faedah
Di sini kita melihat ada campur tangan Tuhan Allah di dalam segala sesuatu, dan semua campur tangan Allah mempunyai makna yang khusus: mendatangkan faedah, dan faedah ini khusus diberikan kepada mereka yang mencintai Dia. Mengapa Tuhan memperbolehkan kesengsaraan berada di dalam dunia? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan-kegagalan pribadi terjadi? Mengapa Tuhan tidak menolong pada saat kita sedang dicobai setan, bahkan kadang-kadang memperbolehkan kita berada di
dalam cengkeramannya? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang sulit ini sudah diberikan oleh orang-orang di dunia, baik para filsuf, moralis atau agamawan. Tetapi kecuali kita kembali kepada Kitab Suci, kita tidak mungkin mendapatkan jawaban yang paling tepat untuk hal ini. Mengapa Tuhan memperbolehkan sengsara itu ada? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan itu berada? Jika saya adalah seorang yang mengajar anak saya menyetir mobil, lalu pada waktu kesulitan tiba -- kalau memang dalam jangkauan saya--, saya akan berusaha mengerem, sehingga tidak akan terjadi tabrakan.
Mengapa Tuhan tidak mengerem? Mengapa Dia tidak memberikan interverensi darurat pada waktu kesulitan-kesulitan terjadi? Mengapa Tuhan memperbolehkan segala marabahaya terjadi? Mengapa, mengapa, mengapa? Kita bertanya dan bertanya terus. Sepanjang hidup, manusia adalah satu-satunya makhluk yang tidak habis-habisnya bertanya tentang peristiwa-peristiwa seperti ini.

Mengapa Allah memungkinkan dan membiarkan segala sesuatu terjadi? Martin Luther berkata, "There are no why in the heart of the true believer" ; tidak ada kata "mengapa" di dalam hati orang-orang yang sungguh beriman kepada Tuhan. Karena iman yang sejati sudah mencakup penerimaan dan pengertian bahwa Allah tidak mungkin berbuat salah. Kalau Allah tidak mungkin berbuat salah, maka segala sesuatu yang Ia izinkan terjadi pada diri kita adalah hal yang mempunyai faedah yang luar biasa
meskipun di luar kesanggupan kita untuk mengerti. Pada waktu kepicikan, menderita penyakit, mengalami kesulitan atau disalahmengerti, diserang oleh orang lain; pada waktu kau harus mengalami segala kesusahan yang jauh lebih berat dari kemungkinan yang dapat kau tanggung, jawablah because Thy will is like this, I except all of them
karena kehendak-Mu memang begitu indah. Kehendak Tuhan bukan saja indah di hari di mana kau mengalami kesuksesan, diberi berkat dan hadiah, kehendak Tuhan yang indah termasuk saat-saat kau diizinkan untuk menerima penderitaan dan kesulitan yang besar. Saya bukan pendeta yang berkata kepadamu, "Percaya kepada Tuhan, beri pesembahan sebanyak mungkin, supaya kau mendapatkan curahan berkat dari surga, sehingga menjadi kaya raya." Saya berkata kepadamu, di antaramu ada yang akan diberi kelancaran, kesehatan dan kekayaan, tapi sebagian mungkin akan diberi kecacatan,
kesulitan, dan segala penderitaan. Saya tidak tahu siapa. Tapi iman bukan hanya menyanyi di siang hari, iman juga bisa menyanyi pada waktu malam yang gelap. Iman bukan hanya memuji pada waktu lancar, iman selalu bersyukur di dalam penderitaan.

Mereka yang lancar, yang sukses, yang kaya, stop membanggakan diri, merebut kemuliaan Tuhan Allah dan menghina orang lain. Sedangkan mereka yang menangis, yang menderita dan yang berada di dalam kesengsaraan, yang sedang memikul salib berat, stop hujat Tuhan, stop mencela nama-Nya dan berhenti berbuat dosa dalam usaha untuk menyelesaikan kesulitan itu. Segala sesuatu yang diizinkan Tuhan terjadi di dalam hidup kita ada maksud tertentu yang sekarang terselubung dengan fenomena-fenomena
kesulitan, tetapi ada suatu pencerahan, pada waktu kau masuk ke dalam dirimu yang terdalam untuk menemukan jawaban dari Tuhan.

Pada waktu gereja berada di dalam kesulitan, pada waktu orang Kristen mencucurkan air mata, pada waktu kita mengalami segala kepicikan, jangan lupa bahwa Tuhan sedang menyatakan kemungkinan yang lain di luar dalil dan rumus-rumus umum darimu. Mari kita semua melepaskan diri dari segala kemungkinan yang mengakibatkan kita tercerai berai dari rumus dan pimpinan Tuhan yang dinamis dan begitu indah. Biarlah kita tetap peka dan betul-betul rendah hati dan taat kepada Tuhan setiap saat. Katakanlah, "Tuhan, segala sesuatu yang terjadi telah membawa aku lebih dekat kepada-Mu. Untuk yang baik, saya bersyukur kepada-Mu, bukan karena jasaku yang tidak baik, yang tidak menguntungkan, juga bukan satu hal yang khusus Tuhan pakai untuk menghantam saya, melainkan Tuhan memakainya untuk melatih diriku menjadi lebih baik."

Calvin dan komentator lain seperti F.F. Bruce melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya sebagai latihan buat orang Kristen saja. Namun saya melihat hal lebih luas dari itu, melampaui sekadar pengalaman pahit bagi orang Kristen saja. Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi? Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang seharusnya tidak terjadi? Saya tidak tahu. Tapi saya tahu satu hal, untuk menyempurnakan yang di dalam, perlu memotong bagian bagian
yang di luar; untuk menyempurnakan yang lebih kekal, perlu ajaran yang diberikan pada bagian luar. Kadang-kadang Tuhan harus memotong sesuatu, harus memukul sesuatu, sehingga kerugian yang sementara mengakibatkan kesempurnaan yang kekal. Penderitaan kedagingan mengakibatkan suatu kenikmatan rohani, sehingga kerusakan dan kekurangan secara fenomena dan hal yang terjadi di dunia mengakibatkan kita memikirkan hal yang kekal. Sebuah buku apologetika komunisme untuk melawan kekristenan yang saya baca mengatakan, "Jika orang Kristen mengatakan bahwa orang komunis bersalah banyak membunuh rakyatnya, kita akan membantah dengan berkata, 'Allahmu bersalah membunuh manusia lebih banyak daripada orang-orang komunis.' Satu kali bencana alam, seperti gunung meletus atau badai laut besar, ratusan ribu orang yang tidak bersalah harus dibunuh." Di dalam Kitab Suci kita melihat hal yang paling tidak masuk akal, atau
yang paling tidak bisa kita mengerti adalah peristiwa yang terjadi dalam hidup Ayub. Kesepuluh anaknya mati dalam satu hari, harta benda dirampas dan semua yang dia miliki lenyap dari tangannya. Bukan saja demikian, istrinyapun mulai meninggalkan dia. Hampir tidak ada contoh yang lebih mengerikan, tidak ada malapetaka yang lebih besar, yang bisa kita bayangkan daripada peristiwa yang terjadi pada diri Ayub. Hal tersebut perlu dicatat di dalam Alkitab, sehingga dari zaman ke zaman, waktu manusia bertanya, 'mengapa?' (sebenarnya kita tidak berhak bertanya) dia boleh mencatat
peristiwa Ayub. Alkitab mencatat akhirnya Tuhan mengembalikan semua milik Ayub yang hilang dua kali lipat dari sebelumnya. Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Di dalam iman, kita tidak perlu bertanya, "mengapa?" Jawabannya bukan dari spekulasi kepintaran kita, melainkan dari Kitab Suci: Allah belum pernah berbuat salah. Dan di dalam segala penderitaan, kesulitan dan bahkan kematian yang terjadi pada diri orang-orang yang mencintai Dia, ada rencana dan pemeliharaan yang kekal, yang jauh lebih tinggi daripada fasih lidah kita untuk berdebat, daripada pikiran kita berlogika, dan spekulasi kita dengan jawaban yang tidak sempurna.

Puji Tuhan! Jikalau hidupmu penuh dengan gelombang, pengoyakan, penyaringan, penggeseran, ujian, cobaan, namun akhirnya kau menang. Waktu kau bersaksi, kau tenang. Kalau orang lain sedang mengalami sesuatu, langsung kau bisa mengucapkan kata-kata yang indah yang bisa menenangkan dia. Bila orang lain menceritakan kesulitannya, kau langsung mengeluarkan kata-kata mutiara untuk menghibur dia. Bila ada yang tawar hati, kau langsung mengucapkan kata-kata perjuangan untuk mendorong dia.



Karena Kita Tahu
Jika pada ayat-ayat sebelumnya kita mendapati bahwa kita sebagai buah-buah sulung Roh
Kuduspun turut mengeluh, kita berada di dalam keadaan sengsara, penderitaan dan kesulitan yang tidak berbeda dengan mereka yang belum diselamatkan, yang bukan anak Tuhan. Kita adalah orang-orang yang sama-sama berada di dalam penderitaan tetapi status kita berbeda, karena kita adalah anak-anak Allah. Jika perbedaan status tidak membawa perbedaan kenikmatan, apa pula artinya? Memang hampir tidak ada perbedaan antara orang Kristen dan orang yang bukan Kristen dalam menghadapi kenikmatan
dan kesengsaraan di dalam dunia. Tetapi ada kenikmatan tertentu di dalam pengertian rohani orang percaya yang memberikan kesadaran dan kekuatan untuk melampaui segala sengsara sebagai fenomena yang sementara ini. Pada saat Paulus mengatakan kita tahu, dia sedang mengadakan perbedaan antara orang Kristen dan orang bukan Kristen, yaitu kita orang Kristen --mengetahui bahwa kita mempunyai pengertian yang berbeda dengan orang lain. Meskipun sama-sama berada dalam penderitaan, dalam kesulitan-kesulitan duniawi ini, orang Kristen mempunyai semacam kesadaran dan pengetahuan yang tidak mungkin dimiliki oleh mereka yang belum mengerti akan wahyu dari Tuhan Allah.Orang Kristen yang beriman, yang bervisi dan mempunyai pengertian melalui iman yang mendatangkan visi yang benar itu berani berkata seperti ini, "Karena kita tahu; because we know."Sejarah mencatat bagaimana orang Kristen di abad pertama mengalami pencemooon, penganiayaan, penderitaan dan perlakuan yang tidak adil dari pemerintah dunia yang melawan Yesus Kristus, seperti Herodes dan para kaisar Romawi. Mereka memperlakukan orang Kristen bagaikan sampah dunia, tetapi mereka merasa heran sekali, karena orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan dan penderitaan dapat berdiri dengan tegak, tegar, dan menyanyi di dalam penderitaan.Seorang sejarahwan Yahudi yang bernama Josephus berkata, "Saya tidak bisa mengerti, pada waktu singa menerkam mereka, orang Kristen tetap mempunyai wajah yang tenang, hati yang begitu stabil dan mereka memuji Yesus Kristus. Sebelum mati, suara pujian tidak henti-hentinya keluar dari mulut para martir-martir itu." Jawabannya terdapat di sini: sebab kita tahu; because we know. Iman yang sesungguhnya bukan iman yang tahayul, yang membius otak, yang menginjak-injak logika, melainkan iman yang menggugah pengertian yang sesungguhnya, yang sesuai dengan kebenaran Tuhan. Allah yang mewahyukan kebenaran, adalah juga Dia yang menciptakan otak manusia. Ketika kita menggabungkan kedua hal ini, kita tahu bahwa keduanya hanya mempunyai satu tujuan, yakni supaya kebenaran yang Tuhan wahyukan boleh memimpin pikiran yang dicipta oleh Tuhan yang sama. Begitu banyak kaum cendikiawan, kaum intelektual ketika mengembangkan intelek mereka, mereka tidak memiliki penguasa intelek. Sebab itu, mereka bersandar pada pikiran, otak dan logika mereka sendiri. Maka semakin seseorang memiliki kepintaran, semakin mungkin dia berada di dalam hati yang gelap. Semakin mereka bertumbuh secara pengetahuan, mereka semakin jauh dari kerelaan untuk mematahui kebenaran Tuhan Allah. Sebab itu, iman kepercayaan bukan membunuh logika atau otak melainkan memimpin otak yang Tuhan ciptakan itu untuk kembali kepada firman yang Dia wahyukan. Inilah yang membuat Paulus mencetuskan because we know.

Apakah bedanya penderitaan bagi orang yang beriman dan bagi orang yang tidak beriman? Bagi orang yang beriman, penderitaan akan membuat imannya menghasilkan pengharapan. Namun bagi mereka yang tidak beriman, penderitaan justru membunuh pengharapan mereka. Inilah perbedaan antara orang yang memiliki dinamika iman dan mereka yang tidak memilikinya. Saya mengambil contoh dari dua orang terpidana mati. Mereka menerima vonis yang sama, tinggal di dalam kamar yang sama kondisinya, dan di dalam penjara yang sama. Namun akhirnya salah seorang di antara mereka mendapatkan pengampunan, dan yang seorang lagi tetap dipidana mati. Penjaga penjara datang
memberitahukan kepada A, "Sepuluh hari lagi kau akan dibebaskan." Lalu kepada si B ia mengatakan, "Sepuluh hari lagi kepalamu akan dipenggal." Permisi tanya, apakah bedanya sepuluh hari itu untuk mereka berdua? Mereka tetap berada di dalam keadaan yang sama, hidup di bawah atap yang sama, penjara yang sama, dalam penderitaan yang sama tetapi yang seorang berpikir, "Sepuluh hari lagi aku akan pulang, bertemu dengan istri dan anak yang merindukanku." Sedangkan yang satu lagi berpikir,
"Sepuluh hari lagi saya akan mati, kepala saya akan dipenggal dan dikuburkan." Sepuluh hari lagi memang sama jumlahnya bagi si A dan bagi si B, namun perasaan mereka berbeda. Karena yang seorang sudah memperoleh keyakinan, jaminan, dan pengharapan untuk bebas. Sementara yang lain menantikan eksekusi vonisnya, kepalanya akan dipenggal dan dia akan menuju kepada kematian yang belum dia ketahui. Maka ketika si A menghitung hari-harinya, "Sisa 9 hari, 8 hari, 7 hari, 6 hari, 3 hari,
2 hari dan besok, saya akan keluar dari sini. Istri saya sedang menunggu," pengharapan itu memberikan gairah dan kekuatan yang luar biasa bagi jiwanya. Tetapi bagi yang seorang lagi, setiap matahari terbit merupakan kutukan baginya, dan ketika matahari terbenam merupakan ancaman baginya. "9 hari, 8 hari, 7 hari, 3 hari, 2 hari lagi saya harus mati." Ini melukiskan perbedaan antara orang Kristen dan mereka
yang tidak beriman kepada Tuhan.

Because we know, karena kita tahu. Kalimat ini merupakan proklamasi bagi orang yang beriman kepada Tuhan. Kalimat ini juga diucapkan oleh seorang yang hidup sebelum Musa lahir, yaitu Ayub. Ayub 19:25 menyatakan, "Because I know my redeemer lives; karena aku tahu Penebusku hidup dan satu hari nanti Dia akan berdiri di atas bumi ini untuk menghakimi segala sesuatu, dan di dalam tubuhku aku akan berjumpa dengan-Nya." Pengetahuan yang diutarakan oleh Ayub ini melukiskan pengharapan
yang mempersatukan kekekalan dengan kesementaraan. "Aku mengetahui Tuhanku, Penebusku hidup."Inilah kalimat pertama dalam Alkitab yang mencetuskan iman kepercayaan orang Kristen yang melampaui semua agama. "Karena Penebusku adalah Penebus yang mengalahkan kematian dan bangkit,
sehingga Dia hidup. Aku tahu bahwa Penebusku hidup dan pada hari terakhir, ketika dunia kiamat, Dia akan berdiri di atas bumi ini. Dia akan datang kembali." Pada waktu Ayub menulis ayat yang begitu penting, Kristus belum inkarnasi, belum datang ke dalam dunia, belum mengalahkan pencobaan, belum dipakukan di atas kayu salib, belum dikuburkan, belum dibangkitkan pula dari antara orang mati. Tetapi
Ayub melihat dengan iman akan wahyu yang Tuhan berikan dalam hatinya. Dia mengetahui sedalam-dalamnya bahwa Penebusnya hidup, dan pada hari kiamat nanti Dia akan berdiri di dunia ini untuk mengatasi dan menghakimi seluruh umat manusia.

All things work together, begitu banyak hal yang Tuhan perbolehkan terjadi, pada waktu kita tidak mengerti, jangan kita bersungut-sungut, atau melawan Dia, atau marah kepada-Nya, biarlah orang Kristen belajar bersabar untuk menunggu, serta berkata di dalam hati, Tuhan, apa yang Kau kerjakan lebih besar daripada kemungkinan aku mengerti, biarlah aku bersabar dan hanya taat kepada-Mu saja. Sebab itu saya menghimbau orang kaya jangan menghina orang miskin, orang miskin juga jangan iri
terhadap orang kaya, orang pandai jangan membiarkan diri congkak, dan orang yang kurang pandai juga jangan menghina dirinya sendiri. Karena segala sesuatu yang berada di bawah pengaturan Tuhan akan menjadi baik dan indah jika motivasi kita adalah cinta kepada-Nya. Allah memperbolehkan penderitaan, kesengsaraan, kesulitan menimpa seseorang untuk membuktikan bahwa orang yang mencintai-Nya tidak akan dihancurkan oleh penderitaan. Jika seseorang tetap bersih, tetap setia, tetap mempunyai watak yang anggun dalam penderitaan dan kesengsaraan, maka Tuhan akan berkata kepada setan, "Coba lihat anak-Ku yang satu ini, meskipun diberi penderitaan dan kesengsaraan, ia tetap teguh, tetap jujur, tetap berdiri dengan teguh dan setia kepada-Ku." Penderitaan-penderitaan yang diizinkan oleh Tuhan untuk menimpa diri orang Kristen adalah alat yang paling baik untuk membuat setan undur. Penderitaan-penderitaan besar yang Tuhan berikan adalah yang paling baik bagi kita untuk menyumbat mulut Iblis yang selalu menuduh kita.

Ada 3 pekerjaan setan yang besar, yang dicatat oleh Alkitab:
1. Setan adalah pencoba manusia, yang menggoda manusia berbuat dosa.
2. Setan adalah perintang Allah dalam menghambat terlaksananya rencana-rencana Allah.
3. Setan adalah penuduh orang suci akan dosanya di hadapan Tuhan Allah siang dan malam.

Ketiga hal ini adalah pekerjaan setan yang tidak habis-habisnya. Tuhan memperbolehkan semua ini terjadi, tapi bagi mereka yang mencintai Tuhan, ada jalan keluarnya. Setan menuduh, mencobai dan merintangi, karena itulah pekerjaannya. Mengapa Allah membiarkan setan ini berada? Untuk membuktikan sekalipun setan ada, tetap tidak mungkin menjatuhkan gereja. Sepanjang sejarah, gereja telah diombang-ambingkan, dikacaukan oleh setan. Banyak pemimpin-pemimpin gereja yang tidak
waspada, malah lebih suka bekerja dengan setan, untuk menjadi alat setan, sehingga tubuh dan gereja Yesus Kristus kehilangan kemuliaan yang sesungguhnya.

Dalam Mzm 119, Mazmur yang terpanjang, terdapat beberapa kalimat mengenai sengsara. Dan ada dua ayat yang sangat penting, yaitu ayat 67 dan 71, yang di dalamnya terdapat dua istilah mengenai penderitaan. Pemazmur berkata, "sebelum menderita, aku pernah jalan sesat." (terj. LAI: 'tertindas',Red). Kedua, "penderitaan itu berfaedah bagi diriku." Saya minta engkau memikirkan kedua kalimat itu. Sebelum penderitaan, saya selalu berjalan pada jalan yang sesat, dan di dalam penderitaan, saya mengalami faedah dari Tuhan Allah. Tidak pernah ada sebuah cincin emas yang tidak melewati api.
Tidak pernah ada sebuah berlian yang tidak mengalami asahan dan dibentuk dengan indah. Tidak ada pakaian yang indah yang tidak mengalami digunting dan dijahit dengan jarum yang tajam. Jika emas memerlukan api, sehingga warnanya nyata, berarti pembakaran adalah hal yang sangat diperlukan oleh setiap orang. Jika berlian perlu diasah sampai bisa berbentuk indah, berarti orang Kristen juga memerlukan penderitaan. Demikian juga ketika kain yang indah dipotong oleh gunting yang tajam dan jarum yang menusuk, semua itu membuktikan ketika kita berada di tangan Tuhan, Tuhan memperbolehkan segala penderitaan menimpa diri kita merupakan rencana yang agung untuk kebaikan kita. Puji Tuhan! Mengapa Allah membiarkan setan ada? Jawabannya tetap dari kitab Ayub, di mana Tuhan memegahkan, memuliakan Ayub dan berbantah dengan setan, "Bukankah kau minta kepada-Ku agar hidup Ayub disiksa olehmu? Agar tubuh Ayub diberi sebanyak mungkin penyakit?" Jangan kita
memutlakkan semua penderitaan dan penyakit berasal dari setan. Itu adalah ajaran yang tidak benar. Semua penyakit dan semua penderitaan kalau bukan diizinkan oleh Tuhan, setanpun tidak mungkin memberikannya pada tubuh orang Kristen. Jika Tuhan mengizinkan, meskipun penyakit-penyakit itu menyerang diri kita, orang yang mencintai Tuhan pada akhirnya akan mengalahkan semua itu. "Sekarang lihatlah," kata Tuhan, "bahwa imannya terhadap-Ku tetap teguh." Iman kepercayaan orang Kristen tidak boleh hanya dibangun di atas bahagia dan keuntungan yang Tuhan berikan kepada
kita. Saya percaya hari ini di antara Anda ada yang lancar luar biasa, ada yang sama sekali tidak lancar, ada yang berdagang mati-matian, kerja dengan sesetia mungkin tapi terus tidak mendapat keuntungan, ada yang sepertinya tidak usah bekerja apa-apa, hanya dengan mengangkat telpon saja sudah dapat uang milyaran uang.

Saya tidak mengerti mengapa. Namun saya berkata kepadamu, pada saat ujian, pencobaan,
kesulitan, dan penderitaan menimpa dirimu, janganlah kau cepat-cepat bersungut-sungut kepada Tuhan, karena itulah waktu setan memakai dirimu untuk mencela Tuhan. Saat itu biarlah kau kembali kepada Alkitab, "Sebab aku tahu, segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan faedah bagi mereka yang cinta Tuhan." Dalam kesulitan yang bagaimanapun, peliharalah hatimu yang cinta kepada-Nya, peliharalah pikiranmu yang bersih, peliharalah hatimu yang tidak mau ditinggalkan oleh cinta Tuhan. Peliharalah dirimu di dalam kasih Allah senantiasa. Tegakkan dirimu di atas firman Tuhan yang suci dan yang benar itu, dan berdoalah di dalam Roh Kudus. Sekali lagi saya menjelaskan istilah ini, berdoa di dalam Roh Kudus tidak berarti berdoa di dalam
bahasa Roh, sebagaimana berjalan di dalam Roh tidak berarti berjalan dengan bahasa Roh, melainkan berarti mengikuti pimpinan dan jejak Roh Kudus, sehingga perjalanan hidup sehari-hari kita dipimpin oleh oknum ketiga dari Allah Tritunggal. Dan berdoa dalam Roh berarti seluruh hidup doa kita adalah doa yang dipimpin dalam naungan Roh Kudus. Karena Roh dengan keluh kesah yang tidak terkatakan telah membantu mengoreksi doa kita menjadi doa yang suci dan murni, yang boleh berkenan kepada Tuhan Allah.

Allah Bapa dengan kasih-Nya melindungi kita, Allah Anak dengan firman-Nya mendidik kita, Allah Roh Kudus dengan kebijaksanaan yang melampaui manusia memimpin kita, dan dengan keluh kesah-Nya menolong kita berdoa. Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita, dan kitapun jangan meninggalkan Dia. Jangan kita berusaha keluar daripada tangan Tuhan lalu kita minta dipelihara, itu tidak mungkin. Biarlah kita tetap berada di dalam cinta Tuhan, dan barangsiapa yang mencintai Tuhan mendapatkan faedah. All things work together for good to those who love Him. Siapakah di antara kita yang berkata, "Tuhan, di hari -hari aku lancar aku cinta Kau, di hari-hari aku sehat aku cinta Kau, di hari-hari aku beruntung aku cinta Kau, di hari -hari aku merasa picik dan tidak lancar, di hari-hari aku mengalami penderitaan, kerugian, Tuhan aku mau tetap cinta Kau." Tuhan akan menghapus air matamu untuk melihat bahwa hari depanmu tetap ada penyertaan-Nya, Dia tidak
akan meninggalkanmu. Karena segala sesuatu bekerja sama mendatangkan faedah bagi mereka yang mengasihi Dia.


Sumber: Majalah MOMENTUM No. 26 - April 1995
http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/allahbkr.html



Sabtu, 13 Februari 2010

Bundaku



Bunda… pangkuanmu untukku begitu menghangatkan jiwaku
Engkau selalu mengetahui apabila terjadi sesuatu denganku
Kasih sayangmu kekal dan abadi



Kini… kau begitu tak berdaya didalam pembaringan
Kurawat dirimu dengan segenap hatiku
Nafasmu adalah jiwaku
Kesembuhanmu… kerinduanku


Terurai kata setiap doaku dan memohon kesembuhanmu
Kupercaya… Tangan-Nya selalu menjamahmu dengan kelembutan
Bunda… Bahagia hatiku melihat engkau tersenyum
Doa ananda selalu untukmu.

Happy Valentine Day bunda
Penuh kasih dan sayang untukmu

Tuhan memberkatimu bunda…

Teruntuk my best friends DDW
-Thesa 13022010-


DIA mengetahui yang terbaik untuk kita



Yang terjadi dalam kehidupanmu, Tuhan telah sediakan yang Terbaik untukmu apapun itu bentuknya, jangan pernah meragukan Kasihnya…

Seorang temen share dengan aku, dia mempunyai temen… dahulu kehidupannya hancur, pelan – pelan Tuhan angkat dia dan menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya. Segala rintangan setelah menerima Yesus, kehidupan semakin sulit.. tapi dia membuktikan kepada semua dilingkungannya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan, segala persoalan Tuhan beserta dengan kita, dia tidak pernah mengeluh. Suatu saat dia mengalami kecelakaan, tubuhnya terpotong – potong dengan mesin kayu dikorea, banyak orang terkejut dengan kejadian itu, ada yang bilang kenapa Tuhan tidak menolongnya? Dia kan sudah bertobat, kenapa ??? Sebenarnya… Tuhan bukan tidak menolong, Sebelum kejadian sebenarnya Tuhan mengetahui apa yang akan terjadi, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita semuanya… Kalau Tuhan ingin dia tetap hidup maka Tuhan akan menolong dia. Karena segalanya tiada yang mustahil bagi Tuhan.


Ada kesaksian, Seorang Pemuda pergi dinas keluar kota mengunakan mobil untuk perjalanannya.. Lalu dia hubungi temennya untuk meminta doakan dia dalam perjalanannya, bersama – sama dengan tim komsel mereka berdoa bersama mendoakan dia untuk perjalanannya. Sejam kemudian, didaerah tol jalanannya licin walau dengan kecepatan biasa entah kenapa mobilnya bisa terbalik – balik, sungguh ajaib pertolongan tangan Tuhan untuknya. Pemuda itu selamat tanpa terluka apapun, Dengan kejadian itu… kalau kita berpikir dengan secara logika manusia maka pemuda tersebut akan meninggal tetapi Dengan DOA bersama, Tuhan bersertanya dan menolongnya.

Seorang Ibu mengajarkan anak – anaknya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan orang bisu, tuli, lumpuh, demam, dll… anak – anaknya sangat percaya dengan Yesus bahwa DIA adalah Juru Selamat Kebangkitan yang Hidup, suatu saat anaknya mengalami sakit sangat parah, hari demi hari semakin memburuk. Si Ibu amat gelisah dan sangat takut kehilangan anaknya… Ibu selalu berdoa, dan berkata dia selalu mengajarkan anaknya bahwa Yesus adalah Penyembuh, Ibu meminta kepada Tuhan untuk membuktikan Kepada anaknya bahwa DIA sanggup menyembuhkan. Ketika Ibu hening dan berdiam diri, Tuhan menjawab doanya lewat suara hati, “Tidak ada yang perlu aku buktikan, sekarang kamulah yang harus membuktikan bahwa kamu sungguh – sungguh percaya kepadaKu. Sang Ibu menangis dan malu, meminta maaf kepada Tuhan, karena anaknya sendiri yakin bahwa dia akan sembuh tetapi Ibu sangat gelisah. Perlahan – lahan anaknya pun sembuh. Lihatlah Tuhan sangat mengetahui kita, kita berkata percaya kepadaNya tetapi kita sangat gelisah dan ketakutan… taruhlah kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan didalam hidup kita karena Dia mengetahui yang terbaik untuk kita.

Berdoalah setiap waktu didalam Roh dan berjaga – jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus – putusnya untuk segala orang kudus. (Efesus 6:18) DOA yang setia, dipimpin Roh dan tekun bagi orang lain ini tidak diragukan lagi adalah ciri kehidupan doa YESUS. Menjadi perantara bagi orang lain adalah corak utama kehidupan doa-Nya.


Ada seorang aktivis gereja, dimasa tuanya ia menuai kepahitan, rasa sakit dan penderitaan. Karena dia mengalami kesepian dalam hidupnya akibat tuainya Dia dan anak - anaknya Hidupnya sangat berantakan, pola pikirnya selalu negative, tanpa di sadari sebenarnya dia meragukan kasih Tuhan.

Terkadang masalah dan penderitaan itu datang karena perbuatan kita sendiri, bahkan kita sendiri yang menciptakan neraka dalam hidup kita dan membiarkan iblis menuntun hidup kita sehingga mata kita tidak melihat kebenaran.

Mulai lah kita sekarang perhatikan cara hidup kita, gaya hidup kita, cara kita berbinis, cara kita berkerja, cara kita menjalankan hidup dalam mengambil kesimpulan dan keputusan, cara kita menghabiskan waktu, cara kita melayani Tuhan, apakah semua sudah sesuai dengan kebenaran Tuhan. Andalkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Semangat sahabatku, semuanya itu pasti ada hikmatnya dibalik kejadiaan yang kau alami… jangan menyerah, percayalah semuanya indah pada waktunya… tersenyumlah, walaupun sakit hatimu, karena engkau akan mendapatkan penghiburan yang luar biasa dan tanganNya akan selalu menolongmu.


Teruntuk Dear RB

-Thesa 12022010-

Masa Pra Paskah, Rabu Abu dan Pertobatan


Masa Pra Paska (h) di GKI kini mengikuti jejak gereja-gereja lainnya, yaitu dengan memperingatinya selama enam minggu, atau tepatnya empat puluh hari. Perhitungan ini tidak termasuk hari Minggu, sebab umat Tuhan tidak pernah berpuasa pada hari Minggu. Tiap hari Minggu adalah peringatan hari kebangkitan Tuhan. Dengan demikian, masa Pra Paska berjumlah 6 minggu (6 x 6 = 36 hari) ditambah empat hari. Jadi hari pertama masa Pra Paskah jatuh pada hari Rabu. Inilah yang diperingati sebagai Rabu Abu.

Pada masa-masa yang lalu, GKI merayakan 7 minggu Pra Paskah. Mengapa? Ada dua kemungkinan:

* Karena gereja kita tidak pernah merayakan Rabu Abu, sehingga perayaan hari pertama ini digeser ke hari Minggu sebelumnya, lalu dianggap sebagai minggu “Pra-Paskah Pertama.” Jumlah minggu Pra Paskah pun menjadi tujuh.

* sejarah gereja, pernah muncul tradisi di mana seminggu sebelum memasuki masa Pra Paskah, diadakan “Persiapan Pra Paskah.” Kebiasaan ini sudah lama dihilangkan, karena masa Pra Paskah sendiri sebenarnya adalah masa persiapan. Aneh jika kita harus mempersiapkan diri untuk masa persiapan.

Apapun penyebabnya, selama ini GKI telah memiliki kebiasaan menghayati masa Pra Paskah yang tidak tepat. Ini bukan soal pilihan atau selera, namun soal perlunya meluruskan kembali tradisi yang tidak memiliki dasar teologis/liturgis. Itulah sebabnya Persidangan Majelis Sinode GKI tahun lalu telah menetapkan perlunya kita memperbaiki kesalahan ini, dengan menetapkan bahwa masa Pra Paskah akan kita hayati selama enam minggu.

O, ya, masih ada satu lagi hal yang mengganjal. Terkadang orang berkata, masa Pra Paskah itu sama dengan minggu-minggu Sengsara. Padahal tidak. Minggu Sengsara jatuh pada hari Minggu terakhir sebelum Hari Paskah. Sedangkan minggu-minggu sebelumnya disebut sebagai minggu-minggu Pra Paskah. Mengapa? Karena kita baru memperingati kesengsaraan Kristus seminggu sebelum Ia disalib, tepatnya mulai saat Ia memasuki Yerusalem dan disambut dengan lambaian daun palma. Itulah sebabnya hari Minggu sebelum Paskah itu disebut juga dengan Minggu Palma.

Paskah Kristiani berasal dari Paskah Yahudi. Pada zaman Perjanjian Lama, Paskah merupakan peringatan keluarnya bangsa Israel dari Mesir setelah setiap rumah mengorbankan seekor anak domba dan menyapukan darahnya ke ambang pintu masing-masing. Dalam tradisi Israel, Paskah didahului oleh 40 hari masa persiapan yang dimulai dengan Hari Penebusan (Yom Kippur) dan melambangkan 40 tahun perjalanan Israel di padang gurun. Perayaan Paskah Kristiani mengikuti pola Paskah Yahudi, sebab kita pun mengenal Anak Domba Paskah yang dikorbankan, yaitu Yesus Kristus. Bagi kita, makna 40 hari ini dihubungkan dengan masa persiapan Yesus menghadapi pelayanan-Nya, dengan berpuasa 40 hari lamanya di padang gurun.

Seperti dijelaskan di atas, Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra Paskah (Lent). Lent adalah masa pertobatan, pemeriksaan batin dan berpantang guna mempersiapkan diri bagi Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita. Pada tahun ini Rabu Abu jatuh pada tanggal 25 Februari yang akan datang.

Pada hari Rabu Abu, umat yang datang ke gereja Katolik Roma diberi tanda salib dari abu di dahinya sebagai simbol untuk mengingatkan pada ritual Israel kuno ketika seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan. Abu yang dipergunakan berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya, dan telah dibakar.

Bapa Pius Parsch, dalam bukunya “The Church’s Year of Grace” menyatakan bahwa “Rabu Abu Pertama” terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu” (Kej. 3:19) atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.

Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6). Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13). Di dalam Mazmur 102:10, penyesalan juga digambarkan dengan “memakan abu”: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.”

Umat Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan dan keterbatasan manusia. Tanda abu pada dahi mendorong umat untuk bertobat, sekaligus sebagai tanda akan ketidakabadian dunia dan tanda bahwa satu-satunya keselamatan ialah dari Tuhan, Allah kita. Pada hari tersebut, umat Katolik berusia 18-59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali, dan berpantang.

Jemaat Kristen Protestan memeringati hari Rabu Abu tanpa pembubuhan abu di dahi. Tradisi puasa umat Protestan juga bukan sekedar ibadah yang “ikut-ikutan” dengan saudara-saudara kita umat Katolik atau agama lainnya. Kita melaksanakan puasa karena sesungguhnya puasa dipakai oleh Tuhan untuk melatih rohani kita agar spiritualitas kita semakin terbuka untuk menghayati pertobatan sebagai sikap hidup. Pertobatan yang dimaksud adalah agar kehidupan kita makin berkenan di hati Tuhan dan setia memelihara kekudusan hidup. Itulah sebabnya makna pertobatan bukan terletak pada upacara lahiriah dan kebiasaan keagamaan, melainkan pada pertobatan hati. Yoel 2:13 berkata: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu”. Jadi yang dikehendaki oleh Tuhan dalam ibadah puasa adalah “hati yang mau dikoyakkan” sehingga kita dengan sungguh-sungguh menyesali semua kesalahan dan dosa kita. Kita diajak untuk mengalami kasih dan pengampunan Allah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Yahweh adalah Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya (ayat 13b).

Di sisi lain, nabi Yoel menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas hidup manusia. Itulah sebabnya Yoel 2:14 diawali dengan perkataan “siapa tahu….” Dengan demikian, pada hakikatnya Allah senantiasa bertindak berdasarkan keputusan dan kehendak-Nya yang berdaulat, dan tak seorang pun dapat mengendalikan atau mengatur kehendak Allah dengan berbagai doa dan puasanya. Karena itu, pada saat kita berpuasa, kita tidak boleh memiliki motivasi lain kecuali mau merendahkan diri secara total di hadapan Allah. Melalui puasa, kita ingin mengekspresikan sikap pertobatan kita dalam perbuatan, bukan sekedar rangkaian kata-kata yang saleh. Nabi Yoel mengajak umat Israel untuk bertobat dengan melakukan puasa yang kudus (Yoel 2:15).

Wujud dari puasa yang kudus tersebut tidak hanya tertuju kepada pribadi atau perseorangan tertentu, tetapi melibatkan seluruh elemen atau seluruh tingkat usia dan berbagai generasi umat Allah (Yoel 2:16-17). Mereka semua dipanggil untuk menangis di antara balai depan dan mezbah sambil berkata: “Sayangilah, ya Tuhan umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka” (Yoel 2:17). Jadi pertobatan yang dituntut oleh Allah bukan hanya ditujukan secara individual belaka, tetapi juga suatu pertobatan yang bersifat komunal, yaitu pertobatan sebagai umat Allah (kahal Yahweh). Itulah sebabnya tindakan puasa sebagai wujud dari pertobatan umat diungkapkan oleh nabi Yoel dalam bentuk perintah (imperatif), yaitu: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16).

Sering kali makna puasa hanya dihayati sebagai bentuk kesalehan pribadi. Padahal Tuhan menghendaki agar kita selaku pribadi dan selaku persekutuan umat konsisten dalam memberlakukan kekudusan hidup. Itulah sebabnya sejak dahulu, selama masa Pra Paskah, gereja-gereja Tuhan senantiasa memotivasi dan memberlakukan puasa kepada seluruh anggota jemaat agar mereka, selaku persekutuan yang telah ditebus oleh Kristus, sungguh-sungguh mau setia untuk memelihara hidup kudus dengan sikap bertobat. Kita sungguh-sungguh berdamai dengan Allah yang akan memampukan kita untuk berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan sesama.

Saat kita berpuasa juga dapat kita pakai sebagai media untuk melatih dan mempertajam spiritualitas dan iman yang kita miliki, sehingga setelah berpuasa, kita mengalami perubahan hidup dan menjadi lebih arif dalam menghadapi berbagai persoalan dan pergumulan yang terjadi. Hasil dari puasa adalah kemampuan spiritual untuk mengendalikan diri kita dengan lebih optimal, serta penuh kasih dan pengampunan kepada sesama. Karena itu menegakkan kekudusan Allah tidak dapat dibenarkan dengan penggunaan cara-cara kekerasan, sebab setiap cara penggunaan kekerasan selalu bertentangan dengan kasih dan pengampunan-Nya.

Selain itu dalam menghayati sikap pertobatan, kita tidak boleh melakukan puasa secara demonstratif sehingga orang banyak mengetahui dan memberi pujian kepada kita, sebab makna pertobatan yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus adalah “spiritualitas yang tersembunyi,” yaitu sikap rohani yang tidak mencari nama, pujian atau penghargaan manusia. Di dalam Mat. 6:1 Tuhan Yesus berkata: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.” Allah sebagai Bapa hanya melihat yang tersembunyi (Mat. 6:4). Ia hanya peduli kepada umat-Nya yang sungguh-sungguh merendahkan diri dan bertobat secara tulus serta mengasihi-Nya tanpa syarat. Karena itu makna pertobatan adalah sikap hati yang mau berubah di hadapan Allah, dan perubahan hidup itu dapat dirasakan oleh setiap orang di sekitarnya.

Salah satu bentuk pertobatan adalah sikap yang tidak terbelenggu oleh harta, kekayaan dan uang. Itulah sebabnya di dalam Mat. 6:19, Tuhan Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; sebab di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” Orang yang bertobat pada hakikatnya menyatakan bahwa hidupnya sepenuhnya milik Allah dan tidak lagi dimiliki oleh kuasa lain. Sebaliknya orang yang tidak bertobat, walau secara ritual telah banyak berdoa dan berpuasa, masih tetap dimiliki dan dibelenggu oleh kuasa dunia ini. Bagi mereka, makna puasa hanya dihayati sebagai “diet” terhadap makanan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Selama masa puasa mungkin mereka mampu menolak setiap makanan yang ada di depannya, tetapi mereka menjadi sangat serakah setelah puasa selesai. Juga mereka mungkin sangat taat untuk tidak menyentuh setiap makanan selama masa berpuasa, tetapi tak lama kemudian mereka merebut secara sewenang-wenang dengan tipu daya setiap “makanan” yang dimiliki oleh sesamanya. Dalam hal ini mereka berpuasa bukan karena mereka bertobat dan menyesali semua kesalahan atau dosanya, tetapi melakukannya agar dapat memperoleh pahala dari Tuhan dan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya diampuni. Padahal sesungguhnya, jiwa dan roh mereka masih terikat oleh kuasa Mammon.

Bukankah kita menyadari betapa sulitnya bagi kita untuk melepaskan diri dari kuasa Mammon? Tuhan Yesus berkata: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Selaku umat percaya kita dipanggil oleh Tuhan agar kita berpuasa untuk melawan kuasa Mammon. Makna puasa dalam pengertian ini ialah melawan segala bentuk nafsu konsumerisme dan dorongan materialisme, sehingga hidup kita tertuju hanya untuk mempermuliakan nama-Nya.

Sampai sejauh mana kita telah mempraktikkan spiritualitas yang bebas dari keterikatan dengan harta milik dan kuasa Mammon? Sebenarnya ketika kita mampu melepaskan diri dari keterikatan itu, kita telah mempraktikkan puasa dalam pengertian yang sesungguhnya. Mungkin kita tidak pernah “diet” makanan selama masa berpuasa, tetapi sesungguhnya jiwa dan roh kita telah berpuasa, sebab terbukti kita telah mampu menolak segala keinginan dan hawa nafsu dunia ini.

Jadi bagaimanakah sikap hidup kita saat ini? Apakah kita semakin menghayati makna hari Rabu Abu sebagai sikap pertobatan agar hidup kita tidak lagi dibelenggu oleh kuasa dunia ini dan mau memberlakukan kasih dan pengampunan Allah secara nyata kepada setiap orang? Apakah spiritualitas kita semakin jernih sehingga dengan penuh empati kita dapat merasakan kebutuhan orang-orang yang menderita dan kelaparan?
(Diambil dari Wikipedia; Denmas Marto: Renungan Malam-Maret 2003; Pdt. Yohanes Bambang Mulyono: Makna Puasa Sebagai Pertobatan-6 Februari 2008)

sumber : http://gkipi.org/masa-pra-paskah-rabu-abu-dan-pertobatan/

Sahabat Sejati


Sahabat adalah orang terdekat dalam kehidupan kita yang selalu siap menjadi good listener, menghibur, menguatkan, memberikan pertolongan saat dia membutuhkan dalam suka dan duka. Sebagai orang percaya, kita patut bersyukur karena kita beroleh hak istimewa yaitu sebagai sahabat YESUS. YESUS adalah sahabat sejati.

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang telah diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah memberitahukan kepada sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu.” (Yohanes 15:15)

Yesus mengajarkan kepada kita semuanya, arti sebuah persahabatan dengan ketulusan hati dan keikhlasan hati seperti seorang saudara … menerima dalam keadaan apapun… semuanya dilakukan dengan kasih dan tanpa pamrih. Ini adalah suatu anugerah yang sangat besar! Seperti kita bersahabat dengan YESUS,


kita semua beroleh kasih SetiaNya. Dimana ada persahatan, disitu pasti ada kasih, karena “Di mana ada persahabatan, di situ pasti ada kasih, karena… “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17-17) dan kasih setia Yesus tidak pernah berkesudahan disegala situasi dan keadaan. KasihNya yang besar telah DIA buktikan melalui kematianNya diatas kayu salib.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat – sahabatnya.” (Yohanes 15:13)


Dan bila saat ini kita sedang dalam pergumulan yang berat, jangan patah arang… Datanglah kepada YESUS karena tanganNya selalu terbuka untuk menyambut kita…
YESUS LOVE YOU

kita diberitahu rahasia – rahasiaNya dan beroleh kepercayaan dariNya… Jangan bertanya kenapa… tapi bersyukur selalu… Tidak ada rahasia diantara sahabat, semuanya pasti diungkapkan. Bahkan Tuhan memberinya sebuah kepercayaan dan tanggung jawab yang besar…

Doaku selalu menyertaimu sahabatku….


-Thesa 10022010-




Tersenyumlah


Malam begitu larut, tangisanmu DIA hapuskan…
Kini bangkitlah jiwamu, menyambut sang surya pagi hari
Jadilah seperti lilin, terangnya menyinari untuk setiap ruangan
Sebuah ketulusan hati…


Kasih yang menerima apa adanya dia
Bapa mengerti hatimu…
Melihat setiap sisi hatimu.

Keikhlasan…
Kerelaan…
Penerimaan…
Kau akan mendapatkan suatu kedamaian.

Bila kau selalu mengunakan
Pola pikiran dan perasaan dalam jiwamu
Itu akan selalu membuatmu sakit

Belajarlah cara berpikir
Dari sudut pandang BAPA
Maka DIA-lah yang akan bekerja

Tersenyumlah…
DIA akan memberikan Tangan-Nya untukmu.



Dear : My Sisters LS

-Thesa 03 Feb'10-